Putra cikalnya yaitu Hariang Sancang Kuning memainkan napak tilas perjalanan mendiang ayahnya ke Pajajaran Girang dan Tengah, belakang ke Singacala (Panjalu). Dia wafat dan dimakamkan di Cibungur, selatan Panjalu. Salah seorang keturunannya yang terkenal yaitu Raden Alit atau Haji Prawata Sari yang gigih menentang penjajah Belanda. Dia dikenal sebagai pemberontak yang sangat ditakuti berjuluk "Karaman Jawa". Sedangkan adinda Sancang Kuning yakni Pangeran Hariang Kancana menjadi Raja muda Singacala belakang hijrah ke Panjalu, setelah wafat dia dimakamkan di Giri Wanakusumah, Situ Panjalu.
Pertemuan para raja di Gunung Rompang
Pada suatu masa beberapa orang raja dan raja muda dari bekas kawasan Pajajaran tengah dan Pajajaran girang yang mencakup wilayah Cianjur, Sukabumi dan sekitarnya bersama-sama menjadi satu kumpulan di puncak gunung yang biasa dipakai sebagai lokasi musyawarah oleh para raja dan raja muda yaitu di Gunung Rompang (dalam bhs. Sunda istilah rompang menunjukan hal berada senjata pedang, golok atau pisau yang sudah retak bergerigi karena terlalu sering dipakai). Dinamai Gunung Rompang karena pada masa yang belakang sekali berdirinya kerajaan Sunda Pajajaran setelah melewati perang selama 50 tahun, senjata para prajurit Pajajaran telah menjadi rompang karena dipakai bertempur terus-menerus.
Lokasi ini dikenal juga sebagai "Karamat Pasamoan", adapun tokoh-tokoh yang aci pada pertemuan itu adalah :
1. Syeikh Dalem Haji Sepuh Sang Prabu Jampang Manggung yang berasal dari negeri Singacala (Panjalu) bawahan Galuh, di tanah Pajampangan dia dikenal dengan beragam julukan yaitu sebagai Syeikh Haji Mulya, Syeikh Haji Sholeh, dan Syeikh Aulia Mantili.
2. Kanjeng Aria Wira Tanu Cikundul atau Pangeran Jaya Lalana, bergelar Raden Ngabehi Jaya Sasana, Pangeran Panji Nata Kusumah.
3. Raden Sanghyang Panaitan atau Raden Widaya bergelar Pangerang Rangga Sinom di Sedang, Kanjeng Raja muda Sukawayana.
4. Raden Raja muda Lumaju Gede Nyilih Nagara di Cimapag.
5. Kanjeng Kyai Aria Wangsa Merta dari Tarekolot, Cikartanagara.
6. Kanjeng Dalem Nala Merta dari Cipamingkis.
7. Pangeran Hyang Jaya Loka dari Cidamar.
8. Pangeran Hyang Jatuna dari Kadipaten Kandang Wesi.
9. Pangeran Hyang Krutu Wana dari Parakan Tiga.
10. Pangeran Hyang Manda Mulia dari Sancang.
Tujuan pertemuan para raja ini yaitu untuk membahas hasrat para raja dan raja muda untuk menjalin kerjasama yang lebih erat terutama dalam usaha menangkal agresi musuh dari luar. Untuk itu dibutuhkan mempunyainya seorang pemimpin yang tangguh, pemimpin yang memegang tangkai, yang disebut sebagai Raja Gagang (Raja pemegang tangkai). Prabu Jampang Manggung mengusulkan supaya Aria Wira Tanu Dalem Cikundul yang dituding sebagai Raja Gagang, dan usul ini diterima oleh semua tokoh yang aci.
Akhirnya, setelah menjalankan Salat Jum'ah yang bertepatan dengan bulan purnama Rabiul Awal 1076 H atau 2 September 1655 berdiri negeri Cianjur yang yaitu negeri merdeka dan berdaulat, tidak tunduk kepada Kompeni, Mataram maupun Banten, hanya tunduk kepada Allah SWT. Negeri ini dipimpin oleh Aria Wira Tanu, Dalem Cikundul sebagai Raja Gagang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar