Rabu, 01 Desember 2021

Secara sederhana, insan yang menjadi khalifah Allah di muka bumi ini akan menjadi “bayangan” Allah Ta’ala di alam fisik,

[30/11 17:50] aji rasha: Secara sederhana, 
insan yang menjadi 
khalifah Allah di muka bumi ini akan menjadi “bayangan” Allah Ta’ala di alam fisik, 

sebagaimana diriwayatkan Rasulullah dalam sebuah hadits qudsi, 
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam citra Ar-Rahman.” 
Semua 
kehendaknya, 
tindakannya, 
keinginannya dan 
perilakunya 
adalah atas dasar tuntunan dan petunjuk Allah Ta’ala. 
Ia telah sepenuhnya diatur oleh Allah Ta’ala. Keinginannya menjadi sangat selaras dengan kehendak Allah Ta’ala, 
dan tidak lagi berasal dari pemikiran, 
syahwat atau 
hawa nafsunya sendiri. 
Ini, dalam agama, adalah sebuah kondisi yang dikatakan sebagai taqwa—dimana seorang hamba telah sepenuhnya terbebas dari dominasi syahwat dan 
hawa nafsunya sendiri, dan dominasi apa pun selain Allah.

Khalifah

Insan yang telah mampu menerima petunjuk inilah yang harus berperan sebagai khalifah Allah. 
Ia bertindak sebagai 
seorang pelaksana mandat, wakil Allah, dalam memakmurkan 
alam semesta masing-masing.

Secara umum, 
inilah bentuk pengabdian (ya’bud) yang dimaksud: menjadi hamba Allah 
yang menjadi “perpanjangan” peran Allah 
untuk memakmurkan 
alam semesta masing-masing di alam 
yang ini, 
berdasarkan tuntunan 
Allah Ta’ala dalam 
setiap tindakannya.

Menjadi insan 
yang sempurna adalah ber-taqwa, yaitu 
menjadi seorang 
khalifah Allah di bumi, menjadi bayangan Ar-Rahman, dan 
sepenuhnya tertuntun dan terinspirasi oleh Allah Ta’ala, berjalan di atas 
shirath al-mustaqim sebagai hamba-hamba yang diberi nikmat setiap saat, sebagaimana yang selalu kita mohonkan setiap saat.

اهْدِنَا الصِّرَ‌اطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَ‌اطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ‌ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami 
ke Shirath al-Mustaqim, 
jalan mereka yang kepadanya Engkau anugerahkan nikmat, bukan jalan mereka 
yang dimurkai, dan 
bukan jalan mereka 
yang sesat. – 
Q.S. Al-Faatihah [1]: 6-7

Pengabdian pada Allah 
yang seperti inilah—
yang sepenuhnya tertuntun dan senantiasa ditunjuki Allah Ta’ala—
yang disebut 
sebagai “menapaki 
shirath al-Mustaqim”.

وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَـٰذَا صِرَ‌اطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Dan hendaklah kamu mengabdi kepada-Ku. 
Inilah shirath al-Mustaqim. – Q.S. Yaasiin [36]: 61

 

إِنَّ اللَّـهَ هُوَ رَ‌بِّي وَرَ‌بُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَ‌اطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Sesungguhnya Allah, 
Dialah Rabb-ku dan 
Rabb kalian. 
Maka mengabdilah kepada-Nya. 
Inilah shirath al-Mustaqim. – Q.S. Az-Zukhruf [43]: 64
[30/11 17:53] aji rasha: Inilah sesungguhnya 
hamba Allah yang taqwa itu. Hamba-hamba 
yang taqwa ini, 
yang telah menerima petunjuk-Nya setiap saat, telah tertuntun dan selaras dengan Allah Ta’ala 
dan dijaga-Nya agar selalu dalam shirath al-Mustaqim. Inilah para Al-Muflihun.

Ini juga berarti, 
jika jin dan manusia 
harus melaksanakan peran tersebut, 
maka Allah sesungguhnya menciptakan jin dan manusia untuk mampu menerima petunjuk-petunjuk Allah setiap saat, 
melalui qalb masing-masing.

Itulah sesungguhnya fungsi nur iman dan qalb 
di dalam dada insan: 
sebagai organ spiritual untuk menerima petunjuk-Nya.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang ber-iman billah, niscaya 
Dia akan memberi petunjuk kepada qalb-nya. 
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. – 
Q.S. At-Taghaabun [64]: 11

Maka, sebagaimana dalam ayat tersebut, 
prasyarat untuk menerima petunjuk Allah dalam qalb masing-masing adalah adanya qalb yang suci dan adanya “iman billah”, 
yaitu iman yang berupa nur dari Allah Ta’ala, 
bukan sekadar iman lisan atau iman yang percaya saja.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُ‌وحًا مِّنْ أَمْرِ‌نَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِ‌ي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورً‌ا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَ‌اطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah 
Kami mewahyukan kepadamu ruh min amr 
(ruh dari urusan) Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah Al-Iman itu, 
tetapi Kami menjadikannya Nur (cahaya), 
yang Kami tunjuki dengan itu siapa-siapa yang kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. 
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada 
Shirath al-Mustaqim. – 
Q.S. Asy-Syuura [42]: 52

Al-Muflihun, Khalifah Allah, Shirath al-Mustaqim dan Taqwa

Al-Muflihun, 
Khalifah Allah, 
Shirath al-Mustaqim dan Taqwa


Siapakah orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun) itu? 

Dari sudut pandang Allah, orang-orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa dituntun dan ditunjuki oleh Allah 
setiap saat. 
Continuously. 

Apakah ia memohon 
atau tidak, 
Allah akan tetap menuntun dan menunjukinya. 
Allah menuntunnya 
setiap saat.

أُولَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّ‌بِّهِمْ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk 
dari Tuhan mereka. 
Dan merekalah Al-Muflihun (orang-orang yg beruntung).  
Q.S. Al-Baqarah [2]: 5

Untuk apa 
ditunjuki Allah setiap saat? Untuk menjalankan perannya, dengan melaksanakan sebuah pengabdian 
pada Allah Ta’ala. 
Itulah tujuan besar penciptaan insan: 
untuk melaksanakan 
suatu peran 
sebagai pengabdian 
kepada Allah. 
Ia melakukannya dengan melaksanakan petunjuk-petunjuk 
yang senantiasa dia terima melalui qalb masing-masing.

Untuk apa insan 
harus menerima petunjuk Allah? 
Agar ia bisa berperan 
sebagai Khalifah Allah.

وَإِذْ قَالَ رَ‌بُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْ‌ضِ خَلِيفَةً ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada 
para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku 
hendak menjadikan 
seorang khalifah 
di muka bumi.' – 
Q.S. Al-Baqarah [2]: 30

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْ‌ضِ ۚ

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah 
di muka bumi. – 
Q.S. Faathir [35]: 39

Asal kata “khalifah” 
dalam bahasa Arab bermakna 
“seseorang 
yang menggantikan peran”, atau 
“seseorang yg menjalankan kekuasaan atas nama penguasa lain”—
bukan semata-mata “penguasa”.

Insan yang telah mampu menerima petunjuk inilah yang harus berperan 
sebagai khalifah Allah. 
Ia bertindak sebagai seorang pelaksana mandat, 
wakil Allah, 
dalam memakmurkan 
alam semesta masing-masing, dan melaksanakan tugas-tugasnya 
berdasarkan tuntunan dan bimbingan Allah setiap saat.

Seorang khalifah Allah 
bukan semata-mata 
seorang insan yang mengambil peran tersebut sesuai keinginannya, 
menurut pilihan orang lain atau menurut tingkat pendidikannya. 

Sebagai wakil atau pemegang mandat 
Allah Ta’ala, 
tentu saja ia harus dalam kapasitas yang mampu mewakili Allah Ta’ala 
di alam fisik ini. 
Semakin ia mewakili Allah, maka semakin mirip sifat-sifatnya dengan 
Allah Ta’ala, 
dan semakin tinggi pula 
ia dalam peran ke-khalifah-annya itu. 
Ia “dicelupkan” ke dalam sifat-sifat Allah 
sehingga sepenuhnya terwarnai dengan sifat-sifat-Nya. 
Itulah keadaan seorang hamba Allah atau abdi Allah—Abdullah—
sebelum melaksanakan pengabdiannya yang hakiki kepada Allah. 
Untuk pengabdian 
dengan kondisi seperti inilah sesungguhnya kita diciptakan-Nya.

صِبْغَةَ اللَّـهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّـهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibghah Allah 
(celupan Allah)! 
Dan siapakah yang lebih baik shibghah (celupan)-nya daripada Allah? 
Dan hanya kepada-Nya-lah kami mengabdi. – 
Q.S. Al-Baqarah [2]: 138

Al-Muflihun, Khalifah Allah, Shirath al-Mustaqim dan Taqwa

Al-Muflihun, 
Khalifah Allah, 
Shirath al-Mustaqim dan Taqwa


Siapakah orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun) itu? 

Dari sudut pandang Allah, orang-orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa dituntun dan ditunjuki oleh Allah 
setiap saat. 
Continuously. 

Apakah ia memohon 
atau tidak, 
Allah akan tetap menuntun dan menunjukinya. 
Allah menuntunnya 
setiap saat.

أُولَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّ‌بِّهِمْ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk 
dari Tuhan mereka. 
Dan merekalah Al-Muflihun (orang-orang yg beruntung).  
Q.S. Al-Baqarah [2]: 5

Untuk apa 
ditunjuki Allah setiap saat? Untuk menjalankan perannya, dengan melaksanakan sebuah pengabdian 
pada Allah Ta’ala. 
Itulah tujuan besar penciptaan insan: 
untuk melaksanakan 
suatu peran 
sebagai pengabdian 
kepada Allah. 
Ia melakukannya dengan melaksanakan petunjuk-petunjuk 
yang senantiasa dia terima melalui qalb masing-masing.

Untuk apa insan 
harus menerima petunjuk Allah? 
Agar ia bisa berperan 
sebagai Khalifah Allah.

وَإِذْ قَالَ رَ‌بُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْ‌ضِ خَلِيفَةً ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada 
para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku 
hendak menjadikan 
seorang khalifah 
di muka bumi.' – 
Q.S. Al-Baqarah [2]: 30

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْ‌ضِ ۚ

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah 
di muka bumi. – 
Q.S. Faathir [35]: 39

Asal kata “khalifah” 
dalam bahasa Arab bermakna 
“seseorang 
yang menggantikan peran”, atau 
“seseorang yg menjalankan kekuasaan atas nama penguasa lain”—
bukan semata-mata “penguasa”.

Insan yang telah mampu menerima petunjuk inilah yang harus berperan 
sebagai khalifah Allah. 
Ia bertindak sebagai seorang pelaksana mandat, 
wakil Allah, 
dalam memakmurkan 
alam semesta masing-masing, dan melaksanakan tugas-tugasnya 
berdasarkan tuntunan dan bimbingan Allah setiap saat.

Seorang khalifah Allah 
bukan semata-mata 
seorang insan yang mengambil peran tersebut sesuai keinginannya, 
menurut pilihan orang lain atau menurut tingkat pendidikannya. 

Sebagai wakil atau pemegang mandat 
Allah Ta’ala, 
tentu saja ia harus dalam kapasitas yang mampu mewakili Allah Ta’ala 
di alam fisik ini. 
Semakin ia mewakili Allah, maka semakin mirip sifat-sifatnya dengan 
Allah Ta’ala, 
dan semakin tinggi pula 
ia dalam peran ke-khalifah-annya itu. 
Ia “dicelupkan” ke dalam sifat-sifat Allah 
sehingga sepenuhnya terwarnai dengan sifat-sifat-Nya. 
Itulah keadaan seorang hamba Allah atau abdi Allah—Abdullah—
sebelum melaksanakan pengabdiannya yang hakiki kepada Allah. 
Untuk pengabdian 
dengan kondisi seperti inilah sesungguhnya kita diciptakan-Nya.

صِبْغَةَ اللَّـهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّـهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibghah Allah 
(celupan Allah)! 
Dan siapakah yang lebih baik shibghah (celupan)-nya daripada Allah? 
Dan hanya kepada-Nya-lah kami mengabdi. – 
Q.S. Al-Baqarah [2]: 138

Ibadah vs Pengabdian

Ibadah vs Pengabdian
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia 
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. – 
Q.S. Adz-Dzaariyaat [51]: 56

Kata “ya’bud” di ayat tersebut umum diterjemahkan dengan makna “ibadah”, 
sehingga konotasi ayat tersebut mengisyaratkan seakan-akan manusia dan jin diciptakan adalah 
untuk melaksanakan kewajiban ibadah ritual formal seperti shalat, puasa, dan semacamnya saja, 
untuk selanjutnya menerima ganjaran pahala atau siksa.

Kita akan memahami 
dengan lebih utuh 
jika kita tidak mereduksi makna “ya’bud” 
menjadi sekadar “ibadah”. Kata “ya’bud” 
memiliki akar kata yang sama dengan kata “abid”, yang berarti budak, hamba, atau abdi. 

Kata “ya’bud” sendiri 
adalah kata kerja, 
yang arti sesungguhnya adalah “menjadi seorang hamba”, “menghamba” atau “mengabdi”—
bukan sekadar “beribadah”.

Dengan demikian, 
firman Allah tersebut mengatakan bahwa 
baik jin maupun manusia sesungguhnya diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Menjadi hamba Allah, 
dan tidak mengikuti kehendak syahwat, 
hawa nafsu, pikiran, perasaan dan apa pun selain Allah. 

Hanya kehendak Allah sajalah yang boleh menjadi landasan seluruh tindakan lahir maupun batin insan. 

Tidak ada yang boleh mendominasi perilaku 
lahir dan batin insan 
selain kehendak Allah. 

Ia harus sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah, setiap saat.

Maka, kita tidak bekerja mencari penghasilan hanya karena ingin memuaskan hawa nafsu: 
ingin kaya, misalnya. 

Namun kita bekerja 
karena Allah memerintahkannya. 

Dari luar seorang insan bekerja memeras keringat untuk mencari penghidupan, namun dengan pemahaman tersebut, 
secara batin ia bekerja adalah sebagai pengabdian kepada Allah, 
dengan memenuhi kehendak-Nya.

Nah. Implikasi lain 
dari mengabdi hanya 
kepada Allah dan 
hanya memenuhi kehendak-Nya, 

kita jadi membutuhkan petunjuk Allah 
untuk memahami apa 
yang Ia kehendaki dari kita. Setiap saat. 
Dengan kata lain, 
kita butuh untuk selalu tertunjuki dan tertuntun.

Surga Neraka

Surga Neraka

Jika hidup hanyalah 
sekadar cara seleksi 
untuk memilah-milah 
siapa yang akan memasuki surga, dan 
siapa yang harus memasuki neraka, 

tidakkah pemahaman ini 
kini terasa semakin dangkal, sahabat-sahabat? 

Sebuah sudut pandang tentang kehidupan 
yang diajarkan pada kita semasa kecil, 
namun tidak pernah berubah hingga kita dewasa. Berpuluh-puluh tahun lamanya. 
Kita tidak pernah menggali esensi di balik itu semua. 

Tidakkah itu juga 
berarti bahwa pemahaman kita mengenai agama dan hakikat hidup, 
sejak kanak-kanak hingga sekarang, 
ternyata tidak berkembang?

Surga dan neraka, 
tentu benar adanya. 
Namun, tidakkah ada makna yang esensial, 
bahwa hidup ternyata 
lebih dari sekadar seleksi penerima pahala dan siksa? 

Bahwa hidup bukan sekadar persoalan meraup pahala sebanyak-banyaknya, sebisa-bisanya, 
se-“serakah” mungkin? 

Sementara, kita pun belum terlalu memahami, 
apa “pahala” itu sebenarnya. Semacam kredit poin? 
Intan berlian? 
Bidadari dan bidadara?

Apa itu hidup sebenarnya? Untuk apa kita ada di sini? Apakah agama menerangkan hal ini—
hingga ke makna-makna terdalamnya?

Para ustad 
kerap mengatakan, 
tertulis dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk beribadah. 

Itu benar, tentu saja. 
Namun, beribadah 
yang seperti apa? 
Apakah tujuan manusia diciptakan adalah 
untuk melaksanakan ritual seperti shalat, puasa, zakat, haji sebanyak-banyaknya?

Tidakkah kita haus 
untuk memahami, 
ada apa sebenarnya di balik semua ibadah ritual itu? Sehingga kita bisa melakukan semua ritual dengan kukuh dan 
senang hati 
karena memahami esensinya dan manfaatnya—
bukan menuntaskannya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. 
Apa sebenarnya gagasan besar di balik semua kewajiban ritual itu?

Kita diciptakan dengan memiliki akal. 
Akal jasad, dan 
akal jiwa (aql). 

Dan semakin kita dewasa, natur kita pun akan semakin membutuhkan pemahaman akan esensi—
apa esensi di balik 
yang harus kita lakukan—karena itu adalah natur kita sebagai manusia. 
Jika kita mengabaikan ini, maka kita mengkhianati natur kita sendiri.

Untuk apa hidup
Kita tidak pernah menggali esensi di balik itu semua. Tidakkah itu juga berarti bahwa pemahaman kita mengenai agama dan 
hakikat hidup, 
sejak kanak-kanak hingga sekarang, ternyata tidak berkembang?

Dalam Al-Qur’an, 
Allah telah menegaskan bahwa sebenarnya kita harus memahami esensi dari semua yang akan kita lakukan. 
Kita dilarang untuk sekadar mengikuti dan melakukan tanpa pengetahuan atau pemahaman.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ‌ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya 
pendengaran, 
penglihatan dan 
hati, 
semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. – Q.S. Al-Israa’ [17]: 36

Misi Hidup

Misi Hidup

Ingatlah 
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 

'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'
– Q.S. Al-Baqarah [2]: 30

ADA saat-saat dalam kehidupan setiap kita, manusia, 
ketika Allah meletakkan kita dalam sebuah suasana 
yang membuat kita merenung: 
kenapa hidup ini 
hanya terasa sebagai 
sebuah rutinitas? 
Bukan saja sebuah rutinitas, namun bahkan terasa mekanistik, 
semu, dan 
membosankan.

Pekerjaan terasa dangkal, rutin, dan mekanistik. Interaksi jadi cuma 
kewajiban sosial. 
Hobi dan kegemaran 
tidak lagi terasa dalam. Bahkan, ketika kita kembali ke pengajian 
untuk mencari kesegaran, agama dan khutbah 
tidak lagi terasa damai dan meneduhkan.

Dalam suasana hidup 
yang kering, 
mungkin pertanyaan 
akan mulai menyeruak: 

apa hidup ini sebenarnya? Kenapa saya begini, 
ada di sini. 
Untuk apa? 
Mengapa saya belum juga meraih kebahagiaan 
yang hakiki, 
yang sempurna?

Di sini, 
kita membutuhkan pemahaman 
mengenai makna hidup: 
apa “hidup” itu sebenarnya. 

Namun, 
di sini dalil-dalil doktrin sudah tidak lagi menyegarkan. 
Kita membutuhkan pemahaman tentang makna hidup yang hakiki, 
jujur, 
benar, dan 
terasa hidup dalam hati. 
Kita membutuhkan 
sebuah pemahaman yang haqq.

Untuk apa hidup
Kita membutuhkan pemahaman tentang makna hidup yang hakiki. 

Apa hidup ini sebenarnya? Kenapa saya begini, 
ada di sini. 
Untuk apa? 
Mengapa saya belum juga meraih kebahagiaan 
yang hakiki, 
yang sempurna?

Selasa, 30 November 2021

Panggilan untuk Kembali Pulang

[29/11 23:03] aji rasha: Panggilan untuk 
Kembali Pulang

Saat kegelisahan itu datang, kita kembali menoleh 
pada berbagai macam 
bentuk jawaban. Menyibukkan diri 
dengan kiat-kiat hidup bahagia, 
metode NLP atau 
yoga training. 
Berkutat di buku-buku agama, menghadiri berbagai pengajian, 
menenggelamkan diri 
dalam hobi agar kegelisahan itu berhenti. 
Atau menemui psikiater dan psikolog—
kita mencari jawaban 
atas kebingungan dan kegelisahan yang disisakan oleh kehidupan kita sendiri, menemukan apa yang salah dalam kehidupan yang kita jalani.

Sebenarnya, 
Allah kerap memanggil kita untuk kembali kepada-Nya, 

dengan cara apa saja. 
Dia, dengan 
kasih sayang-Nya, 
terkadang 
membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa 
sehingga kalbunya dibuat-Nya menoleh 
kepada Allah. 

Hanya saja, teramat sedikit orang yang mau mendengarkan—
atau berusaha mencermati—panggilan-Nya ini.

Dalam hal ini, 
Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang 
percaya kepada-Nya 
atau tidak, 
beragama atau tidak, 
Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang 
membaca kitab-Nya 
atau tidak, 
percaya pada 
para utusan-Nya 
ataupun tidak, 
semua orang pernah dipanggil-Nya 
dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.

Taubat

Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, 
percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. 
Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.

Kita sering tidak menyadari bahwa berbagai sisi kehidupan yang kita telusuri sepanjang waktu itu, 
akan melontarkan kita 
pada satu gerbang, 
yang bukan untuk sembarang orang. 
Tak semua orang bisa sampai ke sana. 
Sebuah gerbang 
yang sebenar-benarnya 
akan mengantarkan kita 
pada sebuah 
perjalanan panjang 
untuk kembali kepada-Nya. 

Sebuah gerbang 
yang hanya bisa kita buka dengan satu kunci: 
taubat.

Taubat berasal dari kata dalam bahasa Arab 
“taaba” 
yang berarti kembali. 

Sebuah respons penyikapan atas adanya keinginan 
untuk kembali kepada Allah, yaitu bagi siapa saja 
yang menghendaki. 
Dan siapa pun 
yang menghendaki 
untuk menempuh jalan menuju Allah, 
sesungguhnya Allah 
telah memanggilnya 
lebih dahulu 
(Q.S. Al-Insaan [76]: 29-30).

إِنَّ هَـٰذِهِ تَذْكِرَ‌ةٌ ۖ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَ‌بِّهِ سَبِيلًا

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya ini 
adalah sebuah peringatan: Barangsiapa 
yang menghendaki, 
biarlah ia mengambil jalan menuju Rabb-nya. 
Dan tiadalah kamu 
akan berkehendak (menempuh jalan itu), 
kecuali jika itu dikehendaki oleh Allah. 
Sungguh, Allah itu 
Maha Mengetahui lagi 
Maha Bijaksana. – 
Q.S. Al-Insaan [76]: 29-30
[29/11 23:06] aji rasha: Kita sering merasa 
bahwa kita lah yang memilih untuk kembali pada Allah, dan kita lah 
yang mencari kebenaran. 

Namun sebenarnya tidak. 
Dia lah yang memilih. 
Dia yang mencari hamba-Nya yang ingin kembali dan memilihnya.

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَ‌بُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

Kemudian 
Tuhan memilihnya, maka 
Dia menerima taubatnya, 
dan memberinya petunjuk. – Q.S. Thaahaa [20]: 122

 

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَـلَمِينَ

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَ‌بُّ الْعَالَمِينَ

Ini tidak lain, 
melainkan peringatan 
bagi alam semesta, 
bagi siapa di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus. 
Dan kamu 
tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), 
kecuali apabila dikendaki Allah, Tuhan Semesta Alam. – Q.S. At-Takwiir [81]: 27-29
[29/11 23:15] aji rasha: Laku Sepanjang Hayat

Taubat bukanlah istighfar (memohon ampunan). 

Al-Qur’an mengungkapkan:

فَاسْتَغْفِرُ‌وهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Karena itu 
beristigfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. – 
Q.S. Huud [11]: 61

Di ayat tersebut 
dibedakan secara lugas antara beristigfar dan bertaubat. 

Istighfar adalah 
ungkapan penyesalan dan permohonan ampun. 

Taubat adalah 
sebuah laku, 
sebuah sikap hidup 
yang menyeluruh, 
dengan mengarahkan 
seluruh aspek kehidupan untuk menghadap dan kembali pada Allah. 
Sebuah disiplin yang panjang dan terus-menerus, 
sampai akhir kehidupan.


Istighfar adalah 
ungkapan penyesalan dan permohonan ampun. 

Taubat adalah 
sebuah laku, 
sebuah sikap hidup 
yang menyeluruh, 
dengan mengarahkan seluruh aspek kehidupan 
untuk menghadap dan kembali pada Allah. 
Sebuah disiplin yang panjang, sampai akhir kehidupan

Tak seorang pun 
yang terlepas dari dosa 
dan kesalahan. 

Tidak ada seorang pun 
yang mampu terbebas dari dosa yang dilakukan 
oleh anggota-anggota tubuhnya, 
bahkan para Nabi sekalipun. Hanya saja, para Nabi telah diampuni dan dimaafkan.

Seseorang mungkin saja tidak melakukan dosa 
secara fisik. 
Namun, dia tidak 
akan terbebas dari pikiran tentang perbuatan atau angan-angan yang berdosa. 

Kalaupun orang itu 
telah Allah jaga dari pikiran yang buruk, 
ia tidak akan terbebas 
dari godaan setan yang senantiasa menghalanginya dari ingat kepada Allah. 
Dan jika seseorang terbebas dari godaan setan, 
ia tidak akan bisa luput dari kelalaian dan kelemahannya terkait pengetahuan tentang Allah Ta’ala, 
asma-asma dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Apa yang ia pahami 
tentang Allah 
tidak akan pernah sempurna dan selalu memiliki ketidaksempurnaan. 
Dan, bagaimanapun ungkapan kesyukuran 
yang dipanjatkan 
seorang hamba kepada Allah, pasti amat jauh kelayakannya dari apa yang seharusnya Allah terima dari si hamba. 

Itulah mengapa 
Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya 
ada saat-saat qalb-ku 
terasa seperti tertutup kabut, maka aku memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.” 
(H.R. Abu Daud No. 1294)

Kalimat terakhir dari Rasulullah Muhammad SAW itu menyimpan rahasia hikmah yang amat besar. Saat menempuh 
perjalanan taubat, 
awalnya kita akan dituntun oleh Allah untuk mengenali selubung-selubung yang menutupi hati kita. 

Selubung hati adalah hijab, apa pun yang menghalangi kita dengan Allah Ta’ala. Dalam perjalanan taubat 
kita yang panjang, 
kita akan dituntun untuk mengakui dan mengenali penghalang-penghalang itu, dan memohon ampunan pada Allah 
agar Dia berkenan mengangkat penghalang itu, satu demi satu.

Mengenali hijab-hijab hati adalah salah satu tanda bahwa hati kita mulai diterangi cahaya Allah. 

Laksana ruang gelap 
yang tertutup rapat, 
kusam penuh debu, 
tidak pernah terkena cahaya: 

taubat akan menyingkap tirai satu demi satu. 
Cahaya Allah mulai masuk, menerangi ruang-ruang dalam hati kita.
[29/11 23:18] aji rasha: Setelah cahaya menerangi, kita akan tahu: 
pojok-pojok mana yang telah bersarang laba-laba di sana, lantai-lantai menghitam yang harus digosok, 
mana bagian 
yang kotorannya 
harus dikikis habis. 

Jalan pertaubatan yang haqq akan menyediakan takaran dan alat yang tepat 
untuk membersihkan ruang-ruang hati. 
Tapi uniknya, 
kita tak akan mampu mengenali itu semua 
tanpa ada pertolongan Allah—dan ampunan-Nya—
untuk kembali membuat hati kita bening dan memantulkan cahaya-Nya.

Taubat—
kembali kepada Allah—adalah sebuah laku sepanjang hayat. 

Kita kembali 
mengarahkan segala aspek dalam hidup kita 
sebagai sarana 
untuk mendekat kepada-Nya setiap saat. 

Kita tidak lagi 
sekadar mengingat-Nya kadang-kadang, 
hanya ketika pengajian: sebab setiap tarikan napas kita menjadi sebuah pengabdian kepada-Nya.
[29/11 23:23] aji rasha: Allah Maha Pengampun: Kepada Siapa?

Jika kita adalah 
orang yang pemaaf, 
kita hanya pemaaf 
kepada orang yang kita kenal. 

Sifat kepemaafan kita 
tidak dengan sendirinya memiliki implikasi 
kepada semua orang. 
Pada mereka yang tidak kita kenal atau tidak pernah menyampaikan permohonan maaf kepada kita, 
sifat pemaaf kita tentu 
tidak relevan.

Allah pun demikian. 
Allah "hanya" 
Maha Pengampun 
pada hamba-hamba 
yang bertaubat saja—
tidak dengan sendirinya 
pada semua orang. 

Jika kita tidak bertaubat, tentu sifat kepemaafan Dia tidak relevan bagi kita. 

Namun begitu kita bertaubat, Dia akan menghadapkan diri-Nya pada kita, 
dan menjadi Rabb 
yang Maha Pengampun.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ‌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun bagi siapa pun 
yang bertaubat, 
beriman, 
beramal shalih, 
kemudian tetap mengikuti petunjuk. – 
Q.S. Thaahaa [20]: 82

Di sisi lain, 
jika kita telah diberinya 
rasa dan keinginan 
untuk bertaubat, 
namun menolak
panggilan-Nya 
untuk kembali kepada Allah—tidak bertaubat—
maka kita akan termasuk golongan yang zalim. Kenapa? 
Karena definisi zalim, menurut Al-Qur’an, 
adalah 
“tidak bertaubat”.

وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan barangsiapa 
yang tidak bertaubat, 
maka mereka itulah orang-orang yang zalim. – Q.S. Al-Hujuraat [49]: 11
[29/11 23:29] aji rasha: Kenapa Harus Bertaubat?

Kenapa saya 
harus bertaubat? 
Rasanya saya tidak banyak melakukan dosa? 
Saya tidak berzina, 
tidak minum minuman keras, tidak merokok, 
rajin beribadah dan 
saya bahkan sudah dua kali naik haji. 
Mengapa masih 
harus bertaubat?

Sekali lagi, 
pertaubatan bukanlah sekadar istighfar 
setelah shalat, 
atau datang ke pengajian mingguan. 

Pertaubatan adalah 
sebuah sikap batin: mengakadkan diri 
untuk selalu mengharapkan Allah, 
untuk selalu menuju kepada-Nya, 
setiap saat 
hingga napas 
yang penghabisan.

Seseorang bisa saja 
rajin shalat malam, 
tidak berbuat dosa, 
aktif berdakwah, 
namun sangat mungkin qalb-nya lebih menghadap pada selain Allah. 
Selama masih ada 
yang lebih dominan 
dalam hati seseorang daripada kebutuhannya kepada Allah, 
agar Allah menuntunnya dan mengaturnya pada setiap aspek kehidupannya—
ia belum bertaubat. 

Taubat adalah 
sebuah amal seumur hidup. Sebuah laku, 
sebuah sikap hati. 
Sebuah rasa butuh 
yang nyata pada Allah dan bimbingan-Nya.

Nah, jika seseorang 
tidak bertaubat, 
Allah menyebutnya sebagai orang-orang yang zalim 
(Q.S. Al-Hujuraat [49]: 11). 

Sementara, 
Allah sudah menegaskan, bahwa Dia tidak akan memberi petunjuk pada orang-orang yang zalim.

وَاللَّـهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. – 
Q.S. Al-Baqarah [2]: 258*

(*) Lihat juga penegasan yang sama di 
Q.S. Ali Imran [3]: 86, 
Q.S. Al-Ma’idah [5]: 151,
        Al-An’aam [6]: 144, 
Q.S. At-Taubah [9]: 19, 109 Q.S. Al-Qashash [28]: 50).

Itulah kenapa kita harus bertaubat. 

Taubat adalah 
kunci kehidupan. 
Ia adalah langkah pertama untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, 
karena Allah akan menuntun kita setiap saat.
[29/11 23:34] aji rasha: Taubat yang Diterima

Taubat adalah 
syarat diangkatnya keburukan-keburukan 
dalam diri kita, 
agar diganti Allah 
dengan kebaikan. 
Kita dapat mempelajari dalam ayat ini:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَـٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّـهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ غَفُورً‌ا رَّ‌حِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, 
beriman dan 
mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah 
dengan kebajikan. – 
Q.S. Al-Furqaan [25]: 70

Jika kita bertaubat, 
kemudian beriman lalu beramal shalih, 
maka Allah akan mengganti keburukan-keburukan 
dalam diri kita 
menjadi kebaikan-kebaikan. 

Bagaikan pohon, 
setelah dedaunan yang kusam dan layu digugurkan dan dibersihkan, 
ia akan menumbuhkan dedaunan yang baru, 
yang segar: 

untuk menerima cahaya, 
agar ia bisa berbuah.

Namun, 
tidak semua taubat diterima—apalagi jika hanya 
ucapan saja. 

Taubat yang diterima Allah adalah taubat yang diikuti dengan upaya perbaikan, atau “ishlah”. 

Al-Qur’an menjelaskan sangat gamblang tentang hubungan zalim, 
taubat, dan 
upayakan perbaikan 

di ayat berikut:

فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّـهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ‌ رَّ‌حِيمٌ

Maka barangsiapa bertaubat setelah zalimnya dan mengadakan perbaikan, maka sungguh, 
Allah akan menerima taubatnya. 
Sesungguhnya Allah 
Maha Pengampun lagi 
Maha Penyayang. – 
Q.S. Al-Ma'idah [5]: 39.*

(*) Lihat juga penegasan yang senada di 
Q.S. An-Nuur [24]: 5 dan 
Q.S. Al-An’aam [6]: 54

Taubat

Namun, tidak semua taubat diterima—
apalagi jika hanya ucapan saja. 

Taubat yang diterima Allah adalah taubat yang diikuti dengan upaya perbaikan, atau "ishlah".
[29/11 23:39] aji rasha: Kapan Memulai Bertaubat?

Apa pun kondisi kita hari ini, di situlah Allah 
meletakkan kita. 
Kita ada dalam kondisi kita hari ini sesungguhnya 
kita ada di dalamnya 
dengan seizin Allah. 
Dengan cara itulah—
dengan segala kerumitan, kebingungan, 
keterbatasan dan ketidakmampuan kita—
Dia membuat hati kita menoleh kepada-Nya. 
Jika kita diletakkan-Nya 
terus dalam kelapangan, akankah hati kita mengharapkan-Nya? 
Tidak. 
Allah Maha Melapangkan dan Maha Menyempitkan, 
agar kita menoleh kepada-Nya. 
Di setiap kondisi kita saat ini, sesungguhnya di sana Allah meletakkan sebuah tangga untuk menuju-Nya.

Bertaubat 
tidak berdasarkan angan-angan: 
saya akan bertaubat nanti setelah waktu lapang, 
setelah tua, 
setelah anak-anak dewasa, atau setelah kaya. 
Allah meletakkan rasa itu 
di dalam hati kita saat ini, dengan bagaimanapun kondisi kita. 

Siapa yang menjamin 
bahwa kita masih hidup kelak ketika waktu lapang, 
ketika tua, atau 
setelah kaya? 
Kita bahkan belum tentu mencapai sore hari nanti dengan masih bernapas.

Terlalu banyak dosa? 
Tidak masalah. 
Justru Allah 
ingin menyampaikan ampunan-Nya, 
karena Dia sangat suka memaafkan. 
Jika tidak memiliki dosa, justru kita tidak akan memiliki keinginan 
untuk bertaubat. 

Kefakiran kita 
terhadap Allah Ta’ala 
tidak akan tumbuh, 
karena kita tidak merasa butuh ampunan-Nya.

Kita bertaubat saat ini, dengan bagaimanapun kondisi kita saat ini, 
dengan apa pun yang ada di tangan kita hari ini.
[29/11 23:48] aji rasha: Cinta Allah 
terhadap Orang 
yang Bertaubat

Suatu ketika, sebagaimana dikisahkan dalam 
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, 

Rasulullah pernah berkisah pada para sahabatnya 
yang mulia. 
Beliau menyampaikan sebuah kisah 
tentang seorang yang 
sedang melakukan perjalanan menyeberangi gurun pasir 
yang tak terlihat ujungnya, diterpa matahari terik, 
dan tak ada apa pun 
selain pasir kekuningan. Seluruh perbekalannya dan perlengkapannya diletakkannya 
di atas untanya. 
Ketika malam tiba, 
gurun itu begitu dingin dengan angin kencang 
yang menusuk tulang. 
Ia harus berbaring di dekat untanya ketika tidur, 
agar tetap hangat dan terlindung dari 
angin kencang berpasir.

Suatu petang, 
ia sampai ke sebuah 
pohon kecil di tengah gurun. Di sana, di bawah pohon, 
ia jatuh tertidur. 
Dan ketika terbangun, didapatinya bahwa 
untanya telah hilang—
dengan membawa seluruh air, perbekalan dan perlengkapannya. 
Ia begitu panik, 
sehingga berlarian 
ke sana kemari mencari dan memanggil-manggil untanya itu, hingga ia kehausan. 
Dan ia tak lagi memiliki 
air setetes pun.

Kehilangan harapan, 
ia menjadi putus asa. Akhirnya ia berkata dalam hatinya: 
“aku kembali saja 
ke tempatku tadi, dan 
tidur saja di sana sampai kematian menjemputku.” 
Ia tak lagi melihat 
ada harapan hidup 
di tengah gurun 
tanpa perbekalan, 
sendirian. 
Lalu ia pun kembali tidur, sambil menunggu saat datangnya kematian.

Entah setelah berapa lama 
ia tertidur, 
ia kemudian terbangun karena suhu udara 
yang panas. 
Ketika ia mengangkat kepalanya, 
ternyata ia melihat untanya telah kembali sendiri, 
berdiri di dekatnya, 
lengkap dengan semua air dan perbekalannya. 
Ia lalu memegang tali untanya tak percaya: 
dan kemudian, karena amat sangat gembiranya, 
dengan kebahagiaan yang meluap-luap ia bersyukur pada Allah berulang-ulang, namun dengan ucapan yang keliru: 
“Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah! Engkau hambaku dan 
akulah Rabb-Mu, Ya Allah!” Namun, Allah tersenyum menyaksikan itu.

Taubat
...dengan kebahagiaan yang meluap-luap ia bersyukur pada Allah berulang-ulang, namun dengan ucapan yang keliru: "Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah! Engkau hambaku dan akulah Rabb-Mu, Ya Allah!" Namun, Allah tersenyum menyaksikan itu.

Lalu Rasulullah 
bertanya pada 
para sahabatnya, 
“Menurut kalian, 
bagaimana perasaan orang itu, ketika melihat kembali untanya itu, lengkap dengan semua perbekalannya?”

Para sahabat menjawab, “tentulah ia amat senang dengan kebahagiaan yang meluap-luap, ya Rasulullah!”

“Nah, ketahuilah,” 
sambung Rasulullah, “sungguh, Allah lebih senang dan bahagia lagi ketika seorang hamba yang beriman kembali bertaubat kepada-Nya, 
jauh melebihi bahagianya orang yang menemukan kembali unta dan bekalnya ini.”

Resume

Taubat adalah 
panggilan dari Allah Ta’ala bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya untuk kembali. Lebih dari sekedar sebuah permohonan ampun (istighfar), 

taubat adalah 
laku yang akan berlangsung sepanjang hayat.