Prabu Rahyang Kuning
Rahyang Kuning atau Hariang Kuning menggantikan Sanghyang Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat kesalahpahaman dengan adindanya yang bernama Rahyang Kancana sempat terjadi perseteruan yang akhir-akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari Cilimus. Rahyang Kuning belakang mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana.
Menurut Babad Panjalu, perselisihan ini dikenal dengan peristiwa Ranca Beureum. Peristiwa ini terjadi sewaktu Prabu Rahyang Kuning ingat-ingat menguras cairan Situ Lengkong untuk diambil ikannya (Sunda:ngabedahkeun). Rahyang Kuning mengutus patih kerajaan untuk menjemput sang ayah Sanghyang Borosngora di Jampang Manggung supaya menghadiri cara itu. Namun karena Sanghyang Borosngora berhalangan, maka dia menunjuk Rahyang Kancana untuk menukar sang ayah menghadiri cara tersebut.
Berhubung hari yang telah ditentukan untuk perayaan itu semakin akrab, Rahyang Kuning memerintahkan para hambanya untuk mulai membobol Situ Lengkong sambil menunggu kedatangan ayahnya, cairan pembuangannya dialirkan melalui daerah jalan Sriwinangun sekarang. Sang Prabu turun langsung memimpin para hamba dan rakyatnya berbasah-basahan di tengah cuaca dingin di pagi buta itu. Untuk sekedar menghangatkan badan, Rahyang Kuning menyalakan api unggun sambil berdiang menghangatkan telapak tangannya menghadap ke arah barat.
Pada saat yang bersamaan dari arah barat, sang adinda Rahyang Kancana bersama rombongan pasukan pengawalnya tiba di sekitar daerah Sriwinangun yang akan dilewati dan terkejut mendapati Situ Lengkong telah mulai dikeringkan tanpa menunggu kedatangannya sebagai wakil sang ayah. Rahyang Kancana yang tersinggung lalu membendung arus pembuangan cairan itu dengan terburu-buru. Kesudahannya meskipun sudah dibendung, tetapi tempat itu sedang dipenuhi rembesan cairan dan gundukan tanah tak memakai aturan sehingga sampai sekarang tempat itu dikenal dengan nama Cibutut (Bhs. Sunda: butut berfaedah jelek).
Rahyang Kuning yang tengah menghangatkan telapak tangannya menghadapi api unggun terkejut melihat kedatangan Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya yang dipenuhi emosi. Sebaliknya Rahyang Kancana mengira kakaknya itu sedang menunggu untuk menantangnya adu kesaktian karena dia telah membendung cairan Situ Lengkong supaya tidak kering. Singkat kisah, akibat kesalahpahaman tersebut terjadilah duel pertarungan selang Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya melawan Rahyang Kuning bersama pasukan pengawal kerajaan, akibat pertempuran itu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, kesudahannya sebuah ranca (rawa atau danau dangkal) cairannya menjadi berwarna merah oleh genangan darah sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Ranca Beureum (Bhs. Sunda: beureum berfaedah merah).
Perang saudara ini baru akhir-akhirnya setelah didamaikan oleh Guru Aji Kampuhjaya, ulama kerajaan yang sangat dihormati sekaligus sahabat Prabu Sanghyang Borosngora. Rahyang Kuning yang menyesal karena telah menimbulkan perselisihan tersebut menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana dan melepaskan kaprabon lalu mengembara ke wilayah selatan Galuh.
Rahyang Kuning di yang belakang sekali hayatnya menjadi Raja di Kawasen (Ciamis Selatan), jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar