Sabtu, 23 Oktober 2021

cara pembuat wadah bathin

[9/10 14:10] aji rasha: TATA CARA 
MEMBUAT WADAH BATIN

Selain mengamalkan 
CARA MEMBUKA 
PINTU ILMU GAIB, 
Anda harus mengetahui hambatan yang ada 
ketika riyadoh ilmu gaib. Sesungguhnya 
Nafsu 
merupakan hijab 
yang menjadi bagian 
dari hambatan tersebut kepada Allah ta’ala, 
dan untuk dapat masuk Fatihah dan Al-Ikhlas 
adalah pintu gerbangnya. Untuk 
riyadoh/
tirakat/
pengamalan keilmu an, 
baik pada 
dzikir nafas 
maupun pada 
pembacaan mantera 
harus dibuka hijabnya dahulu agar 
energi keilmuan tersebut dapat masuk 
dengan sempurna, 
yaitu dengan 
tata cara 
di bawah ini. 
Setelah proses pembukaan selesai, 
nanti juga harus 
dilakukan proses penutupannya. 
Tata caranya 
adalah sebagai berikut: 
1. Bismillah… 
    Khususon illa ruuhi wa
    jazadi…. 
   (sebut nama sendiri), 
   (ALIF LAM 3X)
    walhadiatan… 
   ALFATIHAH 5X, 
   AL-IKHLAS 5X 

2. Lalu melakukan 
    riyadoh…
    (tirakat atau baca mantera
     untuk memasukkan ilmu)

3. Setelah selesai riyadoh,
    maka harus ditutup 
    atau dikunci 
    agar energi amalan 
    yang ditirakati tadi 
    tidak keluar 
    bahkan menjadi 
    tidak stabil, 
    yaitu dengan 
    cara membaca :
    SUBHANALLAHI ALFI ALFI
    LA HAULA WALA
    QUWWATA ILLA BILLAHIL
    ‘ALIYYIL ‘AZHIIM… 3X 

4. Kemudia baca yang sama
    dengan pembukaannya,
    hanya pada Alif Lam
    dibalik menjadi Lam Alif.
    Khususon illa ruuhi 
    wa jazadi…. 
   (sebut nama sendiri), 
   (LAM ALIF 3X)
    walhadiatan… 
    ALFATIHAH 5X, 
    AL-IKHLAS 5X 
    Amalan ini 
    selain sebagai 
    wadah keilmuan batin, 
    juga sebagai pageran 
    atau perisai. 
    Pengamalnya tidak dapat
    diterawang oleh orang lain,
    karena tidak ada unsur
    khodam.
[9/10 14:36] aji rasha: PUASA WETON HARI LAHIR

Wetonan (Puasa Weton). Puasa weton (wetonan) adalah 
puasa untuk memperingati hari kelahiran seseorang sesuai laku dan tradisi dalam budaya jawa. 
Puasa weton adalah 
jenis puasa ngebleng yang sudah umum dilakukan oleh orang-orang di masyarakat jawa pada hari weton kelahirannya yang perhitungan waktu mulai berpuasa dan menutup puasa dilakukan berdasarkan hari kelahirannya dalam kalender jawa. 
Puasa weton biasanya dilakukan orang dengan 
niat menjaga kedekatan hubungan pancer (orangnya) dengan roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu 
peka rasa dan batin, 
peka firasat, 
peka bisikan gaib, 
untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhurnya, supaya 
hidupnya keberkahan dan lancar segala urusan dan usahanya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting. 
Puasa weton harus dilakukan dengan sugesti kebatinan, yaitu dengan 
sikap hati berprihatin, menjauhi hiburan dan 
sikap bersenang-senang dan banyak berdoa 
menghadap ke timur dengan kesatuan hati difokuskan kepada Tuhan. 
(baca : Kebatinan Dalam Keagamaan), 
bukan sekedar sudah terlaksananya formalitas berpuasa weton, karena pengaruhnya yang diharapkan adalah 
bersifat kegaiban roh / sukma, bukan biologis. 
Laku puasa tersebut dimaksudkan untuk menjadikan hidup mereka lebih 'bersih' dan keberkahan, sekaligus juga bersifat kebatinan, yaitu untuk memelihara kepekaan batin dan memperkuat hubungan mereka dengan saudara kembar gaib mereka yang biasa disebut 'Sedulur Papat', sehingga lakunya berpuasa itu juga untuk memelihara 'berkah' indera keenam seperti 
peka firasat, 
peka terhadap petunjuk gaib / pertanda, 
peka tanda-tanda alam, 
dsb. 
Kegaiban puasa weton 
terkait dengan kegaiban yang berasal dari sukma manusia sendiri (kegaiban dari kesatuan roh pancer dan sedulur papat), 
tidak berhubungan dengan kegaiban roh-roh lain atau khodam. 
Puasa weton tidak bisa disamakan atau diperbandingkan atau 
ditukar dengan puasa bentuk lain, karena 
sifat dan kegaibannya berbeda. 
Dalam menjalankan 
puasa weton orang tetap dibolehkan melakukan aktivitas yang lain, hanya saja jangan sampai orangnya lupa bahwa ia sedang berlaku prihatin. 
Selama menjalankan 
puasa weton itu 
orangnya harus sadar 
bahwa ia sedang berlaku prihatin. 
Sejak jaman dulu masyarakat dan spiritual Jawa meyakini bahwa setiap manusia mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Mereka tidak kelihatan mata biasa. 
Mereka tergolong sebagai roh-roh halus. Saudara-saudara halus ini banyak yang menyebutnya dengan istilah 
Saudara Kembar, atau disebut juga 
Roh Sedulur Papat. 
Konsep tersebut secara umum dipercaya dan dihayati oleh masyarakat jawa. 
Dalam kehidupan sehari-harinya 
di masa sekarang pun banyak orang Jawa yang masih menjalankan laku prihatin dan tirakat tertentu untuk memelihara Sedulur Papat mereka. 
Kepercayaan terhadap sedulur papat ini tata-laku dan ritualnya dimulai ketika seorang ibu melahirkan bayi. Selain atas kelahiran anaknya itu dilakukan syukuran / selametan, terhadap ari-ari si jabang bayi juga dilakukan suatu "perawatan". 
Ada tatacara dan ritual tersendiri untuk merawat dan menyimpan / memakamkan ari-ari anak, yang selain dibacakan doa-doa, biasanya juga diberikan sesaji kembang, diberikan lampu penerangan selama 7 atau 40 hari di tempat ari-ari dimakamkan, dan dijaga supaya tidak diganggu hewan dan tidak langsung terkena hujan. 
Pada hari-hari berikutnya biasanya sang orang tua akan tekun memelihara sedulur papat anak-anaknya dengan cara pada hari weton masing-masing anaknya (atau sebulan sekali) 
ia memberikan bubur merah putih atau jajan pasar untuk dimakan oleh anak-anaknya itu atau memberi kembang di makam ari-ari anak. Harapannya adalah 
supaya anak-anaknya itu terpelihara 
tubuh dan sukmanya, 
sehat secara kejiwaan, 
sehat tubuhnya tidak mudah sakit-sakitan, 
dan tidak ada masalah 
dalam hidupnya. 
Setelah anak-anaknya beranjak dewasa, 
maka anak-anaknya itu sendiri yang harus meme-lihara sedulur papatnya sendiri dengan cara rajin berpuasa weton setiap hari wetonnya (hari kelahirannya sesuai kalender jawa). 
Sampai sekarang dalam masyarakat Jawa masih ada kepercayaan dan tradisi yang dilestarikan untuk melakukan semacam ritual, puasa dan doa dan memberi sesaji untuk sedulur papat, seperti ritual / puasa wetonan, dengan sesaji bubur merah-putih, atau jajan pasar, mandi kembang, atau memberi kembang di makam ari-ari anak, dsb. 
Tradisi ini baik sekali bila dilakukan, supaya sukma orang yang bersangkutan terpelihara, sehat secara kejiwaan, sehat tubuhnya tidak mudah sakit-sakitan, dan supaya lancar segala urusan hidupnya. 
Bahkan ada juga orang yang secara khusus menyimpan ari-arinya (yang sudah kering) di dalam lemari atau di dalam dompetnya dengan harapan sedulur papatnya aktif mendampinginya dan membantunya dalam kehidupannya sehari-hari. Kepercayaan dasar atas laku dan ritual di atas adalah pada adanya kepercayaan tentang roh sedulur papat yang selalu mendampingi manusia sejak manusia itu lahir. 
Karena itu orang jawa yang masih memelihara kepercayaan kejawen akan menghormati kepercayaan itu, bahkan masih banyak yang tekun menjalankan tata-laku dan ritual yang terkait dengan sedulur papat. Puasa weton yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami atau tidak meyakini keberadaan roh sedulur papat kegaibannya tidak akan sebaik mereka yang melakukannya dengan landasan kepercayaan pada adanya kebersamaan roh sedulur papat. 
Keyakinan pada keberadaan dan kebersamaan roh sedulur papat dengan pancer akan memperkuat kegaiban sukma dan memperkuat interaksi roh sedulur papat dengan roh-roh leluhur orangnya. 
Dalam kehidupannya sehari-hari kegaiban sukma akan membantu dalam kemantapan bersikap, membantu membuka jalan hidup dan menyingkirkan halangan dan kesulitan-kesulitan, dan interaksi sedulur papat akan membantu peka rasa dan firasat, peka bisikan gaib, mendatangkan ide-ide dan ilham, peringatan-peringatan dan jawabanjawaban permasalahan. 
Puasa weton adalah suatu laku yang berasal dari tradisi budaya jawa, dilakukan dengan berpuasa pada hari kelahiran seseorang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu) 
yang hari kelahirannya itu disesuaikan dengan 
hari pasaran jawa 
(Legi, Pahing, Pon, Wage atau Kliwon). 
Dengan demikian hari weton kelahiran seseorang akan selalu berulang setiap 35 hari sekali. 
Sesuai ajaran kebatinan jawa selama berpuasa itu orangnya berdoa di malam hari kepada Tuhan di luar rumah menghadap ke timur. Penjelasan penetapan hari jawa : 
Dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada hari sebelumnya pukul 5 sore 
(pk.17.00) dan 
berakhir pada hari yang bersangkutan pukul 5 sore (pk.17.00). 
Jadi, mulainya hari 
adalah hari sebelumnya pk.5 sore, dan batas akhir suatu hari adalah hari itu pada pk.5 sore (pastikan Anda mengetahui jam berapa Anda dilahirkan). 
Berarti hari Senin dimulai pada hari sebelumnya, yaitu hari Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore. 
Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa, 
karena sudah melewati batas akhir hari Senin pk.5 sore.

Hitungan hari kelahiran jawa : 

Misalnya tanggal kelahiran 10 Juni 1970, 
pada penanggalan jawa harinya adalah Rabu Wage. Sesuai hitungan hari jawa di atas, maka hari kelahiran Rabu Wage 10 Juni 1970 itu berlaku untuk orang-orang yang lahir dalam rentang waktu antara 9 Juni 1970 pk.17.00 sampai dengan 10 Juni 1970 pk.17.00. 
Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari kelahirannya adalah hari Rabu Wage. Sedangkan orang-orang kelahiran 10 Juni 1970 pada malam hari (melewati pk.17.00), berarti hari kelahiran jawa orang itu bukan Rabu Wage, tetapi adalah Kamis Kliwon, karena waktu (jam) kelahirannya sudah melewati batas akhir hari Rabu Wage pk.17.00, sudah masuk ke hari Kamis Kliwon. Orang-orang itu, bila ingin puasa weton, yang dijadikan patokan hari jawa kelahirannya adalah Kamis Kliwon, bukan Rabu Wage. (Mengenai hitungan hari kelahiran jawa ini silakan dicari pada program primbon hari kelahiran di internet. Sesudah itu tinggal anda sesuaikan hari jawanya dengan jam kelahiran anda apakah pagi hari, siang hari atau malam hari. 
Lebih baik lagi bila programnya itu bisa didownload). 
Beberapa hitungan hari dalam puasa weton sbb : 
1. Puasa weton sehari. 
    Puasa weton sehari ini
    adalah yang secara umum
    dilakukan orang dalam
    budaya Jawa. 
    Puasanya 1 hari Jawa
   (sehari semalam, 24 jam).
   Misalnya hari kelahirannya
   adalah Selasa Pahing,
   maka puasanya dimulai
   pada hari sebelumnya, 
   yaitu hari Senin pk.5 sore
  dan berakhir pada hari
  Selasa Pahing tersebut pk.5
  sore. 2. Puasa weton 3 hari
  (puasa apit weton - hari
  weton diapit di tengah).
  Puasa weton 3 hari
  biasanya dilakukan untuk
  harapan terkabulnya suatu
  keinginan khusus yang
  kejadiannya tidak terjadi
  setiap hari. Puasa weton 3
  hari dilakukan selama 3 hari
  jawa terus-menerus tanpa
  putus, yaitu puasa pada hari
  wetonnya ditambah 1 hari
  sebelumnya dan 1 hari
  sesudahnya, sehingga total
  puasa menjadi 3 hari jawa
  terus-menerus (3 x 24 jam).
  Hari wetonnya diapit di
  tengah. Puasa weton 3 hari
  (puasa apit weton) ini
  mempunyai efek kegaiban
  mirip seperti puasa
  ngebleng 3 hari. 31

Misalnya 
kelahiran Rabu Kliwon, 
maka puasanya dijalankan selama 3 hari, yaitu 
Selasa, 
Rabu Kliwon dan 
Kamis, 
terus-menerus tanpa putus. Hari Selasa dimulai pada hari Sebelumnya, yaitu hari Senin pk.5 sore. Hari Kamis berakhir pada pk. 5 sore hari. Jadi puasa weton Rabu Kliwon 3 hari itu dimulai pada hari Senin pk.5 sore dan berakhir pada hari Kamis pk.5 sore. Puasanya terus-menerus tanpa putus siang dan malam. 
Ber-buka puasanya hari Kamis pk.5 sore. 
3. Puasa weton 3 hari selama 7 kali berturut-turut (7 kali puasa apit weton). 
Artinya, 
puasanya dijalankan selama 3 hari jawa terus-menerus tanpa putus dan dilakukan selama 7 kali berturut-turut tanpa putus (selama 7 bulan jawa berturut-turut). 
Jenis puasa ini biasanya dilakukan untuk harapan terkabulnya suatu keinginan khusus yang bukan sesuatu yang biasa terjadi sehari-hari dan waktu pencapaiannya agak panjang (pada masa depan), atau untuk keinginan terkabulnya suatu keinginan khusus yang berat, yang kadarnya tinggi, yang bagi seseorang sulit untuk dicapai dengan usaha yang normal (biasanya disertai nazar), sehingga diperlukan suatu laku tambahan demi terkabulnya keinginannya itu, yaitu puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahirannya dan dilakukan selama 7 kali (7 bulan jawa) berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan suatu ritual dan sesaji penutup (tumpengan), selametan atau syukuran atas berhasilnya dirinya menunaikan hajat berpuasa itu. Sesudah puasa 7 kali itu tercapai, bulan-bulan berikutnya tetap puasa wetonan. 
Misalnya kelahiran Rabu Kliwon, maka puasa weton 3 hari setiap Rabu Kliwon itu dilakukan terus-menerus selama 7 kali berturut-turut (7 bulan jawa) tanpa putus. Catatan: Sejarah puasa apit weton (3 hari) berasal dari cerita saat nabi Adam a.s diturunkan ke Bumi, beliau menangis sedih karena seluruh tubuhnya berubah hitam kelam. 
Tangisan tersebut sampai terdengar oleh 
Malaikat Jibril a.s. 
Karena tidak tega mendengar tangisan tersebut, 
maka Malaikat Jibril a.s menemui nabi Adam a.s, dan diajarkanlah untuk berpuasa 3 hari. 
Ketika puasa tersebut dijalani oleh nabi Adam a.s, 
pada hari pertama berubahlah kulit pada kepala sampai leher menjadi putih. Pada hari ke-dua berubahlah kulitnya dari leher ke pinggang, dan pada hari ke-tiga, kembalilah seluruh tubuh nabi Adam a.s putih kembali seperti semula. Itulah sebabnya puasa ini disebut PUASA PUTIH. 
Oleh Malaikat Jibril a.s. puasa ini diminta untuk diajarkan kepada keturunan nabi Adam a.s. 
Demikianlah akhirnya puasa ini diajarkan oleh 
Kanjeng Sunan Kalijaga kepada kita. 
Sesuai ajaran kejawen, 
saat memulai puasa weton dan pada malam hari 
selama berpuasa berdoalah menghadap ke timur 
di luar rumah 
kepada Tuhan di atas sana. Setelah selesai berpuasa berdoa juga mengucap syukur karena telah diberi kekuatan sehingga dapat menyelesaikan puasanya. Mudah-mudahan Tuhan memberkahi. 
Puasa weton menjadi sempurna bila dimulai dengan mandi keramas (dengan shampo) 
dan pada penutupan puasanya dilakukan pemberian sesaji untuk 
roh sedulur papat dan pancer sebagai berikut (salah satu) : 1. Terbaik, 
mandi kembang telon atau kembang tujuh rupa, 
guyuran basah semua dari kepala sampai ke kaki.
[9/10 14:54] aji rasha: 2. Kedua terbaik, 
makanan / kue jajan pasar 
7 macam, dimakan sebagai makanan berbuka puasa. 
3. Ketiga terbaik, 
bubur merah putih, yaitu bubur tepung beras (bubur sumsum) yang diberi gula jawa cair, dimakan sebagai makanan berbuka puasa. Dengan demikian yang disebut puasa weton (wetonan) itu adalah 
satu kesatuan puasa weton + mandi kembang telon atau sesaji lain seperti disebutkan di atas. 
Tetapi wetonan tanpa mandi kembang telon / tujuh rupa atau jajan pasar tidak apa-apa, boleh-boleh saja. Sesaji kembang telon / tujuh rupa atau jajan pasar itu bukanlah keharusan. 
Itu hanya diperlukan bila kita menginginkan kesempurnaan dari laku kita itu. 
Karena itu bila diinginkan kesempurnaan dari anda menjalankan puasa weton sebaiknya pada penutupan puasanya anda memberikan sesaji untuk roh pancer dan sedulur papat anda supaya kegaiban wetonan anda itu lebih sempurna, bukan sekedar berpuasa saja. Puasa weton adalah 
salah satu sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya dan menjadi sarana memperkuat kesatuan antara seseorang (pancer) dengan roh sedulur papat dan roh para leluhurnya. 
Mandi kembang menjadi sarana pemberian perhatian seseorang kepada roh sedulur papatnya, "memandikan" / membersihkan roh pancer dan sedulur papatnya yang hasil akhirnya akan juga "membersihkan" orang itu sendiri dari aura-aura negatif tubuh dan sukmanya dan "membersihkan" hidupnya dari kesulitan-kesulitan yang berasal dari dirinya sendiri. 

Kegaiban yang berasal dari kesatuannya dengan roh sedulur papatnya akan membantu membukakan jalan hidupnya dan membuat keinginan-keinginannya menjadi semakin mudah terwujud. 
Bagi yang niat wetonan, tapi tidak sempat menjalankan puasanya atau berhalangan, cukup mandi kembang saja, bisa pagi hari, bisa siang atau sore hari, dan berdoa tulus kepada Tuhan di luar rumah menghadap ke timur. Puasa weton terkait dengan kepercayaan pada kegaiban sukma (kepercayaan pada kesatuan dan kebersamaan pancer dan roh sedulur papat). 
Biasanya dijalankan untuk menjaga kedekatan hubungan orangnya dengan para roh sedulur papatnya, supaya kuat sukmanya, selalu peka rasa dan batin, peka firasat, dan untuk mendapatkan restu pengayoman dari para leluhurnya, supaya hidupnya keberkahan dan lancar segala urusannya, atau untuk terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting. 
Puasa weton tidak bisa disamakan, digantikan atau ditukar dengan puasa bentuk lain, karena sifat dan kegaibannya berbeda. 
Puasa weton (wetonan) adalah salah satu laku budaya kebatinan yang sudah umum dilakukan dalam masyarakat jawa. 
Tetapi sehubungan dengan adanya pengaruh budaya Islam dalam masyarakat jawa, orang-orang jawa saat ini yang masih melakukan puasa weton ini sudah tidak lagi menjalankannya sesuai aslinya ajaran jawa, yaitu dengan puasa ngebleng, tetapi melakukan puasanya sama dengan puasa biasa saja, yaitu puasa dari subuh sampai mahgrib saja. Sekalipun laku puasa weton yang dipengaruhi budaya Islam itu masih memberikan kegaiban, tetapi sudah tidak lagi besar seperti seharusnya, bahkan banyak orang yang tidak lagi dapat merasakan kegaibannya sehingga kemudian tidak lagi melakukannya, kemudian digantikannya dengan puasa Senin - Kamis, puasa mutih, atau puasa berpantang makanan tertentu saja.

ILMU LAKSITA JATI 

Ilmu yang mengajarkan 
tata cara menghargai 
diri sendiri, dengan 
“laku” batin 
untuk mensucikan raga 
dari 
nafsu angkara murka (amarah), 
nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan 
nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservoir nafsul mutmainah. 
Agar supaya jika 
manusia mati, 
raganya dapat menyatu dengan 
“badan halus” atau 
ruhani atau 
badan sukma. 
Hakikat kesucian, 
“badan wadag” atau 
raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, 
karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) 
pada saat manusia lahir dari rahim ibu. 
Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, 
selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), 
jika mati kelak 
“badan wadag” akan 
luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh 
Hayyu Dhaim, atau 
Shang Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan 
“warongko manjing curigo”. Maksudnya, 
“badan wadag” 
melebur ke dalam 
“badan halus”. 
Pada saat manusia hidup 
di dunia (mercapada), dilambangkan dengan 
“curigo manjing warongko”; maksudnya 
“badan halus” 
masih berada di dalam “badan wadag”. 
Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut: “Jasad pengikat budi, 
budi pengikat nafsu, 
nafsu pengikat karsa (kemauan), 
karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, 
rasa pengikat cipta, 
cipta pengikat penguasa, penguasa peng-ikat Yang Maha Kuasa”. 
Sebagai contoh : 
Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, 
maka tali pengikat budi menjadi putus. 
Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. 
Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah 
semua nafsu-nafsunya; misalnya 
amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. 
Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, 
maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal tersisa tali karsa atau kemauan. 
Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. 
Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. 
Namun demikian, 
sukma masih mengikat rasa, dalam artian 
sukma sebenarnya masih memiliki rasa, 
dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. 
Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. 
Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal, karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya. 
Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh. 

Rahsa atau rasa, 
merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) 
yang mewujud ke dalam 
diri manusia. 
Dzat adalah 
Yang Maha Tinggi, 
Yang Maha Kuasa, 
Tuhan Sang Pencipta alam semesta. 
Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut

Dzat (Dzatullah) 
Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi; 
Hayyu Dhaim (Hayyun) Energi Yang Hidup, 
meretas menjadi; 
Cahya atau cahaya (Nurullah), 
meretas menjadi; 
Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), 
meretas menjadi ; 
Sukma atau ruh (Ruhullah).

No 1 s/d no 5 adalah 
retasan dari 
Dzat, 
Tuhan Yang Maha Kuasa, maka 
ruh bersifat abadi, 
cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. 
Ruh yang suci 
yang akan melanjutkan “perjalanannya” 
menuju ke 
haribaan Tuhan, 
dan akan melewati 
alam ruh atau 
alam barzah, 
dimana suasana menjadi “jengjem jinem” 
tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. 
Sebelum masuk ke 
dimensi barzah, 
ruh 
melepaskan tali rasa, kemudian 
ruh 
masuk ke dalam dimensi alam barzah 
menjadi hakikat 
cahaya tanpa rasa, dan 
tanpa karsa, 
yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, 
lebur dening pangastuti.
[9/10 14:56] aji rasha: KONSEP 
ARWAH PENASARAN

Sebaliknya 
ruh 
yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, 
masih memiliki tali rasa, misalnya 
rasa penasaran karena masih ada tanggung jawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” 
yang belum terselesaikan, menyebabkan 
rasa penasaran. 
Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, 
karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. 
Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” 
arwah (penasaran) 
tersebut.
[9/10 15:13] aji rasha: JALAN SETAPAK MERAIH
          KESUCIAN

(Jihad/
Perang Baratayudha/
Perang Sabil) 
Mati penasaran, 
kebalikan dari 
mati sempurna. 
Dalam kajian Kejawen, 
mati dalam puncak kesempurnaan 
adalah 
mati moksa atau 
mosca atau 
mukswa, 
yakni 
warangka (raga) 
manjing 
curigo (ruh). 
Raga yang suci, 
adalah 
yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi 
ke dalam ruh. 
Ruh Suci/
Roh Kudus 
(Ruhul Kuddus) 
sebagai 
retasan dari hakikat Dzat, memiliki 
20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, 
misalnya 
kodrat, 
iradat, 
berkehendak, 
mandiri, 
abadi, 
dst. 
Sebaliknya, 
ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi 
budak nafsu duniawi, sebagaimana 
sifat hakikat ragawi, 
yang akan hancur, 
tidak abadi, dan 
destruktif. 
Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik 
dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. 
Oleh karena itu, 
menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan 
perang Baratayudha di Padang Kurusetra, 
antara 
Pendawa (kebaikan yang lahir dari 
akal budi dan panca indera) dengan musuhnya 
Kurawa (nafsu angkara murka). 
Perang inilah yang dimaksud pula dalam 
ajaran Islam 
sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme. 
Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni 
mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni; 
rela (rilo), 
ikhlas (legowo), 
menerima/qonaah (narimo ing pandum), 
jujur dan benar (temen lan bener), 
menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan 
budi yang luhur (lakutama). Adalah 
pitutur sebagai pengingat-ingat 
agar supaya manusia selalu eling atau 
selalu mengingat Tuhan untuk menjaga 
kesucian dirinya, 
seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini : 
“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, 
budi sumurupo marang napsu, 
napsu sumurupo marang nyowo, 
nyowo sumurupo marang rahso, 
rahso sumurupo marang cahyo, 
cahyo sumurupo marang atmo, 
atmo sumurupo marang ingsun, 
ingsun jumeneng pribadi” 
(jagad bumi seisinya pahamilah badan, 
badan pahamilah budi, 
budi pahamilah nafsu, 
nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, 
rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat). Artinya, 
bahwa manusia 
sebagai derivasi terakhir yang berasal dari 
Dzat Sang Pencipta 
harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni 
“sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan 
Pencipta jagad raya. 
Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan 
“jalan tembus” 
menuju 
Yang Maha Kuasa. 
Adalah 7 perkara 
yang harus dicegah, 
yakni; 
1. Jangan ceroboh, 
     tetapi harus rajin sesuci. 
2. Jangan mengumbar nafsu
     makan, tetapi makanlah
     jika sudah merasa lapar. 
3. Jangan kebanyakan
    minum, tetapi minum lah
    jika sudah merasa haus. 
4. Jangan gemar tidur, tetapi
    tidur lah jika sudah merasa
    kantuk. 
5. Jangan banyak omong,
    tetapi bicara lah dengan
    melihat situasi dan
    kondisi. (berbicara jika hal
    itu lebih baik daripada
    diamnya) 
6. Jangan mengumbar nafsu
    seks, kecuali jika sudah
    merasa sangat rindu. 
7. Jangan selalu
    bersenang-senang hati dan
    hanya demi membuat
    senang orang-orang,
    walaupun sedang
    memperoleh kesenangan,
    asal tidak meninggalkan
    duga kira. 

Demikian pula, 
di dalam hidup ini 
jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara 
berikut; 
1. Mengumbar hawa nafsu. 
2. Mengumbar kesenangan. 3. Suka bermusuhan dan
    tindak aniaya. 
4. Berulah yang meresahkan. 
5. Tindakan nista. 
6. Perbuatan dengki hati. 
7. Bermalas-malas dalam
    berkarya dan bekerja. 
8. Enggan menderita dan
    prihatin. 
Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti 
digambarkan dalam 
rumus bahasa berikut ini; 
1. Nistapapa; orang nista
    pasti mendapat
    kesusahan. 
2. Dhustalara; orang
    pendusta pasti mendapat
    sakit lahir atau batin. 
3. Dorasangsara; gemar
    bertikai pasti mendapat
    sengsara. 
4. Niayapati; orang aniaya
    pasti mendapatkan
    kematian.
[9/10 15:57] aji rasha: PERBUATAN, 
       PASTI 
MENIMBULKAN
  “RESONANSI”

Demikianlah, 
sebab pada dasarnya perilaku hidup itu 
ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, 
artinya 
apapun perbuatan kita kepada orang lain, 
sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik 
pada orang lain, maka akan menimbulkan 
“gema” 
berupa kebaikan yang 
lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. 
Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa; · 
Barang siapa menabur angin, akan menuai badai, · 
Siapa menanam, akan mengetam, · 
Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan, · Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang. · 
Orang pelit, pailit. · 
Pemurah hati, mukti.

PERILAKU TAPA BRATA

Idealnya, 
setiap orang 
sepanjang hidupnya 
dapat melaksanakan 
“tapa brata” atau 
mesubudi, 
menahan hawa nafsu, 
yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa 
seperti di bawah ini; 
1. Tapa/
     puasanya badan/raga;
     harus anoraga; 
     rendah hati; 
     gemar berbuat baik. 
2. Tapa/
     puasanya hati; 
     nerima apa adanya;
     qonaah; 
     tak punya niat/
     prasangka buruk, 
     tidak iri hati. 
3. Tapa/
     puasanya nafsu; 
     ikhlas dan sabar dalam
     menerima musibah, 
     serta memberi maaf
     kepada orang lain. 
4. Tapa/
     puasanya sukma; 
     jujur. 
5. Tapa/
     puasanya rahsa;
     mengerem sembarang
     kemauan, serta 
     kuat prihatin dan
     menderita. 
6. Tapa/
     puasanya cahya;
     eneng-ening; 
     tirakat atau 
     bertapa dalam
     keheningan, 
     kebeningan, dan 
     kesucian. 
7. Tapa/
     puasanya hidup (gesang);
     eling (selalu sadar
     makro-mikrokosmos) dan
     selalu waspada dari
     segala perilaku buruk. 

Selain itu, 
anggota badan (raga) juga memiliki tanggung jawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat 
puasa atau 
tapa brata; 
1. Tapa/
puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan 
menutup mata dari 
nafsu selalu ingin memiliki/menguasai. 
2. Tapa/
puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau 
yang buruk-buruk. 
3. Tapa/
puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan 
enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain. 
4. Tapa/
puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang lain. 
5. Tapa/
puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, 
tidak sembarangan ngentot/ ngewe/
senggama/
zina. 
6. Tapa/
puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, 
nyopet, 
korupsi, dan 
tidak suka cengkiling; 
jail dan menyakiti orang lain. 7. Tapa/
puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, 
tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo. 
Tapa/
maladi hening/
mesu budi/
puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb; 
Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. 
Katimbang melek, becik lungguh. 
Katimbang lungguh, becik ngadeg. 
Katimbang ngadeg, becik lumakuo”. 
(Daripada tidur lebih baik bangun. 
Daripada bangun lebih baik melek. 
Daripada melek lebih baik duduk. 
Daripada duduk lebih baik berdiri. 
Daripada berdiri lebih baik melangkahlah) 
Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan 
tata laku di atas, 
hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. 
Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabur, 
sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, 
dan tidak kentara oleh orang lain, 
sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. 

Untuk itu manusia pinunjul harus; 
1. Solah bawa, 
    harga diri, 
    perbuatan, 
    harus selalu di jaga. 
2. Keluarnya ucapan 
    harus dibuat yang
    mendinginkan,
    menyejukkan, dan
    menentramkan lawan
    bicara. 
3. Raut wajah yang manis,
    penuh kelembutan dan
    kasih sayang. 

Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan 
dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, 
tidak asal-asalan. 
Karena sekalipun “isi” 
nya berkualitas, 
tetapi bungkusnya jelek, maka “isi” nya menjadi tidak berharga. 
Dengan kata lain, 
jangan mengabaikan 
(dugo prayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. 
Sebab sesempurnaanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga 
manakala kele-mahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain 
tidak akan menjadi “batu sandungan”. 
Seperti dalam ungkapan sebagai berikut; 
1. Kusutnya pakaian; 
    tertutup oleh derajat 
   (harga diri) yang luhur.
[9/10 16:05] aji rasha: Terpelesetnya lidah, 
tertutup oleh manisnya tutur kata. 
Kecewanya warna, 
tertutup oleh budi pekerti. Cacadnya raga, 
tertutup oleh air muka yang ramah. 
Keterbatasan, 
tertutup oleh sabar dan bijaksana.

Oleh karena itu, 
meraih kesempurnaan 
dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan 
tapa brata. 
Kegagalan melaksanakan tapa brata, 
dapat membawa manusia kepada zaman 
“paniksaning gesang” 
tidak lain adalah 
nerakanya dunia, 
seperti di bawah ini; 
1. Zamannya kemelaratan,
    dimulai dari perilaku boros. 2. Zamannya menderita aib,
    dimulai dari watak lupa
    terlena, tanpa awas. 
3. Zamannya kebodohan,
    dimulai dari sikap malas
    dan enggan. 
4. Zamannya angkara,
   dimulai dengan sikap mau
    menang sendiri. 
5. Zamannya sengsara,
    dimulai dari perilaku yang
    kacau. 
6. Zamannya penyakit,
    diawali dari kenyang
    makan. 
7. Zamannya kecelakaan,
   diawali dari perbuatan
    mencelakai orang lain.

 Sebaliknya, 
“ganjaraning gesang” 
atau 
“surganya dunia”, 
lebih dari sekedar 
kemuliaan hidup 
itu sendiri, 
yakni; 
1. Zamannya keberuntungan,
    awalnya dari sikap
    hati-hati, tidak ceroboh. 
2. Zamannya kabrajan,
    awalnya dari budi luhur
    dan belas kasih. 
3. Zamannya keluhuran,
    awalnya dari giat andap
    asor, sopan santun. 
4. Zamannya kebijaksanaan,
    awalnya dari telaten
    bibinau. 
5. Zamannya kesaktian
   (kasekten), awalnya dari
    puruita dan tapabrata. 
6. Zamannya karaharjan
  (ketentraman-keselamatan),
   awalnya dari eling &
   waspada. 
7. Zamannya kayuswan
    (umur panjang), 
    awalnya sabar, qonaah,
     narimo, legowo, tapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar