Senin, 04 Oktober 2021

silat cikalongan

---------- Forwarded message ----------
From: Wahyudi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/9/14
Subject: Cikalong ... Re: [kisunda] SILAT SUNDA - Rujukan
To: kisunda@yahoogroups.com, [EMAIL PROTECTED]
*Cikalong - Sejarah*

Berbeda dengan Cimande, sejarah Cikalong cukup gampang ditelusuri. Ini
disebabkan karena Cikalong sendiri dikembangkan di keluarga "Menak" (Menak =
Bangsawan Sunda), yang dalam hal ini memiliki kelebihan dalam budaya tulis
(bukan hanya budaya lisan), sehingga "sejarah" betul-betul bernilai sejarah
(tanpa keraguan) karena ada bukti-bukti tertulisnya.

Maenpo Cikalong pertama kali dikembangkan dan diajarkan oleh Rd.
Djajaperbata (Cikundul - Cikalong Kulon) yang setelah menunaikan ibadah haji
berganti nama menjadi Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Beliau adalah anak dari
Rd. Radjadiredja dan cucu dari Aria Cikalong. (Masih ingat Aria Cikalong?
Aria Cikalong adalah anak dari Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI. Aria
Cikalong berguru Maenpo Cimande langsung ke Abah Khaer dan dianggap salah
satu murid terbaik Abah Khaer. Lihat sejarah Maenpo Cimande Versi 3).

Selain belajar Cimande dari keluarganya, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata muda
juga berguru kepada kakak iparnya, yaitu Rd. Ateng Alimudin (tinggal di
Jatinegara), anak Rd. H. Tubagus Kosim yang merupakan keturunan ke-13 dari
Sultan Hasanudin Banten.

Rd. Ateng Alimudin sendiri menguasai "Maenpo Cimande aliran Kampung Baru"
dan juga maenpo dari daerah asalnya, Banten. Beliau saat itu menjadi
terkenal karena berhasil menangkap seorang bandit yang sangat ditakuti di
Batavia, Bapak Beka.

Setelah dianggap cukup, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata berguru kepada Bang
Ma'ruf yang merupakan karib dari Rd. Ateng Alimudin. Bang Ma'ruf sendiri
tinggal di Kampung Karet - Tanah Abang. Aliran silat Bang Ma'ruf sendiri
tidak diketahui.

Karakter Rd. H. Ibrahim digambarkan sebagai orang dengan kemauan keras dan
sangat jujur. Beliau tidak gampang puas dengan hasil latihannya dan juga
selalu berlatih dengan "rasa". (Rasa di sini adalah rasa dalam bahasa Sunda,
yang kalau dalam bahasa Indonesia berarti "dengan sepenuh hati", "dengan
konsentrasi tinggi", atau "tidak sambil bermain-main").



*Bertemu dengan Bang Madi*

Setelah berguru Bang Ma'ruf, Rd. H. Ibrahim berguru ke Bang Madi. Pertemuan
antara Guru dan Murid sendiri berlangsung secara tidak terduga. Untuk
pertemuan ini, di beberapa komunitas Maenpo di Sunda lagi-lagi ada beberapa
versi. Saya akan ceritakan beberapa versi yang ada, dan nanti kita tanya *
Kisawung* sebagai pewaris sejati Maenpo Cikalong, versi mana yang diakui
oleh keluarga besar Maenpo Cikalong. Gimana, sepakat?!

*Versi 1. Pertemuan dengan Bang Madi*
Menurut versi ini, Bang Ma'ruf dan Bang Madi adalah tetangga dan juga rekan
dalam berjualan kuda. Di masa itu berjualan kuda adalah sebuah pekerjaan
yang terhormat dan juga sangat menguntungkan. Asal dari Bang Madi sendiri
diketahui sebagai orang asli Batavia (Pernyataan Bang Madi ketika berdialog
dengan Rd. H. Ibrahim).

Suatu hari, ketika Rd. H. Ibrahim lagi berlatih Maenpo bersama Bang Ma'ruf,
datanglah Bang Madi karena suatu urusan. Dan karena Bang Ma'ruf menganggap
Bang Madi adalah sobat dekatnya, maka latihanpun tidak dihentikan. Mereka
berlatih sampai beres. Besoknya, Rd. H. Ibrahim pun bertanya ke Bang
Ma'ruf... siapa orang yang tadi malam menonton latihan? Dan Bang Ma'ruf
menjelaskan bahwa itu adalah Bang Madi, rekannya dalam berjualan kuda.
Kebetulan saat itu Rd. H. Ibrahim memang membutuhkan kuda dalam jumlah yang
cukup banyak untuk dibawa ke Cianjur, akhirnya beberapa hari kemudian
beliaupun menemui Bang Madi di rumahnya.

Ketika bertamu itulah Bang Madi memuji Maenponya Rd. H. Ibrahim, dan Rd. H.
Ibrahim pun menjadi heran dan sangat tertarik, karena pujian Bang Madi bukan
asal ngomong, melainkan juga sedikit menyinggung soal tehnik. Walaupun
begitu beliau belum betul-betul menyadari kalau Bang Madi adalah seorang
jawara. Dengan sedikit memaksa akhirnya Rd. H. Ibrahim berhasil mengajak
Bang Madi untuk mengadu tangan (*"nempelkeun leungeun"* = istilah Maenpo
dahulu untuk mengadu jurus).

Bang Madi menyanggupinya dan bertanya, siapa yang akan mengambil kuda-kuda
duluan ("mengambil kuda-kuda" berarti di sini posisi bertahan, berkuda-kuda
siap untuk diserang). Rd. H. Ibrahim meminta Bang Madi untuk mengambil
kuda-kuda, dan Bang Madi pun mengambil kuda-kuda sambil berkata:"Silakan
Raden, inilah kuda-kuda *Macan Turun dari Udik*". Rd. H. Ibrahim pun
menyerang dengan cepat, tetapi dengan mudah serangannya bisa diblok dan
diapun bisa dibanting sampai jatuh berguling-guling.

Rd. H. Ibrahim mulai menyadari keahlian Bang Madi, dan akhirnya dia meminta
Bang Madi yang menyerang dan dia yang mengambil kuda-kuda. Setelah Rd. H.
Ibrahim mengambil kuda-kuda, secepat itu juga Bang Madi sudah menyerang dan
menyebabkan Rd. H. Ibrahim jatuh terjengkang.

Begitu terus berulang-ulang, silih berganti saling menyerang dan mengambil
kuda-kuda. Sampai Rd. H. Ibrahim sendiri kehabisan tenaga dan berkata:"Saya
mengaku kalah dan mulai saat ini mengakui Abang sebagai Guru".

*Cat: Macan Turun dari Udik*
Di kalangan Maenpo Peupeuhan "Adung Rais", yang merupakan salah satu
"aliran" dari Cikalong, perkataan Bang Madi ini sangat terkenal. Kuda-kuda
"Macan Turun dari Udik" sebenarnya adalah sebuah kuda-kuda dasar, tetapi
yang dianggap penting di sini adalah makna dari perkataan itu sendiri, bahwa
Bang Madi sebenarnya berasal dari daerah pegunungan sekitar Batavia.



*Versi 2. Pertemuan dengan Bang Madi*

Sebenarnya, apa yang berbeda dari versi pertama dan kedua adalah proses
pertemuan itu sendiri, hal-hal lainnya relatif sama. Menurut versi ini pun
Bang Madi adalah kawan Bang Ma'ruf, dan sama-sama berdagang kuda. Tetapi di
versi kedua ini disebutkan bahwa salah satu keahlian Bang Madi adalah
menundukkan kuda-kuda yang masih liar. Hal itulah yang mengawali pertemuan
Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Di versi kedua ini tidak
disebutkan kalau Bang Madi pernah melihat Bang Ma'ruf sedang melatih Maenpo
ke Rd. H. Ibrahim.

Pertemuan Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim diawali ketika Rd. H. Ibrahim
membeli seekor kuda eropa yang sangat besar, sedikit liar dan membutuhkan
penggantian tapal kuda yang baru (tapal = sepatu, terbuat dari logam).
Akhirnya Rd. H. Ibrahim membawanya ke Bang Madi yang memang ahli menangani
kuda yang agak liar. Bang Madi menyanggupi ketika Rd. H. Ibrahim datang dan
memintanya mengganti tapal kuda, dengan tenang dia mengganti tapal kuda...
tetapi tiba-tiba ketika lagi membuka tapal yang lama, kuda itu menendang
sehingga membahayakan jiwa Bang Madi. Bang Madi dengan refleks dan rileksnya
menangkis yang mengakibatkan kaki kuda itu patah.

Apa yang terjadi itu bukannya membuat Rd. H. Ibrahim marah, tetapi kagum dan
penasaran. Dia tidak menyangka sama sekali dengan perawakan yang kecil dan
terlihat lemah Bang Madi bisa melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak yakin
bisa melakukannya. Dari sini kisahnya sama seperti yang terjadi di versi
pertama ketika Rd. H. Ibrahim mencoba mengadu jurus dengan Bang Madi.

*Apa ciri khas "ulin" Madi?*
Ciri khas ulin Madi sendiri adalah tenang, lembut dan *"ngaheurinan
lawan"*(ngaheurinan lawan = membuat ruang gerak lawan menjadi
terbatas). Tenang dan
lembut tidak berarti gerakan menjadi lambat dan tidak bertenaga, dan
*"ngaheurinan
lawan"* adalah sebuah strategi tempur dimana tenaga lawan dimanfaatkan dan
dikembalikan kepada lawan. Ulin Madi lebih berkarakter bertahan (tidak
agresif) dan mengandalkan counter attact dengan jurus yang tepat dan moment
yang tepat, dan dilakukan dalam jarak dekat seakan-akan menempel kepada
lawan.

Di kalangan Maenpo Cikalong tehnik ini digambarkan dengan tiga kata, yaitu:
*"puhu tanaga"*, *"puhu gerak"* dan *"bendungan"*.

1. puhu tanaga berarti mengerti dan mengetahui asal kekuatan suatu gerakan.
(puhu = pusat, tanaga = tenaga).
2. puhu gerak berarti mengerti dan mengetahui awal dari gerakan dan bagian
mana dari tubuh yang mempengaruhinya. (puhu = pusat, gerak = gerak).
3. Bendungan adalah tehnik "membendung" serangan lawan tanpa kehilangan
posisi dan kuda-kuda kita sendiri (tidak mundur, lebih banyak maju dan
menghindar ke samping walaupun tidak ekstrem, dalam artian menghindar bukan
depan loncatan, tetapi langkah pendek ke samping).

Dalam aplikasinya, ketika kita sudah menguasai prinsip-prinsip di atas, kita
bisa merasakan pergerakan lawan ketika tangan ditempelkan atau bahkan ketika
lawan bergerak walaupun tangan kita tidak menempel (jarak dengan lawan satu
lengan). Hal-hal inilah yang nantinya menjadi salah satu aliran di Maenpo
Cikalong yang disebut *Maenpo Ulin Tapel* (Permainan Menempel) dan *Maenpo
Ulin Tangtung* (permainan jarak satu "tangtungan", tangtung = berdiri).



*Berguru Ke Bang Kari*

Setelah dianggap sudah mewarisi seluruh ilmu Bang Madi, Rd. H. Ibrahim atas
saran dari Rd. Ateng Alimudin dan Bang Madi pergi untuk menemui dan berguru
ke Bang Kari. Bang Kari adalah sahabat dekat Bang Madi dan mereka berdua
memiliki kemampuan yang dianggap setara. Kalau dianggap memiliki kemampuan
yang setara, lalu kenapa Rd. H. Ibrahim disarankan untuk berguru ke Bang
Kari?

Hal ini dikarenakan karena Bang Kari dan Bang Madi memiliki "gaya" maenpo
yang berbeda. Kalau Bang Madi yang terkenal dengan *Maenpo Ulin Tapel
(Tempelan)* dan *Maenpo Ulin Tangtung*, maka Bang Kari terkenal dengan *Maenpo
Peupeuhan*. Baik Bang Madi maupun Rd. Ateng Alimudin sepakat, dengan berguru
ke Bang Kari akan menajamkan "rasa" Rd. H. Ibrahim.

Bang Kari saat itu tinggal di Kampung Benteng Tangerang. (Ingat, sejak abad
XIV Kampung Benteng sudah dikenal sebagai "China Town", lalu apakah Bang
Kari mewarisi suatu aliran Kung Fu? Tak ada keterangan tentang itu. Hanya
yang pasti beliau memang tinggal di Kampung Benteng, dan pertukaran ilmu
sangat mungkin terjadi). Sedikit soal Kampung Benteng, jauh sebelum
komunitas Cina tinggal di sana, Kampung Benteng memiliki sejarah yang
panjang sebagai tempat persinggahan pasukan-pasukan dari Pajajaran, lalu
selanjutnya Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram dalam usaha mereka
menundukan Batavia yang dikuasai VOC. Pasukan dari ketiga kerajaan itu,
sesuai zaman nya masing-masing menempati daerah-daerah sekitar Jakarta, yang
salah satu nya dikenal menjadi Kampung Benteng. Masyarakat Cina sendiri
diduga mulai menempati daerah itu sekitar abad 14. Baik itu berupa
pasukan-pasukan yang dikirim Kaisar sebagai utusan ke Jawa maupun
pedagang-pedagang.

Jadi tidak heran kalau Kampung Benteng memilki kekhasan budaya, baik itu
budaya musik (contoh Gambang Kromong) maupun ilmu beladiri. Ada satu hal
yang menarik, orang-orang Cina di Kampung Benteng dalam masa abad 18
terkenal dengan jago-jago beladirinya, dan karena mereka juga sangat
bersahaja dan sederhana, ada yang menyebut mereka "macan-macan dari udik"
(Ingat *"Harimau Turun dari Udik"*, suatu ungkapan yang dikeluarkan oleh
Bang Madi ketika memasang kuda-kuda diawal pertemuan mereka).

Kembali ke Bang Kari. Bang Kari sendiri dikenal sebagai jago beladiri tidak
hanya di Kampung Benteng, tetapi sampai Batavia. Dan Maenpo nya lebih
menekankan kepada ilmu pukulan, itulah sebabnya ketika ilmu itu diwarisi
oleh Rd. H. Ibrahim, aliran ini di Cikalong disebut sebagai "Maenpo
Peupeuhan".

Ketika menemui Bang Kari, dan mengungkapkan keinginannya untuk berguru, Rd.
H. Ibrahim diuji dulu kemampuan silatnya. Diuji berupa ilmu fisik maupun
kedewasaan dan kematangan karakter. Setelah ujian itu, apalagi Rd. H.
Ibrahim datang "dikirim" oleh sobatnya Bang Madi, Bang Kari sadar kalau Rd.
H. Ibrahim adalah murid yang sangat istimewa. Istimewa baik itu dalam
karakter maupun kemampuan dan dedikasinya dalam Maenpo. Karena itu Bang Kari
menerimanya sebagai murid, walaupun begitu... Bang Kari memberikan nasehat
yang sangat panjang kepada Rd. H. Ibrahim, salah satunya adalah 5 hal yang
harus dijauhi oleh ia ketika mewarisi ilmu Maenpo nya, yaitu:
*1. Ujub* (Berpuas diri dan merasa cukup)
*2. Riya* (Melakukannya untuk menyombongkan diri)
*3. Takabur* (Merasa paling bisa dan paling jago)
*4. Sum'ah* (Melakukannya karena mencari pujian dan ingin dianggap jago)
*5. Dholim* (Menyakiti orang lain).

*Cat: **(Semoga ada yang bisa menjelaskan lebih jelas perbedaan Ujub, Riya,
Takabur, Sum'ah dan Dholim tersebut)*.

Setelah itu, Bang Kari dan Rd. H. Ibrahim melakukan sumpah guru dan murid.
Bentuk upacara yang dilakukan adalah duduk berdua di atas kain kafan yang
melambangkan kesucian dan saling berjabat tangan sambil menghadap Kiblat.
Sebelumnya saling membersihkan diri dulu, baik itu fisik maupun rohaninya
(dengan mandi dan berpuasa). Sesudah itu *"ditalek"*, atau ditanya... apakah
sumpah itu dilaksanakan dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan tanpa
paksaan. Setelah itu baru mengucapkan sumpah yang intinya akan mengikuti
semua aturan yang diberikan oleh Guru dan Agama.

*Apa ciri khas "ulin" Kari*
Ulin Kari sendiri adalah sebuh ilmu pukulan yang mengutamakan kecepatan,
ketepatan dan kekuatan. Serangan dilakukan cepat dengan karakter *"Batur
Arek Urang Anggeus"*, yang artinya "Lawan baru memulai, kita sudah
mengakhiri dan juga karakter *"Teu Numpangkeun Rasa"*, yang artinya "Tidak
ragu-ragu dan kasihan dalam menyerang". Ini mungkin terlihat kejam, tetapi
kalau kita merasa ragu-ragu justru celaka buat diri kita sendiri.

Dalam penerapannya, counter attack yang dilancarkan bukan diawali dengan
tangkisan, tetapi dengan serangan juga yang memiliki kecepatan dan ketepatan
yang lebih daripada lawan. Gerakan dilakukan dengan agresif dan terus
merangsek ke depan. Secara teori mungkin terlihat gampang, tetapi dalam
kenyataannya ini sangat sulit dilakukan kalau kita mempunyai pengalaman yang
minim dan *"intipan"* yang dangkal. Intipan adalah kemampuan mengamati
musuh. Rd. H. Ibrahim sendiri sudah memilki dasar yang kuat dalam hal ini,
hal ini beliau pelajari ketika belajar ke Bang Madi (*"puhu tanaga"* dan *"puhu
gerak"*. Hal lainnya yang merupakan ciri khas adalah serangan-serangan
dengan sikut yang sangat cepat, permainan kaki dalam menggoyang kuda-kuda
lawan, potongan terhadap persendian dan juga serangan dengan buku-buku jari
dan jempol (*"Teke"* dan *"Rojok"*).

Jadi jelas, ada perbedaan yang sangat jauh antara *Ulin Madi* dan *Ulin Kari
*.



*Lahirnya Cikalong*

Dalam usia yang cukup matang, yaitu sekitar 40 tahun, Rd. H. Ibrahim
dianggap mewarisi Maenpo nya Bang Kari. Jadi bisa dibayangkan proses belajar
Rd. H. Ibrahim yang cukup panjang, diawali di masa kanak-kanak dengan Maenpo
Cimande dari lingkungan keluarga (kakeknya, *Aria Cikalong* adalah murid
Abah Khaer), lalu masa remaja ke *Rd. Ateng Alimudin*, lalu ke *Bang Ma'ruf*,
*Bang Madi* dan akhirnya *Bang Kari* di awal umur *40 tahun*. Suatu proses
yang menunjukan dedikasi dan kecintaan terhadap ilmu beladiri yang sangat
dalam. Disamping itu, disebutkan juga kalau Rd. H. Ibrahim "bertukar" ilmu
kepada kurang lebih 40-an guru lainnya, tetapi memang yang sangat
berpengaruh dan menjadi inti dari Maenpo Cikalong adalah dari 4 orang yang
disebut di atas itulah.

Setelah berguru ke Bang Kari itulah Rd. H. Ibrahim melakukan *"khalwat"* di
sebuah Gua kecil di sebuah gua kecil pinggir sungai *Cikundul Leutik*, *Kampung
Jelebud - Cikalong Kulon*, Cianjur. Khalwat yaitu sebuah proses perenungan,
introspeksi dan atau bisa diartikan juga memikirkan apa yang sudah dilakukan
dan merencanakan apa yang akan dilakukan, atau bisa juga diartikan
menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari. Beliau melakukan khalwat selama
kurang lebih *3 tahun*. Bukan berarti bahwa beliau berdiam diri di Gua
tersebut selama 3 tahun, tetapi melakukannya berulang kali, setiap saat dan
waktu dimana beliau membutuhkan ketenangan untuk "mengumpulkan" dan
"merumuskan" semuanya, terutama maenpo yang sudah beliau pelajari selama
ini, karena beliau menyadari, setiap aliran memiliki kelemahan dan
kekuatannya masing-masing, dan beliau mencoba "menyatukan" itu semua.

Setelah 3 tahun, barulah beliau "mengenalkan" alirannya sendiri yang
akhirnya dikenal sebagai Maenpo Cikalong. Mengapa "mengenalkan"? Karena
beliau melakukannya bukan dengan melakukan demo-demo di atas panggung di
depan penonton yang banyak, tetapi dengan mengajarkannya ke keluarga atau
kenalan, itupun sangat rahasia sekali dan sangat selektif. Saat itu sangat
tidak mungkin orang di luar keluarga atau kenalan dekat yang bisa belajar
Maenpo Cikalong.

Satu lagi keistimewaan beliau adalah dalam penerimaan murid. Beliau tidak
memiliki murid yang banyak karena beliau berpikir setiap murid harus punya
waktu khusus dengan beliau. *Satu waktu latihan untuk satu murid*. Dan juga
beliau sangat berhati-hati dalam memilihnya, karena apa yang beliau pelajari
dan ajarkan bisa menjadi sangat berbahaya kalau ada di tangan yang salah.
Dengan jalan begitu beliau betul-betul mengenal karakter setiap murid dan
juga kelebihan serta kekurangan masing-masing. Beliau tidak akan begitu saja
misalnya mengajarkan "Peupeuhan" kalau murid itu punya kelebihannya di "Ulin
Tangtung", begitu sebaliknya. Tetapi ada juga murid-murid yang sangat
berbakat, misal Rd. Obing (yang akhirnya dikenal dengan nama *Rd. Obing
Ibrahim*, nama Ibrahim diberikan oleh Rd. H. Ibrahim sendiri karena sangat
sayang dengannya). Rd. Obing Ibrahim adalah contoh murid yang diajarkan
semuanya.

Dari semuanya itu, yang sangat penting di Maenpo Cikalong adalah *"Olah
Rasa"*, yang dilakukan melalui *"Ulin Tapel"*. Jadi murid-murid baik itu
yang pelajar Peupeuhan, Ulin Tangtung, Ulin Puhu, dsb... pada akhirnya semua
belajar Ulin Tapel. Ulin Tapel (olah rasa) sendiri dilakukan dalam tahapan:
*1. Rasa Napel*
*2. Rasa Anggang*
*3. Rasa Sinar*

*1. Rasa Napel* (Napel = Menempel)
Ini adalah tahap pertama dalam olah rasa, dilakukan dengan menempelkan kedua
lengan dengan lawan. Mungkin secara sepintas bisa disamakan dengan Tui Sho
di Tai Chi (saya sendiri belum pernah melakukan Tui Sho, ini penilaian
subjektif saja), atau "sticky hand" nya Wing Chun (juga subjektif). Untuk
murid dengan "rasa" yang sudah sangat halus dan tajam, mereka melakukannya
dengan tidak melihat (menunduk atau menutup mata dengan kain), tetapi bisa
merasakan pergerakan lawan maupun arah tenaga dan sumber tenaga lawan.
(Susah sekali kalau emosi sudah ikut).

*2. Rasa Anggang* (Anggang = "terdapat jarak")
Tahapan kedua adalah "rasa anggang", yang dilakukan tanpa menempelkan
tangan, dan mencoba membaca tenaga, arah serangan, sumber tenaga dan
pergerakan lawan. Ini seperti "rasa napel" yang diberi jarak. Seperti juga
dalam "rasa napel", murid-murid expert bisa melakukannya dengan mata
tertutup.

*3. Rasa Sinar*
Ini mungkin terdengar dan terlihat seperti "utopia", seperti mimpi...
seperti khayalan. Tetapi kalau sudah melihat seorang pelaku Maenpo Cikalong
melakukannya mungkin akan percaya. Hal ini tidak berhubungan dengan ilmu
ghaib. Rasa Sinar sendiri bisa diartikan latihan intuisi dan existensi.
Mungkin salah satu contoh penerapannya kita bisa mengetahui orang yang
datang mendekati kita itu punya niat baik atau jahat. Sesuai dengan namanya,
merasakan dari "sinar" orang.

Ketiga "olah Rasa" tersebut bertujuan untuk mencari *"kesempurnaan
rasa"*dalam Maenpo Cikalong yang disebut
*"rasa sajeroning rasa"*, artinya "rasa di dalam rasa". Sebuah wujud
ketenangan dan kematangan dalam ber-Maenpo.

Saya sendiri, takutnya ada yang salah pengertian, belum pernah belajar "Rasa
Anggang" apalagi "Rasa Sinar"  Untuk itu mungkin nanti *Kisawung* bisa
menjelaskan lebih detail untuk hal-hal itu. Atau misal menunjukan beberapa
praktisi yang bisa memberikan pencerahan.



*Perkembangan Awal Maenpo Cikalong**
Murid-murid Rd. H. Ibrahim Djajaperbata*

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Rd. H. Ibrahim sangat selektif dalam
memilih murid. Maenpo Cikalong sendiri pertama kali hanya diajarkan di
lingkungan keluarga atau kenalan/kerabat terdekat saja. Begitu juga
latihannya, bisa dianggap cukup rahasia... dimana Rd. H. Ibrahim
memberlakukan *"satu waktu latihan untuk satu murid"*, apalagi jika murid
sudah mencapai tingkatan lanjut... biasanya waktu latihan dilakukan malam
hari (setelah sholat Isya atau sebelum/sesudah sholat shubuh) di ruangan
tertutup.

Satu lagi yang kembali harus sedikit diceritakan, dalam latihan Maenpo
Cikalong murid berlatih beberapa jurus tunggal yang dilatih terus menerus.
Dalam melatih jurus-jurus tersebut murid dilarang untuk mencari aplikasi
dari jurus tersebut. Tujuan dari cara seperti ini adalah agar nantinya *"usik
kalayan hideng ku sorangan"* (usik kalayan hideng ku sorangan = bergerak
dengan sendirinya), dimana gerakan-gerakan Maenpo Cikalong diharapkan sudah
menjadi bagian dari badan pesilat sendiri (seperti halnya kita mengangguk
kalau mengiyakan, dan menggeleng kalau tidak).

Rd. H. Ibrahim sendiri betul-betul memperlakukan muridnya secara personal.
Murid diajarkan hal-hal yang lebih cocok dengan karakter dan bakatnya.
Itulah kenapa nantinya hanya ada murid yang menguasai Maenpo Ulin Tangtung /
Maenpo Ulin Puhu, Maenpo Tempelan atau Maenpo Peupeuhan, cara latihan
seperti inilah yang melahirkan aliran-aliran di Maenpo Cikalong dan juga
perbedaan jumlah jurus yang diajarkan oleh Guru-guru Maenpo Cikalong saat
ini. Walaupun begitu beberapa murid merupakan murid-murid yang sangat
berbakat sehingga belajar semuanya. Tingkatan akhir dari Maenpo Cikalong
yaitu berlatih *"Tapel"* (dimana praktisi belajar mengolah rasa, yang
sebenarnya dari awal pun sudah dilatih... tetapi di tahapan Tapel lebih
diintensifkan untuk mencapai *"kaayan sanalika"/"rasa sajeroning rasa"*,
lihat post-post sebelumnya).

Untuk menentukan kemajuan murid, dalam Maenpo Cikalong dikenal dalam 4 kata,
yaitu: *"bener", "bobot/ngisi", "leumeus" dan "ngarti"* (bener = benar,
artinya gerakan sudah benar sesuai pakem nya. Bobot = berbobot, artinya
tidak asal gerak... tetapi harus jelas isi dan kosong nya. Leumeus = halus,
artinya gerakan tidak kaku dan tidak dipaksakan... atau gerakan natural.
Ngarti = pengertian, ini dilakukan apabila ketiga hal pertama sudah
dicapai).

Berikut ini jalur murid-murid awal Maenpo Cikalong, walaupun begitu...
beberapa murid tidak tercantum dalam silsilah ini.



*Cat:*
1. *Rd. H. Abdullah* (dimana Maenpo Peupeuhan Adung Rais nantinya turun), *Rd.
H. Muhyidin* dan *Rd. Obing Ibrahim* adalah murid-murid yang pertama membuka
perguruan sepeninggalnya Rd. H. Ibrahim di tahun 1906.

2. *Rd. Abad* adalah murid dari *Rd. Busrin* yang nantinya mengajarkan
Maenpo Cikalong berdasar metode baru yang mencakup semuanya tetapi hanya
terdiri dari *30 Jurus*.

3. *Rd. H. Sanusi* adalah murid Rd. H. Ibrahim yang nantinya mendirikan
perguruan baru di Cikaret dan disebut *Maenpo Cikaret*.

4. *Rd. H. Enoh* adalah murid yang Rd. H. Ibrahim yang termasuk juga
murid-murid awal dari *Mama Kosim* (pendiri Sahbandar). Diyakini dari Rd. H.
Enoh lah Sahbandar menyebar dalam Maenpo Cikalong dan dianggap bagian Maenpo
Cikalong, walaupun begitu ada beberapa murid yang tetap hanya belajar Maenpo
Cikalong saja.

5. *Wa Nampon* adalah salah satu murid Maenpo Cikalong yang juga belajar ke
*Mama Kosim* dan melahirkan aliran baru yang disebut *"gebreg Nampon"*.

6. *Rd. Obing Ibrahim* adalah salah satu murid Rd. H. Ibrahim yang
dianugrahi nama Ibrahim di belakangnya, saking sayangnya Rd. H. Ibrahim ke
Rd. Obing. Rasa sayang itu timbul karena melihat ketekunan, dedikasi dan
bakat yang luar biasa dari Rd. Obing. Sepeninggal Rd. H. Ibrahim, Rd. Obing
lah yang dianggap salah satu "sesepuh" tempat bertanya. Disamping itu beliau
belajar juga ke Mama Kosim, dimana saat itu sudah terjalin kekeluargaan yang
sangat erat sekali antara keluarga Maenpo Cikalong dan Maenpo Sahbandar di
pesantren *Ajengan Cirata* (Mama Cirata).

7. *Rd. Didi Muhtadi* adalah penerus Maenpo Cikalong yang menggabungkan
Maenpo Cikalong dengan seni *"Kendang Penca"* yang sudah lebih dahulu ada.
Di awal penerapannya hal ini menimbulkan beberapa tanggapan negatif dari
sesepuh lain karena dianggap menyalahi "pakem". Gan Didi jugalah yang
menerapkan metode baru dalam melatih Maenpo Cikalong, dimana murid belajar
dulu "ibingan", baru setelah itu Jurus yang hanya terdiri dari *13 Jurus*.
Di masa inilah mulai dikenal *"ibing"* dan *"buah"* dalam Maenpo Cikalong.

8. *Rd. Utuk Sumadipradja* adalah sesepuh Maenpo Cikalong yang melahirkan
aliran baru yang beliau namakan *"Sanalika"*. Aliran ini hasil "penggabungan
kembali" Maenpo Cikalong dengan Cimande, Kari, Sahbandar dan *Jurus 7* dari
keluarga sendiri. (Rd. Utuk adalah cucu seorang ulama terkenal di Garut yang
disebut *Ajengan Biru* (Ulama Biru), beliau terkenal juga dengan suatu
Maenpo unik yang disebut *Jurus 7*).

9. *Rd. Harun Sirod*, *Rd. Abdurr Rauff*, *Gan Ita Sasmita* dan *Rd.
Popo*(sudah wafat) adalah generasi terbaru yang meneruskan mengajarkan
Maenpo
Cikalong dan Maenpo Sahbandar. Rd. Abdurr Rauff adalah gurunya Kisawung
(Kisawung, mohon dicari informasi untuk Gan Ita Sasmita, beliau sudah sangat
tua... saya sudah lama tidak mendengar kabar tentang beliau ini.) Mohon
dicermati juga, di silsilah di atas tidak terlihat bahwa Rd. Abdurr Rauff
belajar Maenpo Sahbandar... tetapi pada kenyataannya beliau mengajarkan
Sahbandar ke Kisawung. Itulah salah satu bukti bahwa Sahbandar sudah
betul-betul dianggap sebagai bagian Cikalong.

10. *Abah Aleh*, sesepuh Maenpo Cikalong yang mendirikan Paguron
*Panglipur*di Garut, yang sekarang dipimpin oleh anaknya, yaitu
*Ibu Enny Sekarningrat*. Dalam sejarahnya, Maenpo Cikalong banyak melahirkan
pendekar-pendekar Wanita yang mumpuni. Salah satunya Ibu Enny ini.

11. Lihat bahwa beberapa murid berguru lagi kepada kakek Gurunya, misal *Gan
Didi* yang asalnya berguru ke *Rd. Obing* dan *Rd. Idrus*... akhirnya
dikirim untuk berguru ke kakek gurunya, *Rd. Bratadilaga*.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar