[9/10 14:10] aji rasha: TATA CARA
MEMBUAT WADAH BATIN
Selain mengamalkan
CARA MEMBUKA
PINTU ILMU GAIB,
Anda harus mengetahui hambatan yang ada
ketika riyadoh ilmu gaib. Sesungguhnya
Nafsu
merupakan hijab
yang menjadi bagian
dari hambatan tersebut kepada Allah ta’ala,
dan untuk dapat masuk Fatihah dan Al-Ikhlas
adalah pintu gerbangnya. Untuk
riyadoh/
tirakat/
pengamalan keilmu an,
baik pada
dzikir nafas
maupun pada
pembacaan mantera
harus dibuka hijabnya dahulu agar
energi keilmuan tersebut dapat masuk
dengan sempurna,
yaitu dengan
tata cara
di bawah ini.
Setelah proses pembukaan selesai,
nanti juga harus
dilakukan proses penutupannya.
Tata caranya
adalah sebagai berikut:
1. Bismillah…
Khususon illa ruuhi wa
jazadi….
(sebut nama sendiri),
(ALIF LAM 3X)
walhadiatan…
ALFATIHAH 5X,
AL-IKHLAS 5X
2. Lalu melakukan
riyadoh…
(tirakat atau baca mantera
untuk memasukkan ilmu)
3. Setelah selesai riyadoh,
maka harus ditutup
atau dikunci
agar energi amalan
yang ditirakati tadi
tidak keluar
bahkan menjadi
tidak stabil,
yaitu dengan
cara membaca :
SUBHANALLAHI ALFI ALFI
LA HAULA WALA
QUWWATA ILLA BILLAHIL
‘ALIYYIL ‘AZHIIM… 3X
4. Kemudia baca yang sama
dengan pembukaannya,
hanya pada Alif Lam
dibalik menjadi Lam Alif.
Khususon illa ruuhi
wa jazadi….
(sebut nama sendiri),
(LAM ALIF 3X)
walhadiatan…
ALFATIHAH 5X,
AL-IKHLAS 5X
Amalan ini
selain sebagai
wadah keilmuan batin,
juga sebagai pageran
atau perisai.
Pengamalnya tidak dapat
diterawang oleh orang lain,
karena tidak ada unsur
khodam.
[9/10 14:36] aji rasha: PUASA WETON HARI LAHIR
Wetonan (Puasa Weton). Puasa weton (wetonan) adalah
puasa untuk memperingati hari kelahiran seseorang sesuai laku dan tradisi dalam budaya jawa.
Puasa weton adalah
jenis puasa ngebleng yang sudah umum dilakukan oleh orang-orang di masyarakat jawa pada hari weton kelahirannya yang perhitungan waktu mulai berpuasa dan menutup puasa dilakukan berdasarkan hari kelahirannya dalam kalender jawa.
Puasa weton biasanya dilakukan orang dengan
niat menjaga kedekatan hubungan pancer (orangnya) dengan roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu
peka rasa dan batin,
peka firasat,
peka bisikan gaib,
untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhurnya, supaya
hidupnya keberkahan dan lancar segala urusan dan usahanya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting.
Puasa weton harus dilakukan dengan sugesti kebatinan, yaitu dengan
sikap hati berprihatin, menjauhi hiburan dan
sikap bersenang-senang dan banyak berdoa
menghadap ke timur dengan kesatuan hati difokuskan kepada Tuhan.
(baca : Kebatinan Dalam Keagamaan),
bukan sekedar sudah terlaksananya formalitas berpuasa weton, karena pengaruhnya yang diharapkan adalah
bersifat kegaiban roh / sukma, bukan biologis.
Laku puasa tersebut dimaksudkan untuk menjadikan hidup mereka lebih 'bersih' dan keberkahan, sekaligus juga bersifat kebatinan, yaitu untuk memelihara kepekaan batin dan memperkuat hubungan mereka dengan saudara kembar gaib mereka yang biasa disebut 'Sedulur Papat', sehingga lakunya berpuasa itu juga untuk memelihara 'berkah' indera keenam seperti
peka firasat,
peka terhadap petunjuk gaib / pertanda,
peka tanda-tanda alam,
dsb.
Kegaiban puasa weton
terkait dengan kegaiban yang berasal dari sukma manusia sendiri (kegaiban dari kesatuan roh pancer dan sedulur papat),
tidak berhubungan dengan kegaiban roh-roh lain atau khodam.
Puasa weton tidak bisa disamakan atau diperbandingkan atau
ditukar dengan puasa bentuk lain, karena
sifat dan kegaibannya berbeda.
Dalam menjalankan
puasa weton orang tetap dibolehkan melakukan aktivitas yang lain, hanya saja jangan sampai orangnya lupa bahwa ia sedang berlaku prihatin.
Selama menjalankan
puasa weton itu
orangnya harus sadar
bahwa ia sedang berlaku prihatin.
Sejak jaman dulu masyarakat dan spiritual Jawa meyakini bahwa setiap manusia mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Mereka tidak kelihatan mata biasa.
Mereka tergolong sebagai roh-roh halus. Saudara-saudara halus ini banyak yang menyebutnya dengan istilah
Saudara Kembar, atau disebut juga
Roh Sedulur Papat.
Konsep tersebut secara umum dipercaya dan dihayati oleh masyarakat jawa.
Dalam kehidupan sehari-harinya
di masa sekarang pun banyak orang Jawa yang masih menjalankan laku prihatin dan tirakat tertentu untuk memelihara Sedulur Papat mereka.
Kepercayaan terhadap sedulur papat ini tata-laku dan ritualnya dimulai ketika seorang ibu melahirkan bayi. Selain atas kelahiran anaknya itu dilakukan syukuran / selametan, terhadap ari-ari si jabang bayi juga dilakukan suatu "perawatan".
Ada tatacara dan ritual tersendiri untuk merawat dan menyimpan / memakamkan ari-ari anak, yang selain dibacakan doa-doa, biasanya juga diberikan sesaji kembang, diberikan lampu penerangan selama 7 atau 40 hari di tempat ari-ari dimakamkan, dan dijaga supaya tidak diganggu hewan dan tidak langsung terkena hujan.
Pada hari-hari berikutnya biasanya sang orang tua akan tekun memelihara sedulur papat anak-anaknya dengan cara pada hari weton masing-masing anaknya (atau sebulan sekali)
ia memberikan bubur merah putih atau jajan pasar untuk dimakan oleh anak-anaknya itu atau memberi kembang di makam ari-ari anak. Harapannya adalah
supaya anak-anaknya itu terpelihara
tubuh dan sukmanya,
sehat secara kejiwaan,
sehat tubuhnya tidak mudah sakit-sakitan,
dan tidak ada masalah
dalam hidupnya.
Setelah anak-anaknya beranjak dewasa,
maka anak-anaknya itu sendiri yang harus meme-lihara sedulur papatnya sendiri dengan cara rajin berpuasa weton setiap hari wetonnya (hari kelahirannya sesuai kalender jawa).
Sampai sekarang dalam masyarakat Jawa masih ada kepercayaan dan tradisi yang dilestarikan untuk melakukan semacam ritual, puasa dan doa dan memberi sesaji untuk sedulur papat, seperti ritual / puasa wetonan, dengan sesaji bubur merah-putih, atau jajan pasar, mandi kembang, atau memberi kembang di makam ari-ari anak, dsb.
Tradisi ini baik sekali bila dilakukan, supaya sukma orang yang bersangkutan terpelihara, sehat secara kejiwaan, sehat tubuhnya tidak mudah sakit-sakitan, dan supaya lancar segala urusan hidupnya.
Bahkan ada juga orang yang secara khusus menyimpan ari-arinya (yang sudah kering) di dalam lemari atau di dalam dompetnya dengan harapan sedulur papatnya aktif mendampinginya dan membantunya dalam kehidupannya sehari-hari. Kepercayaan dasar atas laku dan ritual di atas adalah pada adanya kepercayaan tentang roh sedulur papat yang selalu mendampingi manusia sejak manusia itu lahir.
Karena itu orang jawa yang masih memelihara kepercayaan kejawen akan menghormati kepercayaan itu, bahkan masih banyak yang tekun menjalankan tata-laku dan ritual yang terkait dengan sedulur papat. Puasa weton yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami atau tidak meyakini keberadaan roh sedulur papat kegaibannya tidak akan sebaik mereka yang melakukannya dengan landasan kepercayaan pada adanya kebersamaan roh sedulur papat.
Keyakinan pada keberadaan dan kebersamaan roh sedulur papat dengan pancer akan memperkuat kegaiban sukma dan memperkuat interaksi roh sedulur papat dengan roh-roh leluhur orangnya.
Dalam kehidupannya sehari-hari kegaiban sukma akan membantu dalam kemantapan bersikap, membantu membuka jalan hidup dan menyingkirkan halangan dan kesulitan-kesulitan, dan interaksi sedulur papat akan membantu peka rasa dan firasat, peka bisikan gaib, mendatangkan ide-ide dan ilham, peringatan-peringatan dan jawabanjawaban permasalahan.
Puasa weton adalah suatu laku yang berasal dari tradisi budaya jawa, dilakukan dengan berpuasa pada hari kelahiran seseorang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu)
yang hari kelahirannya itu disesuaikan dengan
hari pasaran jawa
(Legi, Pahing, Pon, Wage atau Kliwon).
Dengan demikian hari weton kelahiran seseorang akan selalu berulang setiap 35 hari sekali.
Sesuai ajaran kebatinan jawa selama berpuasa itu orangnya berdoa di malam hari kepada Tuhan di luar rumah menghadap ke timur. Penjelasan penetapan hari jawa :
Dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada hari sebelumnya pukul 5 sore
(pk.17.00) dan
berakhir pada hari yang bersangkutan pukul 5 sore (pk.17.00).
Jadi, mulainya hari
adalah hari sebelumnya pk.5 sore, dan batas akhir suatu hari adalah hari itu pada pk.5 sore (pastikan Anda mengetahui jam berapa Anda dilahirkan).
Berarti hari Senin dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore.
Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa,
karena sudah melewati batas akhir hari Senin pk.5 sore.
Hitungan hari kelahiran jawa :
Misalnya tanggal kelahiran 10 Juni 1970,
pada penanggalan jawa harinya adalah Rabu Wage. Sesuai hitungan hari jawa di atas, maka hari kelahiran Rabu Wage 10 Juni 1970 itu berlaku untuk orang-orang yang lahir dalam rentang waktu antara 9 Juni 1970 pk.17.00 sampai dengan 10 Juni 1970 pk.17.00.
Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari kelahirannya adalah hari Rabu Wage. Sedangkan orang-orang kelahiran 10 Juni 1970 pada malam hari (melewati pk.17.00), berarti hari kelahiran jawa orang itu bukan Rabu Wage, tetapi adalah Kamis Kliwon, karena waktu (jam) kelahirannya sudah melewati batas akhir hari Rabu Wage pk.17.00, sudah masuk ke hari Kamis Kliwon. Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari jawa kelahirannya adalah Kamis Kliwon, bukan Rabu Wage. (Mengenai hitungan hari kelahiran jawa ini silakan dicari pada program primbon hari kelahiran di internet. Sesudah itu tinggal anda sesuaikan hari jawanya dengan jam kelahiran anda apakah pagi hari, siang hari atau malam hari.
Lebih baik lagi bila programnya itu bisa didownload).
Beberapa hitungan hari dalam puasa weton sbb :
1. Puasa weton sehari.
Puasa weton sehari ini
adalah yang secara umum
dilakukan orang dalam
budaya Jawa.
Puasanya 1 hari Jawa
(sehari semalam, 24 jam).
Misalnya hari kelahirannya
adalah Selasa Pahing,
maka puasanya dimulai
pada hari sebelumnya,
yaitu hari Senin pk.5 sore
dan berakhir pada hari
Selasa Pahing tersebut pk.5
sore. 2. Puasa weton 3 hari
(puasa apit weton - hari
weton diapit di tengah).
Puasa weton 3 hari
biasanya dilakukan untuk
harapan terkabulnya suatu
keinginan khusus yang
kejadiannya tidak terjadi
setiap hari. Puasa weton 3
hari dilakukan selama 3 hari
jawa terus-menerus tanpa
putus, yaitu puasa pada hari
wetonnya ditambah 1 hari
sebelumnya dan 1 hari
sesudahnya, sehingga total
puasa menjadi 3 hari jawa
terus-menerus (3 x 24 jam).
Hari wetonnya diapit di
tengah. Puasa weton 3 hari
(puasa apit weton) ini
mempunyai efek kegaiban
mirip seperti puasa
ngebleng 3 hari. 31
Misalnya
kelahiran Rabu Kliwon,
maka puasanya dijalankan selama 3 hari, yaitu
Selasa,
Rabu Kliwon dan
Kamis,
terus-menerus tanpa putus. Hari Selasa dimulai pada hari Sebelumnya, yaitu hari Senin pk.5 sore. Hari Kamis berakhir pada pk. 5 sore hari. Jadi puasa weton Rabu Kliwon 3 hari itu dimulai pada hari Senin pk.5 sore dan berakhir pada hari Kamis pk.5 sore. Puasanya terus-menerus tanpa putus siang dan malam.
Ber-buka puasanya hari Kamis pk.5 sore.
3. Puasa weton 3 hari selama 7 kali berturut-turut (7 kali puasa apit weton).
Artinya,
puasanya dijalankan selama 3 hari jawa terus-menerus tanpa putus dan dilakukan selama 7 kali berturut-turut tanpa putus (selama 7 bulan jawa berturut-turut).
Jenis puasa ini biasanya dilakukan untuk harapan terkabulnya suatu keinginan khusus yang bukan sesuatu yang biasa terjadi sehari-hari dan waktu pencapaiannya agak panjang (pada masa depan), atau untuk keinginan terkabulnya suatu keinginan khusus yang berat, yang kadarnya tinggi, yang bagi seseorang sulit untuk dicapai dengan usaha yang normal (biasanya disertai nazar), sehingga diperlukan suatu laku tambahan demi terkabulnya keinginannya itu, yaitu puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahirannya dan dilakukan selama 7 kali (7 bulan jawa) berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan suatu ritual dan sesaji penutup (tumpengan), selametan atau syukuran atas berhasilnya dirinya menunaikan hajat berpuasa itu. Sesudah puasa 7 kali itu tercapai, bulan-bulan berikutnya tetap puasa wetonan.
Misalnya kelahiran Rabu Kliwon, maka puasa weton 3 hari setiap Rabu Kliwon itu dilakukan terus-menerus selama 7 kali berturut-turut (7 bulan jawa) tanpa putus. Catatan: Sejarah puasa apit weton (3 hari) berasal dari cerita saat nabi Adam a.s diturunkan ke Bumi, beliau menangis sedih karena seluruh tubuhnya berubah hitam kelam.
Tangisan tersebut sampai terdengar oleh
Malaikat Jibril a.s.
Karena tidak tega mendengar tangisan tersebut,
maka Malaikat Jibril a.s menemui nabi Adam a.s, dan diajarkanlah untuk berpuasa 3 hari.
Ketika puasa tersebut dijalani oleh nabi Adam a.s,
pada hari pertama berubahlah kulit pada kepala sampai leher menjadi putih. Pada hari ke-dua berubahlah kulitnya dari leher ke pinggang, dan pada hari ke-tiga, kembalilah seluruh tubuh nabi Adam a.s putih kembali seperti semula. Itulah sebabnya puasa ini disebut PUASA PUTIH.
Oleh Malaikat Jibril a.s. puasa ini diminta untuk diajarkan kepada keturunan nabi Adam a.s.
Demikianlah akhirnya puasa ini diajarkan oleh
Kanjeng Sunan Kalijaga kepada kita.
Sesuai ajaran kejawen,
saat memulai puasa weton dan pada malam hari
selama berpuasa berdoalah menghadap ke timur
di luar rumah
kepada Tuhan di atas sana. Setelah selesai berpuasa berdoa juga mengucap syukur karena telah diberi kekuatan sehingga dapat menyelesaikan puasanya. Mudah-mudahan Tuhan memberkahi.
Puasa weton menjadi sempurna bila dimulai dengan mandi keramas (dengan shampo)
dan pada penutupan puasanya dilakukan pemberian sesaji untuk
roh sedulur papat dan pancer sebagai berikut (salah satu) : 1. Terbaik,
mandi kembang telon atau kembang tujuh rupa,
guyuran basah semua dari kepala sampai ke kaki.
[9/10 14:54] aji rasha: 2. Kedua terbaik,
makanan / kue jajan pasar
7 macam, dimakan sebagai makanan berbuka puasa.
3. Ketiga terbaik,
bubur merah putih, yaitu bubur tepung beras (bubur sumsum) yang diberi gula jawa cair, dimakan sebagai makanan berbuka puasa. Dengan demikian yang disebut puasa weton (wetonan) itu adalah
satu kesatuan puasa weton + mandi kembang telon atau sesaji lain seperti disebutkan di atas.
Tetapi wetonan tanpa mandi kembang telon / tujuh rupa atau jajan pasar tidak apa-apa, boleh-boleh saja. Sesaji kembang telon / tujuh rupa atau jajan pasar itu bukanlah keharusan.
Itu hanya diperlukan bila kita menginginkan kesempurnaan dari laku kita itu.
Karena itu bila diinginkan kesempurnaan dari anda menjalankan puasa weton sebaiknya pada penutupan puasanya anda memberikan sesaji untuk roh pancer dan sedulur papat anda supaya kegaiban wetonan anda itu lebih sempurna, bukan sekedar berpuasa saja. Puasa weton adalah
salah satu sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya dan menjadi sarana memperkuat kesatuan antara seseorang (pancer) dengan roh sedulur papat dan roh para leluhurnya.
Mandi kembang menjadi sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya, "memandikan" / membersihkan roh pancer dan sedulur papatnya yang hasil akhirnya akan juga "membersihkan" orang itu sendiri dari aura-aura negatif tubuh dan sukmanya dan "membersihkan" hidupnya dari kesulitan-kesulitan yang berasal dari dirinya sendiri.
Kegaiban yang berasal dari kesatuannya dengan roh sedulur papatnya akan membantu membukakan jalan hidupnya dan membuat keinginan-keinginannya menjadi semakin mudah terwujud.
Bagi yang niat wetonan, tapi tidak sempat menjalankan puasanya atau berhalangan, cukup mandi kembang saja, bisa pagi hari, bisa siang atau sore hari, dan berdoa tulus kepada Tuhan di luar rumah menghadap ke timur. Puasa weton terkait dengan kepercayaan pada kegaiban sukma (kepercayaan pada kesatuan dan kebersamaan pancer dan roh sedulur papat).
Biasanya dijalankan untuk menjaga kedekatan hubungan orangnya dengan para roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu peka rasa dan batin, peka firasat, dan untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhurnya, supaya hidupnya keberkahan dan lancar segala urusannya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting.
Puasa weton tidak bisa disamakan, digantikan atau ditukar dengan puasa bentuk lain, karena sifat dan kegaibannya berbeda.
Puasa weton (wetonan) adalah salah satu laku budaya kebatinan yang sudah umum dilakukan dalam masyarakat jawa.
Tetapi sehubungan dengan adanya pengaruh budaya Islam dalam masyarakat jawa, orang-orang jawa saat ini yang masih melakukan puasa weton ini sudah tidak lagi menjalankannya sesuai aslinya ajaran jawa, yaitu dengan puasa ngebleng, tetapi melakukan puasanya sama dengan puasa biasa saja, yaitu puasa dari subuh sampai mahgrib saja. Sekalipun laku puasa weton yang dipengaruhi budaya Islam itu masih memberikan kegaiban, tetapi sudah tidak lagi besar seperti seharusnya, bahkan banyak orang yang tidak lagi dapat merasakan kegaibannya sehingga kemudian tidak lagi melakukannya, kemudian digantikannya dengan puasa Senin - Kamis, puasa mutih, atau puasa berpantang makanan tertentu saja.
ILMU LAKSITA JATI
Ilmu yang mengajarkan
tata cara menghargai
diri sendiri, dengan
“laku” batin
untuk mensucikan raga
dari
nafsu angkara murka (amarah),
nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan
nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservoir nafsul mutmainah.
Agar supaya jika
manusia mati,
raganya dapat menyatu dengan
“badan halus” atau
ruhani atau
badan sukma.
Hakikat kesucian,
“badan wadag” atau
raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”,
karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko)
pada saat manusia lahir dari rahim ibu.
Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan,
selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa),
jika mati kelak
“badan wadag” akan
luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh
Hayyu Dhaim, atau
Shang Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan
“warongko manjing curigo”. Maksudnya,
“badan wadag”
melebur ke dalam
“badan halus”.
Pada saat manusia hidup
di dunia (mercapada), dilambangkan dengan
“curigo manjing warongko”; maksudnya
“badan halus”
masih berada di dalam “badan wadag”.
Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut: “Jasad pengikat budi,
budi pengikat nafsu,
nafsu pengikat karsa (kemauan),
karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa,
rasa pengikat cipta,
cipta pengikat penguasa, penguasa peng-ikat Yang Maha Kuasa”.
Sebagai contoh :
Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka,
maka tali pengikat budi menjadi putus.
Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi.
Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah
semua nafsu-nafsunya; misalnya
amarah, nafsu seks, dan nafsu makan.
Jika tali nafsu sudah hilang atau putus,
maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal tersisa tali karsa atau kemauan.
Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh.
Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian.
Namun demikian,
sukma masih mengikat rasa, dalam artian
sukma sebenarnya masih memiliki rasa,
dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi.
Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini.
Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal, karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya.
Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.
Rahsa atau rasa,
merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa)
yang mewujud ke dalam
diri manusia.
Dzat adalah
Yang Maha Tinggi,
Yang Maha Kuasa,
Tuhan Sang Pencipta alam semesta.
Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut
Dzat (Dzatullah)
Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
Hayyu Dhaim (Hayyun) Energi Yang Hidup,
meretas menjadi;
Cahya atau cahaya (Nurullah),
meretas menjadi;
Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah),
meretas menjadi ;
Sukma atau ruh (Ruhullah).
No 1 s/d no 5 adalah
retasan dari
Dzat,
Tuhan Yang Maha Kuasa, maka
ruh bersifat abadi,
cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar.
Ruh yang suci
yang akan melanjutkan “perjalanannya”
menuju ke
haribaan Tuhan,
dan akan melewati
alam ruh atau
alam barzah,
dimana suasana menjadi “jengjem jinem”
tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb.
Sebelum masuk ke
dimensi barzah,
ruh
melepaskan tali rasa, kemudian
ruh
masuk ke dalam dimensi alam barzah
menjadi hakikat
cahaya tanpa rasa, dan
tanpa karsa,
yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat,
lebur dening pangastuti.
[9/10 14:56] aji rasha: KONSEP
ARWAH PENASARAN
Sebaliknya
ruh
yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi,
masih memiliki tali rasa, misalnya
rasa penasaran karena masih ada tanggung jawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang”
yang belum terselesaikan, menyebabkan
rasa penasaran.
Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi,
karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur.
Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan”
arwah (penasaran)
tersebut.
[9/10 15:13] aji rasha: JALAN SETAPAK MERAIH
KESUCIAN
(Jihad/
Perang Baratayudha/
Perang Sabil)
Mati penasaran,
kebalikan dari
mati sempurna.
Dalam kajian Kejawen,
mati dalam puncak kesempurnaan
adalah
mati moksa atau
mosca atau
mukswa,
yakni
warangka (raga)
manjing
curigo (ruh).
Raga yang suci,
adalah
yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi
ke dalam ruh.
Ruh Suci/
Roh Kudus
(Ruhul Kuddus)
sebagai
retasan dari hakikat Dzat, memiliki
20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat,
misalnya
kodrat,
iradat,
berkehendak,
mandiri,
abadi,
dst.
Sebaliknya,
ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi
budak nafsu duniawi, sebagaimana
sifat hakikat ragawi,
yang akan hancur,
tidak abadi, dan
destruktif.
Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik
dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci.
Oleh karena itu,
menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan
perang Baratayudha di Padang Kurusetra,
antara
Pendawa (kebaikan yang lahir dari
akal budi dan panca indera) dengan musuhnya
Kurawa (nafsu angkara murka).
Perang inilah yang dimaksud pula dalam
ajaran Islam
sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.
Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni
mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni;
rela (rilo),
ikhlas (legowo),
menerima/qonaah (narimo ing pandum),
jujur dan benar (temen lan bener),
menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan
budi yang luhur (lakutama). Adalah
pitutur sebagai pengingat-ingat
agar supaya manusia selalu eling atau
selalu mengingat Tuhan untuk menjaga
kesucian dirinya,
seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :
“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi,
budi sumurupo marang napsu,
napsu sumurupo marang nyowo,
nyowo sumurupo marang rahso,
rahso sumurupo marang cahyo,
cahyo sumurupo marang atmo,
atmo sumurupo marang ingsun,
ingsun jumeneng pribadi”
(jagad bumi seisinya pahamilah badan,
badan pahamilah budi,
budi pahamilah nafsu,
nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa,
rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat). Artinya,
bahwa manusia
sebagai derivasi terakhir yang berasal dari
Dzat Sang Pencipta
harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni
“sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan
Pencipta jagad raya.
Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan
“jalan tembus”
menuju
Yang Maha Kuasa.
Adalah 7 perkara
yang harus dicegah,
yakni;
1. Jangan ceroboh,
tetapi harus rajin sesuci.
2. Jangan mengumbar nafsu
makan, tetapi makanlah
jika sudah merasa lapar.
3. Jangan kebanyakan
minum, tetapi minum lah
jika sudah merasa haus.
4. Jangan gemar tidur, tetapi
tidur lah jika sudah merasa
kantuk.
5. Jangan banyak omong,
tetapi bicara lah dengan
melihat situasi dan
kondisi. (berbicara jika hal
itu lebih baik daripada
diamnya)
6. Jangan mengumbar nafsu
seks, kecuali jika sudah
merasa sangat rindu.
7. Jangan selalu
bersenang-senang hati dan
hanya demi membuat
senang orang-orang,
walaupun sedang
memperoleh kesenangan,
asal tidak meninggalkan
duga kira.
Demikian pula,
di dalam hidup ini
jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara
berikut;
1. Mengumbar hawa nafsu.
2. Mengumbar kesenangan. 3. Suka bermusuhan dan
tindak aniaya.
4. Berulah yang meresahkan.
5. Tindakan nista.
6. Perbuatan dengki hati.
7. Bermalas-malas dalam
berkarya dan bekerja.
8. Enggan menderita dan
prihatin.
Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti
digambarkan dalam
rumus bahasa berikut ini;
1. Nistapapa; orang nista
pasti mendapat
kesusahan.
2. Dhustalara; orang
pendusta pasti mendapat
sakit lahir atau batin.
3. Dorasangsara; gemar
bertikai pasti mendapat
sengsara.
4. Niayapati; orang aniaya
pasti mendapatkan
kematian.
[9/10 15:57] aji rasha: PERBUATAN,
PASTI
MENIMBULKAN
“RESONANSI”
Demikianlah,
sebab pada dasarnya perilaku hidup itu
ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema,
artinya
apapun perbuatan kita kepada orang lain,
sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik
pada orang lain, maka akan menimbulkan
“gema”
berupa kebaikan yang
lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi.
Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa; ·
Barang siapa menabur angin, akan menuai badai, ·
Siapa menanam, akan mengetam, ·
Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan, · Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang. ·
Orang pelit, pailit. ·
Pemurah hati, mukti.
PERILAKU TAPA BRATA
Idealnya,
setiap orang
sepanjang hidupnya
dapat melaksanakan
“tapa brata” atau
mesubudi,
menahan hawa nafsu,
yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa
seperti di bawah ini;
1. Tapa/
puasanya badan/raga;
harus anoraga;
rendah hati;
gemar berbuat baik.
2. Tapa/
puasanya hati;
nerima apa adanya;
qonaah;
tak punya niat/
prasangka buruk,
tidak iri hati.
3. Tapa/
puasanya nafsu;
ikhlas dan sabar dalam
menerima musibah,
serta memberi maaf
kepada orang lain.
4. Tapa/
puasanya sukma;
jujur.
5. Tapa/
puasanya rahsa;
mengerem sembarang
kemauan, serta
kuat prihatin dan
menderita.
6. Tapa/
puasanya cahya;
eneng-ening;
tirakat atau
bertapa dalam
keheningan,
kebeningan, dan
kesucian.
7. Tapa/
puasanya hidup (gesang);
eling (selalu sadar
makro-mikrokosmos) dan
selalu waspada dari
segala perilaku buruk.
Selain itu,
anggota badan (raga) juga memiliki tanggung jawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat
puasa atau
tapa brata;
1. Tapa/
puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan
menutup mata dari
nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.
2. Tapa/
puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau
yang buruk-buruk.
3. Tapa/
puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan
enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.
4. Tapa/
puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang lain.
5. Tapa/
puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat,
tidak sembarangan ngentot/ ngewe/
senggama/
zina.
6. Tapa/
puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok,
nyopet,
korupsi, dan
tidak suka cengkiling;
jail dan menyakiti orang lain. 7. Tapa/
puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif,
tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.
Tapa/
maladi hening/
mesu budi/
puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;
Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek.
Katimbang melek, becik lungguh.
Katimbang lungguh, becik ngadeg.
Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.
(Daripada tidur lebih baik bangun.
Daripada bangun lebih baik melek.
Daripada melek lebih baik duduk.
Daripada duduk lebih baik berdiri.
Daripada berdiri lebih baik melangkahlah)
Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan
tata laku di atas,
hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada.
Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabur,
sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut,
dan tidak kentara oleh orang lain,
sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain.
Untuk itu manusia pinunjul harus;
1. Solah bawa,
harga diri,
perbuatan,
harus selalu di jaga.
2. Keluarnya ucapan
harus dibuat yang
mendinginkan,
menyejukkan, dan
menentramkan lawan
bicara.
3. Raut wajah yang manis,
penuh kelembutan dan
kasih sayang.
Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan
dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat,
tidak asal-asalan.
Karena sekalipun “isi”
nya berkualitas,
tetapi bungkusnya jelek, maka “isi” nya menjadi tidak berharga.
Dengan kata lain,
jangan mengabaikan
(dugo prayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik.
Sebab sesempurnaanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga
manakala kele-mahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain
tidak akan menjadi “batu sandungan”.
Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;
1. Kusutnya pakaian;
tertutup oleh derajat
(harga diri) yang luhur.
[9/10 16:05] aji rasha: Terpelesetnya lidah,
tertutup oleh manisnya tutur kata.
Kecewanya warna,
tertutup oleh budi pekerti. Cacadnya raga,
tertutup oleh air muka yang ramah.
Keterbatasan,
tertutup oleh sabar dan bijaksana.
Oleh karena itu,
meraih kesempurnaan
dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan
tapa brata.
Kegagalan melaksanakan tapa brata,
dapat membawa manusia kepada zaman
“paniksaning gesang”
tidak lain adalah
nerakanya dunia,
seperti di bawah ini;
1. Zamannya kemelaratan,
dimulai dari perilaku boros. 2. Zamannya menderita aib,
dimulai dari watak lupa
terlena, tanpa awas.
3. Zamannya kebodohan,
dimulai dari sikap malas
dan enggan.
4. Zamannya angkara,
dimulai dengan sikap mau
menang sendiri.
5. Zamannya sengsara,
dimulai dari perilaku yang
kacau.
6. Zamannya penyakit,
diawali dari kenyang
makan.
7. Zamannya kecelakaan,
diawali dari perbuatan
mencelakai orang lain.
Sebaliknya,
“ganjaraning gesang”
atau
“surganya dunia”,
lebih dari sekedar
kemuliaan hidup
itu sendiri,
yakni;
1. Zamannya keberuntungan,
awalnya dari sikap
hati-hati, tidak ceroboh.
2. Zamannya kabrajan,
awalnya dari budi luhur
dan belas kasih.
3. Zamannya keluhuran,
awalnya dari giat andap
asor, sopan santun.
4. Zamannya kebijaksanaan,
awalnya dari telaten
bibinau.
5. Zamannya kesaktian
(kasekten), awalnya dari
puruita dan tapabrata.
6. Zamannya karaharjan
(ketentraman-keselamatan),
awalnya dari eling &
waspada.
7. Zamannya kayuswan
(umur panjang),
awalnya sabar, qonaah,
narimo, legowo, tapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar