Rabu, 06 April 2022

MENGENAL NAFAS

[2/4 22:05] Aing: 

MENGENAL NAFAS


wengi ka dua ramadhan 1443 H,wengi ahad
 
Ilmu Nafas
[2/4 22:07] Aing: Adapun 
Nafas yang keluar masuk, dinamakan Muhammad = Nabi kepada kita.

Kemudian yang dinamakan Muhammad itu adalah Pujian,

.

Ilmu Nafas itu dinamakan :

.

1. Bila diluar = 
    Ilmu Gaibul Guyub.
2. Bila didalam = 
    Ilmu Sirrul Asrar.

.
Dari Nafas itulah 
munculnya 
ibadah Muhammad.

Dari Jasad itulah 
munculnya 
ibadah Adam.

.

Sebagaimana yang ada 
di dalam Rukun Islam 
bahwa 
ibadah Muhammad itu adalah Sholahud Da’im = Sholat yang terus-menerus tanpa henti.
[2/4 22:07] Aing: Wahdah Fil Kasrah = Pandang satu 
kepada yang banyak,
[2/4 22:09] Aing: Nafas itu 
yang keluar masuk dari mulut.

Nufus itu 
yang keluar masuk dari hidung.

Tanafas itu 
yang keluar masuk dari telinga.

Amfas itu 
yang keluar masuk dari 
mata
[2/4 22:09] Aing: Maka 
Nafas itulah yang menuju kepada “ARASHTUL MAJID” karena itu 
hendaklah kita ketahui 
Ilmu Nafas, 
yaitu Ilmu Gaibul Guyub, karena termasuk dari 
ibadah Muhammad.
[2/4 22:10] Aing: Ilmu Nafas harus disertai dengan ibadah praktek, 
akan sulit jadinya 
bila hanya dengan teori.
[2/4 22:13] Aing: Nafas yang keluar dari lubang hidung kiri 
itu dinamakan Jibrill, 
maka ucapannya “ALLAH”.

Nafas yang masuk melalui lubang hidung kanan 
itu dinamakan Izraill, 
maka ucapannya “HU”.

Zikirullah yang 2 diatas dinamakan NUR. 

Maka jadilah 2 Nur  = “ALLAH”  +  “HU” , 

2 Nur ini bertemu 
di atas bibir, 
tidak masuk ke dalam tubuh, amalan ini sampailah 
ke derajatnya yang dinamakan “Nurul Hadi”, maka 
ke arah itulah yang dicapai.
setelah itu 
Nafas naik di dalam badan dan dinamakan AHMAD,

Nafas yang  turun 
dari ubun-ubun 
sampai kepada 
Jantung Nurani 
itu dinamakan Izraill, ucapanya “ALLAH”.

Nafas yang dari jantung 
naik sampai ke ubun-ubun itu dinamakan Jibrill, 
maka ucapannya “HU”.
[2/4 22:16] Aing: Maka amalan 
inilah yang dinamakan :

“Syuhudul Wahdah 
Fil Kasrah, 
Syuhudul Kasrah 
Fil Wahdah” = 
Amalan Sholeh = 
Pintu Makrifat"
[2/4 22:20] Aing: Kedua perkara diatas itu hendaklah diamalkan 
walau tanpa wudhu dan jangan dikencangkan suaranya 
hanya kita yang dengar semata-mata 
“Khafi” 
(lafadz di dalam hati).

Sesungguhnya yang dinamakan HATI (Qalbu) itu adalah 
Nur yang memancar 
dari bagian bawah jantung (bagian Muhammad) 
ke arah bagian atas jantung (bagian Allah).

Adapun 
zikir NAFAS 
itu adalah 
ketika keluar ALLAH dinamakan ABU BAKAR,

zikirnya ketika masuk 
adalah HU 
dinamakan UMAR, 
letaknya NAFAS 
adalah di mulut.

Adapun 
zikir ANFAS 
itu adalah 
ketika keluar adalah ALLAH dan 
ketika masuk adalah HU, 

letaknya ANFAS 
pada hidung, 
dinamakan 
MIKAIL dan JIBRIL.

Adapun 
zikir TANAFAS 
itu adalah 
tetap diam dengan 
“ALLAH HU” 
letaknya di tengah-tengah antara dua telinga, dinamakan 
HAKEKAT ISRAFIL.

Adapun 
zikir NUFUS 
adalah ketika naik HU 
dan ketika turun 
adalah “ALLAH” 
letaknya di dalam jantung, 

Diri Nufus 
ini dikenal dengan USMAN dan perkerjaanya dikenal sebagai ALI.

Sabda Nabi saw : “Barangsiapa keluar masuk nafas dengan tiada zikir, maka sia-sialah ia”
[2/4 22:23] Aing: Awalnya Nafas 
itu atas dua langkah, 
satu Naik 
dan 
kedua Turun.

.

Ketika naiknya 
itu sampai kepada 
7 tingkat langit 
maka berkata :

“Wan Nuzuulu Yajrii Ilal Ardhi Fa Qoola HUWALLOH”.

.

Ketika turun kepada 
7 lapis bumi 
maka nafas Nabi itu bunyinya ALLAH.

Ketika masuk pujinya HUWA.

Ketika terhenti seketika antara keluar masuk namanya Tanafas, 
pujinya AH.. AH.

Ketika tidur  “mati” 
namanya Nufus 
“Haqqul Da’im”
[2/4 22:25] Aing: Ingatlah olehmu 
dalam memelihara Nafas-mu itu, 

dengan menghadirkan makna-makna diatas ini senantiasa, 
di dalam berdiri dan duduk dan diatas segala aktivitas yang diperbuat 
hingga memberi “tanda” kepada sekalian badan dan segala cahaya Nurul Alam atas segalanya.

.

Tetaplah “tilik” hatimu, jadilah engkau hidup 
di dalam Dua Negeri 
yakni Dunia dan Akhirat, 

semoga dianugrahkan Allah bagimu 
pintu selamat sejahterah Dunia dan Akhirat.

.

Semoga pula dianugerahi Allah Ta’ala bagimu 
sampai kepada martabat segala Nabi 
dan diharamkan Allah Ta’ala tubuhmu dimakan 
api neraka dan 
badanmu pun tiada dimakan tanah di dalam kubur.
[2/4 22:32] Aing: Tetaplah dengan hatimu wahai saudaraku..,

janganlah engkau 
menjadi orang yang lupa 
dan lalai,

Semoga dibahagiakan 
Allah Ta’ala atas mu 
dengan 
“berhadapan senantiasa”, sampai ajal menjemputmu.

.

Bahwa :

.

Nafas kita 
keluar masuk 
sehari semalam 
yaitu pada 

siang 12.000X dan pada malam 12.000X 

karena inilah jumlah 
jam sehari semalam 24jam, pada siang 12jam dan malam 12jam, 

demikianlah seperti huruf  “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah”, masing-masing mempunyai 12huruf 
berjumlah 24huruf semuanya.

.

Barang siapa ‘mengucap’ dengan sempurna yang 
7 kalimah itu, 
niscaya ditutupkan 
Allah Ta’ala 
Pintu Neraka yang 7.

Barang siapa ‘mengucap’ yang 24huruf ini 
dengan sempurna, 
niscaya diampuni 
Allah Ta’ala yang 24jam. 

Inilah persembahan kita kepada Tuhan kita, 
yang tiada putus-putusnya, yang dinamai 
Sholahud Da’im = 
Puasa menaklukan 
nafsu dzahir dan batin.

.

Sabda Nabi saw : 
“Ana Min Nuurillah 
Wal ‘Aalami Nuurii”

Artinya : 
“Aku dari Cahaya Allah dan sekalian alam dariCahayaku”

.

Sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul Arwah” artinya 
“Muhammad itu 
bapak sekalian nyawa”  
dan 
dikatakan“Adam Abu Basyar” artinya 
“Adam bapak sekalian tubuh”.

.

Adapun yang dikatakan Fardhu itu Nyawa, 
karena 
Nyawa badan kita 
dapat bergerak

.

Awal Muhammad Nurani

Akhir Muhammad Rohani.

Dzahir Muhammad Insani

Batin Muhammad Robbani.

.

Awal Muhammad 
Nyawa kepada kita

Akhir Muhammad 
Rupa kepada kita,

.

Yang bernama Allah Sifatnya, 

sedangkan sebenar-benarnya Allah itu “Dzat Wajibal Wujud”

Yang sebenar-benar Insan adalah 
manusia yang dapat  berkata-kata adanya.

.
Kita telah mendengar bahwa barang siapa yang tidak mengenal Ilmu zikir nafas maka 
sudah tentu orang tersebut tidak dapat menyelami 
alam hakekat 
Sholahud Da’im.

.

Perhatikan kembali 
yang lalu, 
telah banyak diterangkan dengan jelas 
tentang sholat, 

dimana pengertian sholat tersebut adalah 

berdiri menyaksikan diri sendiri 
yaitu 
penyaksian kita terhadap 
diri dzahir dan 
diri batin kita 
yang menjadi 
rahasia Allah Taala.

Pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan pembicaraan takrif dan cara-cara untuk mencapai martabat atau 
maqam sholat da’im..

.

Sholat Daim boleh ditakrifkan sebagai sholat yang berkekalan tanpa putus walaupun sesaat selama hidupnya, 

yaitu penyaksian diri sendiri (diri batin dan diri dzahir).

.

YANG MEREKA ITU TETAP MENGERJAKAN SHOLAT  (Al-Makrij:23).

.
[2/4 22:37] Aing: Di dalam sholat 
tugas kita adalah menumpukan sepenuh perhatian dengan mata batin kita menilik diri batin kita dan telinga batin menumpukan sepenuh perhatian kepada setiap bacaan oleh 
angota dzahir dan batin kita disepanjang “acara” sholat tanpa menolehkan perhatian kearah lain.

Sholat 
adalah merupakan latihan diperingkat awal 
untuk melatih diri kita supaya menyaksikan 
diri batin kita 
yang menjadi rahasia 
Allah Taala

… tetapi setelah berhasil membuat penyaksian diri diwaktu kita menunaikan sholat, 

maka haruslah pula 
melatih diri kita 
supaya dapat menyaksikan diri batin kita 
pada setiap saat 
dalam waktu 24 jam, 
sebab itulah kita mengucapkan syahadah:

.

“Asyhaduanlla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah”

.

Maka berarti kita berikrar dengan diri kita sendiri untuk menyaksikan diri rahasia Allah itu 
pada setiap saat 
di dalam 24 jam 
sehari semalam.

Oleh karena itu untuk mempraktekkan penyaksian tersebut, 
maka kita haruslah mengamalkan 
Sholatul Da’im 
dalam kehidupan kita sehari-hari 

sebagaiimana yang pernah dikerjakan dan diamalkan oleh Rasulullah saw, Nabi-nabi dan 
Wali-wali Allah 
yang Agung.
.
[2/4 22:38] Aing: Syarat mendapatkan 
Maqam Sholahudda’im :

.

1- 
Hendaklah memahami betul dan berpegang teguh dengan 
hakekat ZIKIR NAFAS

2- 
Haruslah terlebih dahulu mampu mendapatkan pancaran NUR QALBU.

lihat disini : http://ilmuhakekat.wordpress.com/2011/11/15/pergerakan-nur-kalbu/

3- 
Telah mengalami proses pemecahan wajah 
KHAWAS FI AL KHAWAS.

Lihat di sini : http://ilmuhakekat.wordpress.com/2012/06/21/proses-pemecahan-wajah-khawasul-qhawas/

4- 
Memahami dan berpegang dengan penyaksian sebenarnya 
SYUHUD AL-HAQ.

Lihat di sinihttps://hukumalam.wordpress.com/2012/08/27/sholat-hakiki-ku/
[2/4 22:45] Aing: Untuk mengamalkan 
dan mendapatkan maqam sholat da’im 

maka sesorang itu haruslah memahami pada peringkat awalnya 
tentang hakekat perlakuan zikir nafas 
yaitu tentang gerak-geriknya.. 
zikirnya.. 
lafadz zikirnya…
letaknya.. 
dan sebagainya, 

hal ini telah di-urai dalam bab-bab yang lalu,
oleh karena itu 
amalkanlah zikir nafas itu bersungguh sungguh supaya kita mendapat QALBU 
yaitu pancaran Nur 
di dalam jantung kita 
yang menjadi kuasa pemancar kepada makrifat untuk makrifat diri kita dengan Allah Taala.
.
Sesungguhnya dengan 
zikir nafas sajalah 
gumpalan darah hitam 
yang menjadi istana iblis 
di dalam jantung kita 
akan hancur dan terpancarlah “NUR QALBU” dan 
kemudian terpancar pula makrifah 
yang membolehkan seseorang itu memakrifatkan dirinya dengan Allah Ta’ala 
dan 
dapatlah diri rahasia Allah yang menjadi diri batin kita membuat hubungan dengan diri “DZATUL HAQ”  
Tuhan semesta alam.
.
Latihan untuk menyaksikan diri ini 
hendaklah dikerjakan secara bertahap, 

tahap awal yaitu 
melalui “acara” sholat sebagaimana yang diterangkan di dalam bab yang lalu.. 

selama proses 
penyaksian diri berlangsung maka 
orang itu akan mengalami satu proses membebaskan diri batin 
“KHAWAS FI KHAWAS” 
dari jasad 
dan dengan itu 
maka seseorang 
akan dapat melihat 
wajah kesatu 
wajah kedua 
seterusnya sampailah kepada 
wajah kesembilan 

yaitu 
martabat yang paling tinggi di dalam ilmu gaib… 

dengan mendapat 
pecahan wajah 
maka 
akan dapatlah orang itu membuat suatu penyaksian yang sebenar 
pada setiap saat 
dimasa hidupnya 
pada waktu “acara” ibadah ataupun 
keadaan biasa.
.
Pada tahapan seperti ini dinamakan 
martabat “BAQA BILLAH” yaitu 
suatu keadaan yang kekal pada setiap 
pendengaran, 
penglihatan, 
perasaan 
dan sebagainya, 

dan pada tahap ini 
ia adalah seperti 
orang awam biasa-biasa saja, 
tidak nampak dan sulit 
untuk mengetahui 
derajat dirinya disisi 
Allah Ta’ala..
.
Biasanya orang yang berhasil mencapai 
maqam Sholahud Da’im maka 
dapatlah ia kembali 
kehadrat Allah Ta’ala 
dengan 
diri batin dan diri dzahir tanpa terpisahkan 
diantara satu sama lain, 
ia dapat memilih 
hendak mati atau 
hendak gaib.

Rahasia Ilmu • اَللّٰهُ“TAHAPAN ILMU”Tahap-Tahap Ilmu Yang Sampai Kepada Allah*

Rahasia Ilmu • اَللّٰهُ

“TAHAPAN ILMU”

Tahap-Tahap Ilmu 
Yang Sampai Kepada Allah*

1. Ilmu Syariat


Ilmu syariat ini sejalan dengan Ilmu Sifat 20. Dengan mempelajari Ilmu Sifat 20 ini, 
sang murid tidak sewajarnya dibelenggu dengan dalil akal dan nas semata-mata. 

Ia perlu mendalami sifat 20 itu yang tertakluk dalam Salbiah, 
Nafsiah dan 
Maani 
yang hadir pada dirinya itu bahawa harus dikembalikan sebagai Amanah 
kepada Al-Haq. 

Apabila Amanah itu dikembalikan dengan ditasydiqkan di dalam hati iaitu dengan keyakinan yang putus tanpa syak dan waham; 
La haiyun, 
La qadirun, 
La muridun, 
La ‘alimun, 
La sami’un, 
La basirun, 
La mutakalimun, 
akan tersingkaplah kepada sang murid dengan keperolehan ‘rasa’. 

‘Rasa’ iniah yang akan menyingkap ‘Rahsia Allah’ yakni Wahdaniyyah. 
Seperti contohnya 
apabila dipulangkan 
di antara salah satu 
sifat Nafsiah 
“bersalahan Allah Ta’ala 
dari segala yang baharu,” maka 
pada ketika itu luputlah sifat-sifat Allah 
yang sebelumnya ada dikatakan kepada hamba, melainkan 
Allah jua yang mempunyai Sifat, 
hamba yang tinggal kini sebagai sandaran tempat mengEsakannya. 

Tatkala itu 

Allah itu hidup 
dengan sifat hayatNya, 

berkata-kata 
dengan KalamNya, 

mendengar 
dengan pendengaranNya, 

mengetahui 
dengan IlmuNya, 

berkehendak 
dengan kehendakNya, 

berbuat 
dengan perbuatanNya, 

melihat 
dengan penglihatanNya. 

Apabila si hamba luput 
zahir dan batin, 
tatkala itu tiada yang tahu, kerana keputusan ilmu adalah 
tidak mengetahui, 
maka 
Sifat sebenarnya 
tidak bercerai dengan Zat, walaupun 
dalam pandangan ilmu tampak bercerai, 

Sifat dan Zat 
adalah satu jua; 

Allah hidup dengan ZatNya, Allah 
berkata-kata dengan ZatNya, mengetahui dengan ZatNya, berkuasa dengan ZatNya, mendengar dengan ZatNya, melihat dengan ZatNya, berkehendak dengan ZatNya. 

Akhir tahapan makrifat itu; Yang Mengenal 
adalah Yang Dikenal jua.

Salbiah |
1 sifat | 
Wujud

Nafsiah | 
5 sifat | 
Qidam, 
Baqa, 
Mukhalafatuhu lilhawadis, Qiyamuhu binafsih, Wahdaniah

Maani | 
7 sifat | 
Qudrat, 
Iradat, 
Ilmu, 
Hayat, 
Sama’, 
Basar, 
Kalam

Maanawiyyah | 
7 sifat | 
kaunuhu qadiran, 
kaunuhu muridan, 
kaunuhu ‘aliman, 
kaunuhu sami’an, 
kaunuhu basiran, 
kaunuhu mutakaliman


2. Ilmu Thariqah

Thariqah 
arti dasarnya ialah perjalanan mencari Allah. 

Perjalanan itu ada di dalam zikir yang ditalqinkan 
serta latihan-latihan suluk. 

Jauh atau singkatnya perjalanan tergantung kepada pengalaman kerohanian seseorang itu. 

Ada yang berjaya sampai kepada matlamatnya. 
Ada pula yang tidak mendapatkan apa-apa hasilnya selain penat-lelah. 

Ada pula yang tertinggal separuh jalan, gagal, kecewa atau putus-asa. 

Ada yang masih meneruskan perjalanan walaupun jasadnya sudah pun terkubur di bumi. 

Ada pula yang thariqahnya bersambung-sambung dengan thariqah-thariqah lainnya untuk sampai kepada matlamatnya.


3. Ilmu Haqiqat

Haqiqat berdasarkan kepada Al-Haq. 

Adapun difinisi Al Haq dalam ilmu haqiqat 
(lihat tasawuf) bukanlah bersandarkan semata-mata kepada Tuhan. 

Apa yang dimaksudkan 
Al Haq ialah 
hubungan atau rangkaian milik bersama antara Tuhan dan hamba. 

Contohnya seperti 
Surah Al Fateha 
yang mengandungi 7 ayat. 

Tiga ayat yang teratas adalah khusus bagi Allah, 

manakala 4 ayat ke bawah khas bagi hamba. 

Maka solat juga pada pengertian orang haqiqat ialah 

‘tempat pertemuan antara Tuhan dan hamba’, 

dan bukanlah solat itu 
suatu sembahan atau puja-pujian kepada Allah semata-mata.

Justeru itu, 
Ilmu Haqiqat adalah 
terkait dengan 
Ilmu Mengenal Diri. 

Tanpa diri manusia, 
maka 
Ilmu Haqiqat ini tidak akan wujud. 

Menurut kata 
Syekh Sufi Ahmad al Alawi, “orang yang mengenal diri itu adalah lebih dalam makrifatnya daripada orang yang mengenal Allah.” 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa 
Ilmu Haqiqat didapati langsung daripada Allah, disebut juga sebagai 
Ilmu Laduni 
dengan tanpa usaha. 

Namun demikian 
ada juga Ilmu Haqiqat ini yang dibimbing oleh guru-guru mursyid 
yang terkenal seperti Hamzah Fansuri dengan doktrinnya Wujudiyyah, 
Ibnu Arabi dengan doktrinnya Wahdat al Wujud. 

Dan yang paling sistematis sekali ialah 
Fadullah Burhanpuri, seorang ulama Sufi dari India yang telah menyusun kitab Maratib al Sab’ah (Martabat Tujuh), 
kemudian kitab tersebut telah dikirimkan pengarangnya sendiri kepada Syekh Shamsuddin al Sumaterani 
semasa memegang tampuk kerajaan Aceh sebagai menteri, 
kemudian kitab yang berisi ajaran Martabat Tujuh ini telah disusun pula oleh Syekh Shamsuddin al Sumaterani 
ke dalam kitabnya berjudul Jauhar al Haqaiq 
tanpa mengubah sebarang dasar. 

Begitupun kepada 
Abdul Karim al Jili 
yang telah menyusun 
Ilmu Haqiqat atau 
Ilmu Mengenal Diri 
di dalam kitabnya berjudul Insan Kamil Fi Ma’rifah 
al Awahir wa al Awa’il. 

Menurut Syekh Abdrl Karim al Jili, 

Ilmu Mengenal Diri 
atau disebut 
Ilmu Haqiqat 
adalah termaktub dalam dzauk dan mukasyafah 
yang melepasi teori, ijtihad atau apa pun jua wacana intelektual.


4. Ilmu Misykat

Misykat 
artinya relung dalam bahasa Melayu. 

Misykat ada disebutkan 
di dalam al Qur’an 
Surah an Nur: 35. 

Saya teringat pesanan kata seorang guru Sufi, 
“Jika kau mencari Misykat ini di dalam seluruh jilid kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali, 
kau tidak akan menemuinya, kerana ilmu ini diperturunkan daripada 
hati ke hati, dan bukan dari tulisan ke tulisan.” 

Dalam kisah lagenda, 
ketika Sunan Kalijaga datang menemui Sunan Bonang, 
ia hanya meminta 
satu pelajaran sahaja 
untuk diajarkan 
iaitu tentang 
‘Rahasia Noktah’. 

Rahsia Noktah 
yang disebutkan oleh 
Ibnu Arabi 
ialah Misykat Khatamul Rasul, 
kerana inilah yang merupakan makrifatnya sekalian para Nabi dan Rasul yang hanya diketahui oleh para Wali Allah 
yang khusus dan tinggi martabatnya. 

Ilmu Misykat ini tidak diajarkan sembarangan dan sukar didapati kerana bilangan orang yang mempunyai ilmu makrifat jenis ini terlalu sedikit bilangannya di dunia ini. 

Kata sesetengah pendapat mengatakan Ilmu Misykat ini dikuasai oleh Nabi Khidir AS yang merupakan maha guru kerohanian. 

Makrifatnya Ilmu Misykat ini sebagaimana yang diungkapkan, 
ketika hamba bermikraj ke atas, 
Tuhan turun ke bawah, 
lalu keduanya bertemu dalam satu titik pandangan, “Syuhud al katsrah fi al wahdah, 
syuhud al wahdah fi al katsrah, 
syuhud al wahdah fi al wahdah” 
(Pandang Yang Satu nampak yang ramai, pandang yang ramai, nampak Yang Satu, 
pandang Yang Satu dalam Yang Satu). 

Dan…
”Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah di dalamnya.” 

Syekh Ahmad Sirhindi mengungkapkan, 
“apabila aku memandang Dia, maka aku tidak lagi terlihat yang lain.” 

Makrifat ‘Misykat’ ini 
tidak ada nafi dan istbat, kerana apa yang istbat tetap istbat, 
tak ada apa yang perlu dinafikan. 

Tidak ada meleburkan diri atau fana. 

Ahli makrifat ini hidup bersama Allah 
walaupun tubuh mereka bergaul dengan manusia ramai.

Bagi yg meminati perjalanan ilmu tasawuf makrifat, 
kalau tak baca buku ini “Sirrul Asrar”, 
sebuah karya monumental Sultan Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani 
bagaikan belum sah lagi bersuci dgn air wudhu ketuhanan yg mutlak lagi menyucikan. 

Lebih dari 30 tahun 
saya menelaah buku ini. Setiap kali membacanya ada saja penemuan2 yg baru. 

Perkara yg paling pokok 
di dalam buku ini ialah 
harus mengenal hakikat diri kita yg sejati iaitu 
Tiflul Maani – 
ada di dalam jasad kita 
yg paling terdalam 
bagaikan bayi yg dilahirkan tanpa dosa, 
suci nan murni. 

Di situlah asal-usul kita sebelum dilahirkan 
ke alam nyata dan di situlah perjalanan kita bermula dan harus kembali. 

Tiflul Maani ini sentiasa dijaga oleh Allah 
di alam Lahut. 

Tiada seorang malaikat pun yg dibenarkan masuk ke alam Lahut ini kerna boleh terbakar oleh cahaya keagungan Ilahi. 
Oleh kerna setelah kita berada di alam dunia ini, 
kita terlupa bagaimana untuk balik semula 
ke alam Lahut itu dan menemukan 
Manikam Tiflul Maani itu kecuali orang2 yg membersihkan Hatinya dan membersihkan Rasanya. 

Jadi menurut 
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, selagi belum menemukan Tiflul Maani itu belum lagi Arif billah. 

Tiflul Maani juga dinamakan Ruh Al-Qudsi 
iaitu rahsia dalam hakikat Ruh Sultani di alam Jabarut. 

Dan Ruh Sultani 
adalah rahsia dalam hakikat Ruh Ruhani (Nurani) 
di alam Malakut. 

Dan Ruh Ruhani 
adalah pula rahsia bagi hakikat Ruh Jasmani 
yg disebutkan sebagai istilah ‘nyawa’ di alam Nasut.

PUASA RAMADHAN

[1/4 09:48] Aing: 

Nawaitu guslal lidhukulissyiami romdhoona hadihisanati sunatallillahi ta'alla.
[1/4 09:52] Aing: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya : “Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadast besar, fardhu karena Allah Taala.”
[1/4 09:53] Aing: Untuk niat puasa Ramadan, bacaannya adalah:
Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri Romadhoona haadzihis sanati Lillahi ta'ala

Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardu di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala.
[1/4 09:54] Aing: Doa Buka Puasa

Setelah menjalankan puasa seharian penuh, kamu bisa membatalkan puasa saat mendengar adzan maghrib berkumandang. Kamu bisa membatalkan puasanya dengan membaca doa seperti berikut ini.

Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin.

Arti dari doa buka puasa ini adalah: Ya Allah karenaMu aku berpuasa, denganMu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmatMu, wahai Allah Tuhan Maha Pengasih.
[1/4 09:57] Aing: doa keramas puasa Ramadhan ini.
 نوت الغسل لدخول رمضان سنة لله تعالئ
 “ Nawaitu Guslal Lidhukhuli Romdhoona sunatallillahi ta’alla.” 

Artinya : 
saya berniat mandi sunat sebelum bulan Ramadhan karena Alloh ta’ala 

Atau bisa juga membacakan niat ini : 

“Nawaitu Guslal lidhukhulissiyami 
syahri Romadhon 
hadihi sanati sunatallillahi ta’alla”. 

Artinya : 
saya berniat mandi karena masuknya bulan Ramadhan  taun ini sunat karena 
alloh ta’ala.

RISALAH TAREKAT

[12/3 14:41] Aing: 


RISALAH TAREKAT 
QODIRIYAH NAKSYABANDIAH
[12/3 14:49] Aing: 

Ari manusa eta ka ancikan 
ku rupa-rupa nafsu 
dina saban-saban latifahna, tegesna lelembutanana manusa. 

Ari nafsu 
aya nu ngajak 
kana kahadean, jeung 
aya nu ngajak 
kana kagorengan, 
anu matak 
dina agama Islam, 
di sayagikeun pangajaran TAREKAT, nyaeta maksudna pikeun miara badan manusa sakujur lahir batinna, 
supaya bisa nyingkahan 
tina kagorenganana, 
nyaeta moal daek nurut 
kana hawa nafsuna, 
daek milampah 
kana kahadeanana.

Ari pangwujukna nafsu 
anu goreng teh 
eta jadi rereged kumarewedna manusa didunya anu temahna 
cilaka akheratna, 

upama manusa henteu palay ngaleungitkeun reregedna ku anjeun tangtu moal ajeg panceug 
dina kabenerannana 
moal cucud 
dina kajujuranana 
moal tinemu kaluhunganana, jeung 
moal tanjrih kaadilanana, salawasna, 
sabab 
ngagugulung kana pangwujukna hawa nafsu anu henteu aya ereun-ereunana, 
benang disebut nu kitu teh ngajauhkeun kana ka-islaman, 
tegesna 
nirca tina kasalametan dunya rawuh akherat, 
anu matak dawuhan 
para ulama muhakikin. 

Manusa-manusa kudu ngageum Tarekat Qodariyah Naksyabandiyah, 
anu mantak tawajuh latoif, hartina 
perjalanan keur madepkeun lelembutan manusa 
kana kahadean, 
keur nukangkeun 
kana kagorengan, 
seperti dawuhan kanjeung SYEKH ABDUL QODIR JAELANI. 
Pihartosen ceuk sundana kieu : 
“ JADI KAWAJIBAN MILURUHNA HIRUPNA ATI TEGESNA 
ELING KA PANGGERAN, ANU JADI KASALAMETAN AKHERATNA, 
SUPAYA JADI LEUNGIT REREGEDNA MANUSA 
ANU JADI PANGHALANG-HALANG KANA KAHADEAN, 
ARI MILURUHNA 
NYAETA 
ANJEUNA MASIH HIRUP KENEH DIDUNIA 
SARTA NGALAPNA 
TI PARANTINA 
(GURU TAREKAT). 

Malahan dawuhan 
SYEKH IBN ATTO’ILLAH moal bisa wusul 
ka Allah Ta’ala 
salagi hatena masih keneh kaganggu kana 
hawa nafsuna.

Sundana : 
DIMANA REK BISANA PADANG ATI, 
TEGESNA ELING 
KA PANGGERAN (TAUHID) SALAGI ATINA PINUH 
KU RUPA-RUPA GAMBAR MAHLUK (NGALAMUN) 
ANU DI CAP DINA KACANA HATE 
(RUPA-RUPA CIPTAAN). JEUNG MOAL BISA WUSUL KA ALLAH TA’ALA, 
MALAH NUMUTKEUN DAWUHAN ALLAH 
DINA QUR’AN. 
SAKIRA-KIRA MANUSA HAYANG NGALEUNGITKEUN REREGEDNA DINA AWAKNA LAHIR BATIN 
TAYA LIYAN IWAL KUDU DZIKIR KA ALLAH, 
SUPAYA BISA WUSUL 
KA ALLAH 
AYANA IEU AYAT DINA JUZ QUR’AN.

Sundana : 
MANUSA DIMANA MARILAMPAH KANA RUPA-RUPA KAGORENGAN ATAWA NGARASA AWAKNA SORANGAN POEK 
KU KARUDETAN JEUNG KACUPETAN, 
TEU SALAH DEUI 
DZIKIR BAE KA ALLAH (ELING KA PANGERAN) TANGTU MOAL DAEK DEUI MILAMPAH KANA KAGORENGANANA, 
JEUNG TANGTU LEUNGIT POEK MONGKLENGNA, SACARA KA BUKA KARUWEDAN JEUNG KACUPETANANA, 
JADI BISA SALAMET 
LAHIR BATINNA 
NYAKITU DEUI DAWUHAN ALLAH DINA QUR’AN.
“ PANGNA KAMI NURUNKEUN KANA DZIKIR KA MANEH MUHAMMAD, SUPAYA BISA ATRA JEUNG PERTELA DINA LAKU LAMPAHNA MANUSA, TEGESNA 
BOGA PADOMAN 
BISA NGALAKUKEUN KAHADEAN JEUNG 
BISA NYINGKAHAN 
TINA KAGORENGAN”.
[13/3 00:07] Aing: Ari dzikir ceuk mungguh lugat : 
Tiap-tiap kalimah 
anu ngeunaan kana 
asmana Pangeran seperti sajabana, 
eta kasebut dzikir 
mungguh lugat. 
Tapi ari dzikir 
mungguh istilah 
tegesna dzikir 
anu diatur dicatur 
ku ahli dzikir 
aya dua bagian ; 
sabagian dzikir 
anu di amalkeunana 
ku badan rohani, 
anu dingaranan 
Tarekat Naksyabandiah, 
jadi dzikir ieu 
anu dua bagian 
dingaranan 
Tarekat Qodariah, 
nyaeta 
pikeun agemen manusa, supaya lulus 
jasadna, 
nyawana, 
mulus lahir batinna, 
beres syareatna, hakekatna jeung matak wilujeung dunya akheratna.

Ari tuduhna kana dzikir 
anu di amalkeun 
ku badan jasmani, 
anu dingaranan 
tarekat qodiriah 
nyaeta anu diunggeulkeun dina salah sawios katerangan :
Tatkala Allah Ta’alla nurunkeun kana dzikir-dzikir pikeun maraneh 
pek geura kanyahokeun kumaneh, 
saestuna dzikir teh nyaeta
Ari adab-adaban dzikir aya 12 perkara
1. Dzikir teh kudu 
    di gurukeun heula, 
    sarta guruna kudu 
    anu mursyid, 
    tegesna cukup elmuna, 
    bijaksana 
    ngawurukeunana, 
    titi surti maparin 
    pangartina.
2. Kudu dijaga dzikirna 
    ulah sampai ka
    Ghoplah 
    nyaeta ari petana 
    cara nu dzikir, 
    ari hatena luas leos 
    inget kanulian, 
    sabab utamana dzikir =   
    dzikir lambei 
    kudu dibarengan 
    ku dzikir hate. 
    Malah aya kasauran. 
    “ Ari dzikir ku lambei, 
    tapi atina poho, 
    nyaeta dzikir biasa bae 
    (lumrah) 
    nu kitu teh 
    dzikir jalma anu bodo. 
    Ari buahna dzikir 
    jadi siksa, 
    karna dosa, 
    sabab bongan 
    dohirna nyangharep 
    ari batinna sulaya.
3. Dina rek dzikir 
    kudu Robithoh heula, 
    tegesna nyipta dibarengan 
    ku guru, 
    supaya sagala piwulang 
    guru ulah di momorekeun.
4. Kudu bersih atina 
    tina sagala hadas jeung 
    najis.
5. Kudu nyanghareup 
    ka kiblat 
    upama nyorangan
6. Dina keur dzikir 
    ulah aya pamandangan 
    istuning wungkul 
    kumereb.
7. Kudu perem 
    supaya lewih tuhu
8. Kudu dina poek atawa 
    dinu sunyi supaya leuwih 
    tengtrem
9. Upama keur dzikir 
    nafi-isbat, 
    kudu karasa mapayna 
    ka sakabeh latifah, 
    nurunkeun sakumaha 
    panuduh guru 
    upama keur dzikir isbat 
    wungkul, 
    kudu dipernahkeun 
    dina jero latifahna.
[13/3 00:22] Aing: 0. Kudu terang kana hartina.
1. Dina keur dzikir 
    sina karasa dina sakabeh 
    latifahna,
    malah dina sakuliah 
    warugana oge karasa 
    milu dzikir.
2. Sabada dzikir 
    maca latifah :

Ari latifahna manusa tegesna 
lelembutanana manusa, numutkeun 
hukum Muhakikin 
nyaeta aya 7 latifah :
1. Latifah Qolbi 
    (Lelembutan Jantung)
2. Latifah Ruh 
    (Lelembutan nyawa)
3. Latifah Sir 
    (Lelembutan rasa)
4. Latifah Khofi 
    (Lelembutan anu samara)
5. Latifah Akhfa 
    (Lelembutan rasa 
    anu leuwih samar)
6. Latifah Nafsi 
    (Lelembtan Nafsu)
7. Kakurung ku latifah Qolab, 
    tegesna 
    lelembutan sakabeh 
    badan 
    nyaeta lelembutan acining
    Cai – 
    Angin – 
    Seneu – 
    Taneuh, 
sabab badan jasmani teh kajadian tina acining 
Cai – 
Angin – 
Seneu – 
Taneuh.

Ari lelembutan manusa 
di eusian ku nafsu 
anu rupa-rupa pangajakan, ari luluguna aya 7 nafsu nyatana :
1. Nafsu Amarah
    Tegesna 
     tukang marentah kana 
     kagorengan 
     kalawan maksa mirusa 
     sangkan ngalampahkeun 
     kana kagorengan, 
     ngancikna 
     dina latifah Nafsi, 
     pernahna 
     antara halis dua, 
     ari baladna 
     aya 7 nyaeta :
     Buhlun (koret)
     Hirsun (Sarakah tur   
     hawek taya ereunna 
     teu noleh mere kanu lian).
     Hasadun (dengki ka 
     papada batur)
    Jahlun (bodo)
     Kibrun (angkuh jeung    
     gumede)
     Sahwatun. 
     (keukeureweut)
     Ghodobun (barangasan,   
     getasan, henteu kaopan)

2. Nafsu Lawwamah
    tegesna 
    pojokan, 
    cawadan 
    nganjreukna 
   dina latifah qolbi, 
   pernahna 
   dina handapeun kenca, 
   ari baladna aya 8, 
   nyaeta :
   Hawaun (kabitaan)  
   temahna teu matak jujur 
   kana pagawean.
   Mukron (deleka)
   Udjbun (nangtukeun nu 
   tacan bukti)
   Ghibatun (ngumpat 
   simuat)
   Riyaun (amal perbuatan  
   mandang katingali,  
   katangen ku batur)
   Dhulmun (neungteuingan)
   Kidbun (cidra)
   Ghaflatun. 
   (ngamomorekeun kana 
   kawajiban)

3. Nafsu Mulhamah 
    atawa 
    Sawiyah
Tegesna 
tukang nampa ilham, 
bisa terbuka rasana, 
padang atina, 
ngancikna 
dina Latifah Ruh, 
pernahna dina handapeun susu katuhu, 
ari baladna aya 7, 
nyaeta :
Sanowah (balaba laluasa.  
                   taya rudetan)
Qona’ah (ngalap cukup 
                saayana)
Hilmun (someah ramah  
              tamah rasrasan)
Tawadhun (handap ashor)
Thobatun (kapok tina sagala 
                    kasalahan)
Shobrun (bisa nahan 
                  kangewa jeng 
                  kakeseul hate)
Tahamul (kuat nandangan 
                  kasusah)

4. Nafsu Mutmainah
    Tegesna 
    anu purah ngajak-ngajak 
    kana kateguhan, 
    ka ampuhan, 
    kajatnikaan, 
ngancikna 
dina Latifah Siri, 
pernahna 
dina luhureun susu kenca, ari baladna aya 6, 
nyaeta :
Judun (berehan, murah 
              tangan)
Tawakulun (pasrahan, 
                      kajeunan)
Ibadatun (kumereb, 
               humadep, saregep)
Sukurun (metakeun waruga 
          katut milikna kanu idin 
          Panggeran)
Ridhotun (tengtrem ayeum  
                  kana pamasti 
                  ti Allah Ta’ala)
Hosyatun (inggis risi 
                   narajang kana 
                   salah)
[13/3 00:29] Aing: 5. Nafsu Rodiyah
    Tegesna 
    narik kana kapilucueun 
    dina sagala tingkah polah, 
    ngancikna 
    dina Latifah Qolab, 
nyaeta dina sakuliah badan, ari baladna aya 6, 
nyaeta :
Kanomun (mulus tingkah. 
                   polahna)
Zuhdun (tatapa)
Ikhlasun (bersih ati dina 
                 sagala tingkah.  
                 polah)
Waraun (apik ati-ati 
                dina sagala tingkah 
                polah)
Riyadotun (ngawarah salira 
                    sina dumuk dina 
                    kasaean)
Wifaun (nyumponan, 
               nohonan kana 
               kahadean)

6. Nafsu Mardiyah
Tegesna 
ngajak kana sagala 
kanu dipisuka, 
nyaeta 
jalan kasaean, 
ari ngancikna 
dina Latifah Khofi, 
pernahna 
luhureun susu katuhu, baladna aya 7, 
nyaeta :
Husnul chuluk (hade 
                            bubuden)
Tarku masiwallah (henteu 
                  nolih rasana kana 
                  sagala rupa anu 
                  dipigawe (Tauhid)
Lutfun biholqi (mikawelas ka 
                    papada makhluk)
Hamluhum alassolah (daek 
                     leukeun nungtun 
                       kana ka alusan)
Sophunan dunubil ghoer (hampuraan ka jalma anu nyieun salah ka pribadina).
Hubul Kholqi (deudeuhan ka 
                         papada batur).

7. Nafsu Kamilah
Tegesna 
purah ngajak kana kasampurnaan manusa, ngancikna 
dina Latifah Akhfa, 
pernahna 
dina tengah-tengah dada, 
ari baladna aya 3, 
nyaeta :
Ilmu yakin (kanyahona 
                    tetela)
Aenal yakin (kanyataan anu 
                       tetela)
Haqul yakin (kanyataanana 
               anu kacida tetelana
[13/3 00:32] Aing: Numutkeun 
Syekh Faruk Sarhanji 
yen Latifah 10 teh 
aya 2 bagian. 
Sabagian 5 nyaeta : 
Qolbi, 
Ruh, 
Sir, 
Khofi, 
Akhfa 
dingaranan Alamul Omri /Alam Amar (tempat wawadah sagala aturan), nyaeta 
parabotna manusa 
pikeun mikir-mikir 
anu henteu kaharti, 
paranti mikir-mikir 
anu henteu kaharti, 
paranti ngulik anu muskil-muskil (mustahil) mahamkeun anu bangga /demit (hese), 
paranti narima rumasa 
kana parentah Allah Ta’ala jeng Rasulna, 
pangna kitu 
ku ayana Latifah di manusa wungkul, 
di makhluk sejenna henteu aya 
malah dawuhan 
Ulama Muhaqqiqin.
Sundana : 
ieu Latifah anu 5 (lima) teh aya panampaan paparentahan dampal sampean 
anu aragung 
anu kagungan kasabaran, nyaeta 
para Rasul anu 6.

1. Nabi Adam As
2. Nabi Nuh As
3. Nabi Ibrahim As
4. Nabi Musa As
5. Nabi Isa As
6. Nabi Muhammad SAW
[13/3 00:43] Aing: Ari anu 5 deui 
nyaeta 
Latifah Nafsiah 
(lelembutan nafsu 
jeung 4 anu aya 
dina Latifah Qolab. 

Lelembutan sakabeh badan nyaeta 
tina acining 
CAI, 
ANGIN, 
SENEU, 
TANEUH 
eta latifah anu 5 
disakabeh makhluk 
(manusa jeung liyanna) dingaranan 
Alamul Kholqi 
(alam kajadian sakabeh makhluk) 
ari aturanana supaya dina lelembutan manusa 
ulah kalindih 
ku pangwujukna nafsu, 
nyaeta 
kudu karasa dzikir 
dina hiji-hijina Latifah, ditungtutan hiji-hiji Latifah tina asal di ajar dilalanyah tepika ngalemah, 
betah ayana dzikir (eling) teh hideng sorangan, 
tuluy ditungtutan deui 
kana latifah anu kadua nyakitu bae cara ngawarah latifah anu kahiji, 
tepika saterusna 
kabeh latifah, 
malah karasana lain dina latifah bae, 
tapi dina sagala waruga sakujur oge 
pada ngarasa ngalemah katut kabulu-bulu sadagingna sakulitna, sauratna katut ka pejit-pejitna pada nyarampak nyararing areling 
tepi ka nyerep lenyep sumeresep dina sakuliah waruga manusa, 
ceuk bahasa arab mah khusyu (tuhu, junun, 
              teu nolih kanu liana, henteu malire rasana 
kana sagala anu dipilampah ku jasadna, 
anging rasana 
anu cengeung manteung 
ka Allah Ta’ala wungkul beunang oge disebut istigrok = 
tegesna kaliputan ku lautan Muso’adah Sidkiyah (waspada anu tetela) 
ngesto taya petotna, 
ngabdi taya sepina, 
rumasa sapapanjangna 
teu nolih kana liana 
teu malire kanu sejenna, ngancik rasa anu sampurna, istu tetes teleb-teleb, 
nyelep lenyip, lahir batinna, sumawona kanu ngayuga, sanajan kapapada manusa teu welwh aya ras-rasan karumasaan boga rasa samodal sawedal sabangsa taya aya rasa angkuh sorangan, 
sepi tina kadiran, 
pinter aing henteu lian, ginding aing heunteu lian, beunghar aing teu lian, pangkat aing estu kasaluhureun 
boh harkat darajatna, 
boh kabogana tara hayang nanduk, 
sabalikna 
daek nyampur aku-baur kasasama tara hayang pasea, 
sabalikna 
jadi persahabatan 
anu sampurna, kasahandapeun tara hayang ngahina, 
sabalikna 
nungtun nuju kana jalan kajujuran, 
kapakir miskin teu weleh darehdeh sareseh, 
jeung daek mere maweh nganyatakeun welas asihna jeung ngarasakeun 
dina sagala rupa 
ka purba ku kawasa 
sanajan sagede lisah (benyer), 
moal salah tumarima, kasugri paparina, 
misilna tileuleutik tepi ka gede, 
ti susah tepika bungahna, teu weleh ngait meulit 
dina rasana aya karumasaan anu sampurna. 
Tah anu kitu dingaranan tegesna 
anu bisa nungtik nyangsi kana kasampurnaan manusa = 
keuna kasauran sepuh-sepuh 
tara unggut kalinduan, 
tara gedag kaanginan, 
ceuk basa arabmah ‘Istiqomah’. 
Tegesna 
ajeug panceug salalawasna tara katarik kataji 
ku anu muji, 
teu tugenah manah 
ku anu mitnah, 
tara sewot ku anu moyok, teu haripeut 
ku anu ngaleum, 
teu kabongbrong 
ku anu ngolo, 
teu tibelat ku anu ha’at, 
teu sedih pedah kaperdih, teu sungkan pedah dipenta, jejeug ajeug calik 
dina kayakinan 
teu aral ku rugina, 
teu bosen ku usahana, 
teu agul ku untungna, sadrah dina keur geringna, ikhlas keur ngubaranana, syukuran dina cageurna.
[13/3 20:21] Aing: Teu cicingeun keur bodona, teu bosenan diajarna, 
teu takabur ku pinterna, 
jadi teu sepi-sepi hasilna, dina sagala tingkah polahna, henteu suwung ibadahna tegesna humadep saregep ngawula sapapanjangna.
Teu kaliwat pedah berang teu kalindih pedah peting, teu kahalangan ku berang, teu kahalingan ku peting, singhoreng teh cicingna dina antara, 
heuleut berang 
heuleut peting, 
heuleut hina 
heuleut mulya, 
heuleut rugi 
heuleut untung, 
berjalan diduanana, 
kelar napak sapanjangna. 

Misilna nu tumpak kuda, calik ditengah-tengah 
sanes payun sanes pungkur, heuleutna payun jeung pungkur 
payun teuing mah 
tisuksruk, 
tukang teuing mah tijengkang, 
cirina kudu nengahan, 
ari kuda ditunggangan, 
nu matak 
tipayun dipasang kadali rangah, 
ti pungkur ku apis buntut, papak rata sangawedina, bisina kuda jengjaran, 
bisina rusuh sandungan, 
lain kuda teu huluan, 
lain kuda teu buntutan, 
ngan cicing diantarana nahan pungkur jeung payunna, 
lain teu aya susahna, 
lain teu aya bungahna, 
lain teu aya geuringna, 
lain teu aya cageurna, 
lain teu aya rugina, 
lain teu aya untungna, 
ngan cicing diantarana, ngamudi kaduana, 
tah kakara ngarasa papak ratana, 
henteu beurat kasabelah sabab 
mun resep teuing kakatuhu, sok jadi ngewa ka kenca, resep teing ka kenca 
sok tugenah ka katuhu, resep teuing kana benghar, sok ngewa kana malarat, cicingeun dina malarat, 
sok hayang nu benghar, resep teuing dina pangkat, sok ngewa panggih jeung cacah, 
pedah urang dina cacah, 
teu hayang luyu jeung pangkat, 
padahal mah keur susah teh pibungaheun, 
padahal keur bungah teh pisusaheun, 
padahal mah keur benghar teh pimalarateun, 
padahal keur malarat teh pibenghareun, 
padahal mah keur jadi rakyat teh pipangkateun, 
padahal mah keur jadi pangkat teh pirakyateun.
Tah lamun kitu teh 
karasa papak ratana layeut kahilir kagirang, 
upamana marojengja, 
pasti kana sulayana, tinangtu paraseana, 
sababna pakia-kia. 

Kumargi kitu kasugri 
nu parantos ngageum Tarekat Qodariyah 
khususna kaum Muslimin umumna, 
mugi sami bareng-bareng ngaihtiaran kana jalan kasaean, 
nyingkahan tina jalan kaawonan, 
karana anu jadi kasalametan di akherat teh 
nyaeta anu ngalampahkeun hade di dunyana, 
nyakitu deui anu cilaka akheratna teh, 
nemahan salah didunyana, 

jadi sadaya manusa 
pada boga tanggung jawab, kuduna 
ngurus badan sakujur, ngadidik diri pribadi, 
ulah rasa kajongjonan, 
betah dina kasalahan, 
matak cerik akhirna, 
matak cilaka tungtungna dina enggoning ngumbara 
di alam dunya, 
kudu bisa mernahkeun salira, 
dina kahadean salawasna, mangkana salira taya serepna, 
kari-kari lalawora, 
henteu apik miarana 
boh dohirna boh batinna, tetep resep dina kasalahan, ngumbar nafsu sapanjangna. 

Numatak ayana 
Tarekat Qodariyah teh, nyaeta 
perjalanan perihtiaran 
keur mernahkeun kahadean kasampurnaan lahir batin, nyingkahan tina kasalahanana.
[13/3 20:23] Aing: Mugi-mugi Gusti Allah Ta’ala maparin terbuka ilham 
anu mulya 
supaya tinemu bagja, 
hasil pamaksudanana, sinareng ieu risalah, muga-muga jadi wasilah, 
ka seja nu milampah, 
bisa ka ala buahna 
bisa kapeutik hasilna, manfaat sapapanjangna, salamet dunya akheratna, salamet jasadna, 
salamet nyawana, 
salamet lahir batinna, diraksa ku Nu Kawasa, 
bisa napakkeun hadena, bisa nyingkahan gorengna, parek rizkina, 
jauh balaina, 
taya sanes nu di suprih Cageur-Bageurna.
[13/3 20:30] Aing: INTISARINA

Martabat Alam 
nurutkeun Makomna 
Aya 2 (dua) 
nyaeta :
1. Alam Amar (Alamul Omri)
2. Alam Khalaq (Alamul 
                             Kholqi)

Ari Alam Amar 
kasusun tina :
1. Qolbu 
     nyaeta Alam Malak jeung 
                  Sahidan
2. Roh 
    nyaeta Alam Malakut  
                 jeung Arwah
3. Sir 
     nyaeta Alam Jabarut
4. Chafi 
     nyaeta Alam Lahut
5. Achfa 
     nyaeta Alam Ghoib 
                 Huwiyah Ilahiah.

Alam Kholaq 
kasusun tina 
1 Nafsu jeung 
4 Unsur Alam 
hiji-hijina diantawisna :
1. Nafsul Hayawani 
                (Hewaniah)
2. Turabun (Acining Taneuh)
3. Maun (Acining Cai)
4. Hawaun (Acining Angin)
5. Narun (Acining Seneu)

Martabat Qolbi 
dilebetkeun kana 
Martabat Af’al
Tempatna : Riqqah, Marifah, 
                     Hub, Sabr, nyatana 
kelembutan, 
tahu, 
kecintaan dan 
sabar

Martabat Roh 
dilebetkeun kana 
Martabat Asma
Tempatna : 
Rahmah, 
basath, dan 
surur 
yatana 
kasih sayang, 
kemurahan, dan kegembiraan

Martabat Sir 
dilebetkeun kana 
Martabat Sifat Subutiyah
Tempatna : 
Farah, 
dhahak, 
ghurur, 
yatana 
gembira, 
tertawa dan 
kebimbangan.

Martabat Chafi 
dilebetkeun kana 
Martabat Sifat Salbiyah
Tempatna : 
Hazzan, 
chauf, 
buka 
nyaeta 
kahawatiran, 
sieun jeung 
ceurik.

Martabat Achfa 
dilebetkeun kana 
Martabat Zat Mutlaqah 
anu pangluhungna..
Tempatna : 
Syahwat, 
djur’ah, 
sjadja’ah, 
harus 
yatana 
hawa nafsu, 
keberanian, 
kesatria jeng 
kasungguhan..

wassalam

Ka-aqroban saurang hamba jeung Gusti-Na,

[10/3 11:48] Aing: 


MUKADIMAH

Ka-aqroban 
saurang hamba jeung Gusti-Na, 
sapertos anu tos di Firmankeun ku Alloh 
dina salah sawios 
Hadist Qudsi 
(anu langsung sumping ka leubeut Qolbu Rasululloh) :
ﻤـﺎﺍﺗـﻘـﺮﺑﺎﺍﻠﻲﺍﻠﻤﺗـﻘـﺮﺒـﻮﻥ ﺒـﻤـﺜـﻞﺍﺪﺍﺀ ﻤﺎﺍﻓـﺗﺮﻀﺖ
ﻋـﻠﻴـﻬـﻢ ﻮﻻﻴـﺰﺍﻞ ﺍﻠﻌﺒـﺪﻴـﺗـﻘﺮﺐﺍﻠﻲ ﺒﺎﻠﻧﻮﺍﻓﻞ
ﺤـﺗﻰﺍﺤـﺒـﻪ ﻓﺎﺀ ﺬﺍﺍﺠـﺒﻠـﺗـﻪ ﻜـﻧـﺖ ﺴـﻤـﻌـﻪﺍﻠـﺬﻱ
ﻴﺴﻤـﻊﺒـﻪ ﻮﺒﺼﺮﻩﺍﻠﺬﻱ ﻴﺒﺼﺮﺒـﻪ ﻮﻠﺴﺎ ﻧـﻪﺍﻠﺬﻱ ﻴـﻧﻃﻖ
ﺒـﻪ ﻮﻴﺪﻩﺍﻠﺗﻰ ﻴـﺒﻃﺶ ﺒـﻬﺎﻮﺮﺠﻠـﻪﺍﻠﺗﻲ ﻴـﻤﺷﻰ ﺒﻬﺎ
ﻮﻗﻠﺒـﻪﺍﻠﺬﻱ ﻴـﻀﻤﺮﺒـﻪ
“ MA ATAQARRABA 
ILAYYAL MUTAQARRIBUNA BIMISTLI ADA’I MAFTARADLTU’ALAIHIM, WALA YAZALUL’ABDU YATAQARRABU ILAYYA 
BIN NAWAFIL, 
HATTA UHIBBAHU, 
FA IDZA AHBABTUHU KUNTU SAM’AHULLADZI YASMA’U BIHI WABASHARAHUL LADZI YUBSHIRU BIHI 
WA LISANUHUL LADZI YANTHIQU BIHI WAYADAHUL LATI YABTHISYU BIHA 
WA RIJLAHUL LATI YAMSYI BIHA WA QALBAHUL LADZI YADLMIRU BIHI”

Hartosna :
Jalma-jalma anu ngarasa deukeut ka KAMI, 
teu saukur ngalaksanakeun naon anu Kami Fardhukeun wungkul ka maranehna, malahan si jalma eta ngarasa deukeut ka Kami bari jeung ngalaksanakeun amalan-amalan Nawafil (salaku ibadah tambahan) neupikeun Kami oge mikacintana. 
Lamun Kami geus mikacinta kamaranehna, 
Nya Kami 
anu bakal jadi pangdanguna, anu jeung eta manehna 
bisa ngadenge, 
Kami anu jadi paningalna pikeun nenjo, 
Kami anu jadi pananganna pikeun nyekeul, 
Kami anu jadi suku pikeun lempang, 
jeung Kami oge 
anu jadi Hatena, 
anu jeung eta manehna 
bisa ber-Fikir kalawan boga cita-cita (panghareupan). (Riwayat imam bukhori).
Dina salah sawios 
Hadits Qudsi 
Allah SWT Berfirman :
ﻜـﻧﺖ ﻜـﻧﺰﺍ ﻤﺧـﻔـﻴﺎ ﻓﺎﺀ ﺤـﺒـﺒـﺖ ﺍﻦ ﺍﻋـﺮﻒ ﻓـﺧـﻠﻘﺖ ﺍﻠﺧﻠﻕ ﻠﻴـﻌﺮﻓـﻧﻲ
KUNTU KANZAN MAKHFIYYAN, 
FA AHBABTUAN ’URAFA 
FA KHALAQTUL LIYA’RIFANI
Hartosna :
“ Kami nyaeta (hiji) rusiah (pembendaharaan) 
anu Gaib. 
Tuluy Kami boga kahayang supaya di kanyahokeun. Terus Kami nyiptakeun 
Alam sarta makhluk (Muhammad). 
Taya lian supaya maranehna bisa Ma’rifat (nyaho) 
ka Kami”.
ﺍﻮﻠـﻮﺪ ﻴﻦ ﻤـﻌـﺮﻓــﺔ ﺍﷲ ﺗـﻌـﻼ
AWALUDINI MA’RIFATULLAHI TA’ALA
Naon Artina “ AWALUDINI ( ﺍﻮﻠـﻮﺪ ﻴﻦ ) ?
Yakni 
Permulaan Agama.
Jeung Permulaan Agama eta Ma’rifatullah ( ﻤـﻌـﺮﻓــﺔ ﺍﷲ ), 
nyaeta 
Nyaho jeung ngaku 
ayana Allah.

Naon asal Ma’rifat (ﻤـﻌـﺮﻓــﺔ ) ? 
Bahwa asal Ma’rifat eta 
bisa dibedakeun antawis
Mukhadas sareng Qodim sabab 
Hakikat akan wujud 
eta Mukhadas, 
jeung 
Hakikat Wajibul Wujud 
eta Qodim, 
teu tiasa bersamaan kaduana, 
jeung tidak berhimpun kaduana.

Anu mana dinamakan Agama itu ? 
Bahwa yang dinamakan Agama itu 
yaitu ibarat dari pada menghimpunkan 
ke-Empat perkara, Yaitu : Iman, 
Islam, 
Tauhid dan 
Ma’rifat
[10/3 11:54] Aing: WAMAN LAN YAKFIRULLOH FIDDUNYA, 
FAKAIFA YAROHU 
FIL AKHIROH
( Q.S. BANI ISRAIL : 72 )

Hartina : 
Saha-saha anu lolong 
(teu nyaho) ka Alloh 
keur didunyana, 
geus tangtu 
di akheratna oge lolong.

LAESA KAMISLIHI SYAEUN WAHUWA SAMIUL BASHIR
Hartina : 
Gusti Alloh teh 
teu bisa disaruakeun 
jeung naon bae nu aya 
di ieu dunya.

LATAHAROKUL JASADU ILLA BIIDNIROH, WALATAHAROKUL ROHU ILLA BIIDNILLAH.
Hartina : 
Obah usikna jasad ku Roh, Jeung 
obah usikna Roh 
ku Gusti Alloh.

WAHUWA MAAKUM AENAMA KUNTUM
Hartina : 
Gusti Alloh teh 
babarengan bae jeung makhluk-makhlukna, 
dimana bae manehna aya didinya anjeuna aya 
( Q.S. Al-Hadid : 4 )

WANAHNU AQRABUN ILAIHI MIN HABLIL WARID (Q.S. Qaf : 16 )
Hartina : 
Kami jeung maneh 
geus eweuh antarana deui, deukeut keneh Kami 
ka maneh 
ti batan urat beuheung 
nu nganteung dina beuheung maraneh.

WALLOHU BIKULLI 
SYAIIN MUHIT
Hartina : 
Jeung Allah nga angliputan ka sakabeh makhlukna 
nu aya dina ieu alam.

AL-INSANU SIRRI 
WANA SIRRUHUU
Artinya : 
“Manusia teh gudangna rusiah Kami, 
Jeung Kami teh gudang rusiahna (maranehannana)”.

LAM YANSA’NI ARDHI 
WA LA SAMAA’IY WAWASI’ANI QOLBU AB’DI ALMUUMINU 
ALLAYYINU 
ALWAADI’U.
Bumi jeung langit 
teu sanggupeun ngamuat Zat Kami (Dhat Allah), lintang ti hate hamba-hamba Kami anu mukmin 
nu Mukhlis (ikhlas), 
kalayan tawadhu.

AL-INSANU DHOHIRULLAHI WA ILLAHU BATHINUL IMAMMA
Artinya : 
Manusia teh 
wujud lahiriahna sedengkeun 
Allah wujud batinna.
ﻮﻤﺎﺧﻠـﻘـﻞﺍﻧـﺴﻦ ﻠﻞ ﻤـﻌـﺮﻓـﺘـﻴـﻪ
WAMA KHOLAQOL INSANAA LIL MA’RIFATIHI
“Dan Tidaklah Aku Ciptakan Manusia Melainkan Untuk Ma’rifat (mengenal) 
ke pada-KU”.

YAA AYYUHAN NAS !, 
MAN QASHADANII’ARAFANII WAMAN A’RAFANII ARAADANII 
WAMAN ARAADANII THALABANII. 
WAMAN THALABANII WAJADANII 
WAMAN WAJADANII DZAKARANII 
WALAM YANSANII. 
WAMAN DZAKARANII WALAM YANSANII DZAKARTUHUU 
WALAM ANSAHUU.
( Hai Manusa ! 
Singsaha anu nuju ka Kami, manehna bakal nyaho (Marifat) ka Kami. 
Singsaha anu nyaho 
ka Kami, menehna miharep ridho kami. 
Singsaha anu miharep Kami, tangtu neangan Kami. Singsaha anu neangan Kami, tangtu bakal menangkeun Kami. Singsaha anu geus menangkeun Kami, salawasna manehna 
nyebut tur eling ka Kami, jeung moal rek mopohokeun Kami, 
Singsaha jalma anu salawasna nyebut tur eling ka Kami, 
maka Kami salawasna ingeut jeung manehna moal Kami popohokeun.
[10/3 12:03] Aing: WAMAN ARAFALLAAHA 
FA ATHOO’AHU NAJAA WAMAN ARAFASY SYAITHAANA 
FA TARAKAHUU SALIMA. WAMAN ARAFADDUNYA FARAFADLAHAA KHOLISHO. WAMAN ARAFAL AKHIRAH FATHALABAHAA WASHOLA FA INNALLAAHA YAHDII MAN YASYAA’U WA ILAIHI TUQLABUUN.

(Jeung singsaha 
anu nyaho ka Allah, manehna taat, 
maka manehna salamet. Singsaha anu nyaho setan, manehna ninggalkeun godaannana, 
manehna salamet. 
Singsaha anu nyaho dunya, manehna nolak, 
maka menehna bersih jeung lepas tina sagala keterikatannana. 
Singsaha anu nyaho akherat manehna nuntut kalawan miharepna, 
maka manehna nepi 
kanu ditujuna. 
Saenyana Allah 
mere pituduh ka singsaha wae anu dikehendakina jeung mung ka Anjeunna urang bakal dikembalikeun.

Ari kawajiban Ma’rifat 
pikeun manusa aya 4 hal nyaeta :

Marifatul Kholqi 
(Nyaho kana sakabeh makhluk ciptaannana) ,

Marifatul Al-Ghair 
(Nyaho kana sakabeh jiwa jeung tabeat manusa)

Marifatu Nafsi 
(Nyaho ka dirina sorangan) ,

Marifatullah 
(Nyaho ka Allah).
ﺍﻮﻠـﻮﺪ ﻴﻦ ﻤـﻌـﺮﻓــﺔ ﺍﷲ ﺗـﻌـﻼ

AWALUDINI MA’RIFATULLAHI TA’ALA
Hartina : 
Ari awal permulaan agama nyaeta 
kudu nyaho ka Allah Ta’ala. 

Maksudna 
supaya enggoning urang ngalakonan ibadah teh ngarah syah ditarima 
amal ibadahna 
ku Allah Ta’ala 
sabab 
“amal teh 
kudu kalawan elmu, 
lamun teu kalawan elmuna bakal batal, 
moal aya manfaatna 
pikeun di akhirat, 
ngan saukur keur mapaesan dunya wungkul”.

Tapi nganyahokeun 
ka Allah 
eta lain saperti nganyahokeun kahawades beh jentulna 
tapi kudu ku Elmuna 
sabab ceuk dalilna oge 
ari Allah mah 
“ Dhat Laesa Kamislihi Saiun” 
(teu aya upamana 
bakating kuhiji-hijina) 
mung Anjeuna nyalira 
anu jumeneng ku Anjeun “Dhat tanpa wiwitan-
Dhat tanpa wekasan”.
“ AWALU WAJIBUN 
ALAL INSAN MARIFATULLAHI 
BI ISTIQANI”
Ari awalna (mimitina) kawajiban manusa 
nyaeta 
kudu nyaho ka Allah 
ku kayakinan anu panceug/kuat (istiqomah) 
nyatana anu 
teu umbut kalinuan 
teu gedag kaanginan. 
Lir ibarat urang ngucapkeun dua kalimah syahadat, 
lain ngan ukur bisa ngucapkeun wungkul 
dina sungut, 
bahwa urang geus nyaksi yen teu aya deui panggeran iwal ti Allah 
sareng 
Muhammad Rasul Allah, 
lain saperti kitu bae 
tapi kudu jeung 
sidikna 
nyatana 
Sidik kana Dhatna, 
Sidik kana Sifatna, 
Sidik kana Af’al-na jeung Sdik ka Rasulna. 

Lamun urang 
geus sidik kanu opat perkara tadi 
baru urang bisa disebatkeun syah ibadahna, 
ari kangaranan SYAHADAT nyaeta 
Syah/ bener nurutkeun Adat/carana 
nyatana 
Syah Dhat-na, 
Syah Sifat-na, 
Syah Asma-na jeung 
Syah Af’al-na. 

Kapan ceuk dalilna 
dina Qur’an oge 
“ WABUDU ROBBAKA HATTAA YA’TIYAKAL YAQIN” 
(Jeng Ari nyembah ka Allah teh kudu sidik 
kalawan yakin 
Q.S Al-Hijir : 99).
[10/3 14:38] Aing: Kecap yakin 
didieu ngandung harti 
anu geus bener-bener percayana, 

percaya oge cumah 
lamun teu dibarengan 
ku Ma’rifatna 
ari hartina Ma’rifat 
nyaeta nyaho. 

Jadi percaya 
kana ayana Allah teh 
kudu jeung nyaho 
kalawan sidikna, 
upama teu jeung nyahona/sidikna 
berarti Iman-na Taklid (Nyaeta ngaku Iman 
ngan saukur sabatas omongan 
jeung mung sakadar 
ceuk kitab wungkul).
ﻮﻤﻦﺍﻋـﺮﻑ ﻧـﻔـﺴـﻪ ﻓـﻘـﺪ ﺍﻋـﺮﻑ ﺮﺒـﻪ ﻮﻤﻦ ﺍﻋـﺮﻑ ﺮﺒـﻪ ﻓـﻘـﺪ ﺠـﻬـﻳﻼ ﻧـﻔـﺴـﻪ
“ WAMAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU, WAMAN AROFA ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAFSAHU”
(Singsaha jalma 
anu geus nganyahokeun kadirina sorangan 
tangtu bakal nyaho 
ka Panggerannana, Samangsa-mangsa geus nyaho ka Panggerannana tangtu bakal leuwih nyaho kadirina anu bodo).
ﺍﻋـﺮﻓـﻜﻢ ﺒـﺮﺒـﻪ ﺍﻋـﺮﻓـﻜﻢ ﺒـﻧـﻔـﺴـﻪ
ARAFUKUM BIRABBIHI ARAFUKUM BINAFSIHI Artina : 
Jalma anu bener-bener nyaho ka Allah 
nyaeta anu geus lewih ngarti jeng nyaho ka dirina sorangan.


Tapi nyaho ka Allah 
lain cukup kupanon lahir wungkul 
tapi kudu jeung elmuna, sabab 
Ghoib kudu ku Ghoib deui 
da manusa oge aya ghoibna kapan saur dalilna oge
“WALLAHU GHOIBUN AL-INSANU GHOIBUN” 
(Ari Allah teh Ghoib 
manusa oge Ghoib), 

Iwalti kudu nganyahokeun ka dirina sorangan.
ﻤﻦﻋـﺮﻒﺍﷲ ﻻﻴـﺧـﻔﻰﻋـﻠﻴـﻪ ﺷـﻲ
MAN ‘ARAFALLAHA 
LA YAKHFA ‘ALAIHI SYAI’UN
Hartosna : 
Singsaha anu geus nyaho 
ka Alloh, 
teu aya deui rusiah sejen (anu Ghoib) di MantenNa.

Pengenalan ka diri sorangan ngarupakan Fardhu Ain sesuai jeung dalilna 
“WALA ANA AWALU NAFSI FARDHU AEN” . 
(Jeung kanyahokeun 
ku anjeun saenyana mimitina kudu nganyahokeun kana 
sifatna hirup kalawan “aen”/wajib). 

Bagi tiap-tiap manusia mengenal bahwa diri itu harus dikenal sebagai 
suatu Zat yang hina, lemah, dhoif, umi dan fana 

pengenalan mana 
dapat menimbulkan keyakinan bahwa 
Tuhan itu 
Mulia, 
Berkuasa dan 
Kekal AdaNya. 

Orang yang tidak mengenal dirinya 
tidak akan mengenal Tuhan-Nya 
baik didunia maupun 
di akhirat 
dan apabila ia tidak kenal akan TuhanNya 
maka ia tidak dapat menyembah TuhanNya itu dengan sebaik-baiknya. 

Bukankah orang yang buta didunia ini 
akan buta pula nantinya 
di akhirat 
bahkan lebih sesat lagi ?

WALIKULI QULU UMATIN WAROSULIHI
(Q.S. Yunus : 47)

Hartina : 
Dina sakabeh umat 
pada katetepan Rasululloh, hartina Rasa Alloh.

WATTAQULLOHA WAYU’ALIMUKUMULLOHU
Hartina : 
Kudu taqwa maraneh (ngabersihkeun kokotor lahir batin) 
engke maraneh tangtu 
di paparinan elmu Allah.
[10/3 14:44] Aing: AM KAEFA YARHALU ILLALLOH 
WAHUWA MAKBALUN 
BI SAHWATIHI
Hartina : 
Kumaha rek bisana lumampah nepangan Alloh, sedeng manehna diringkus ku hawa nafsuna.

Kusabab eta 
mempeng urang keur 
hirup didunya, 
urang kudu bener-bener ibadahna ka Allah, 
jeung ikhtiar pikeun beukeul urang engke mulang 
lamun geus 
di parengkeunnana 
cunduk waktu 
ninggang mangsa 
balik ka akherat 
nyatana maot 
anu bakal pasti kaalaman kusakabeh anu hirup, 
aya paribasana 
“Mawa payung 
samemeh hujan” 
tegesna 
kudu bisa nganjang kapageto 
nyaeta kudu bisa ngarasakeun maot samemeh maot 
anu sabenerna
ﻤـﻮﺘـﻮ ﺍﻗـﺒﻞ ﺍﻦ ﺘﻞ ـﻤﻮﺘـﻮ
MAUTU QOBLA 
ANTAL MAUTU , atawa ( ANTAL MAOTU 
QOBLAL MAOTU)
Hartina : 
Kudu bisa paeh 
samemeh paeh 
( kudu bisa mati 
sajeroning hirup)

HASABU ANFUSAKUM QOBLA ANTAL HASABU.
Hartina : 
Hisab heula 
ka badan sorangan samemeh 
ngahisab ka batur

INNA LILLAHI 
WA INA ILAIHI RO’JIUN
Hartina : 
Asal ti Alloh 
kudu balik deui ka Alloh.
ﺍﻻﺣﻖ ﺒـﺎﻻﺣﻖ ﺍﻻﺣﻖ ﺒـﺎﻻﺣﻖ
ILLA HAQQA 
BILLA HAQQIN – 
ILLA HAQQIN 
BILLA HAQQA
(Hak Allah teh 
Hak Muhammad – 
Hak Muhammad teh 
Hak Allah)

Jadi ngeunaan 
Hak Allah jeung 
Hak Muhammad 
eta kabeh oge 
geus kahimpun tina 
“Dua Kalimah Sahadat”.

Kapan Ari 
Kasampurnaan SAHADAT
eta aya 4 (opat) perkara :

1. Nganyahokeun : Ngandung harti 
kudu geus Sidik 
kalawan Ma’rifat-na 
Ka Allah Ta’ala 
kapan 
Hak Mutlak Allah SWT 
nyaeta 
dikenali dan diketahui keberadaan Diri-Nya, 
Yang meskipun Al-Ghaib (tidak akan pernah menampakan diri 
di muka bumi ini) 
namun 
dapat dirasakan 
amat sangat dekat sekali dalam rasa hati ini 
(lewih deket tibatan 
urat beheng hamba-hambaNa).

2. Ngucapkeun : 
Ngandung harti 
nandesken atawa negaskeun ku ucap, 
kana naon hal 
anu geus kapanggih jeung kasungsi ku diri pribadina. Sebagai 
ikrar penyaksian kana Ka-Agungan Allah SWT.

3. Ngabenerkeun : Ngandung harti 
nga enyakeun 
kana naon hal anu geus 
jadi padamelannaNa, Nyatana ayana Urang, 
Bumi, langit, Sawarga jeung Naraka, katut sakabeh pangeusina. 
Anu ngarupakeun 
bukti nyata 
tina sagala Af’alna 
Kang Maha Suci.

4. Ngayakinkeun : 
Ngandung harti 
anu geus nyampai 
kana 
Syarat syah-na Sahadat.
[10/3 14:49] Aing: Sedengkeun Ari 
Syarat Syahna 
Maca Sahadat teh :

1. Kudu geus Netepkeun 
    Kana Dhat-na Allah Ta’alla
2. Kudu geus Netepkeun 
    Kana Sifat-na Allah Ta’alla
3. Kudu geus Netepkeun 
    Kana Af’al-na Allah Ta’alla
4. Kudu geus Sidik Ka 
    Rasululloh kalawan geus 
    netepkeun kana Sifat 
    Rasululloh, 
    nyatana : 
    Sidik, 
    Amanah, 
    Fathonah, jeung 
    Tabligh.

Ceuk paribasa sepuh mah Ulah nuduh kanu jauh 
ulah nyawang kanu anggang, 
Anu anggang geuwat raketan, 
anu deukeut geuwat dehesan 
(Anu hartina : 
riksa kudiri sorangan naon-naon anu aya dina diri/awak sorangan).

Saur Pidawuh Rasulullah oge
“NAFSIKA MATIYATUKA FARFUK BIHAA” 
Artina : 
Diri anjeun lir ibarat 
Jalan (Alat) pikeun bisa Nyampai kana Ridho-Na Kami.
ﻮﻤﻦ ﻄﻠـﺒﻞ ﻤﻮﻠﻦ ﺒـﻐـﻴـﺮﻱ ﻧـﻔـﺴـﺢ ﻓـﻘﺪ ﻇﻞﻇﻞ ﻷ ﻦ ﺒـﻴـﺪ
WAMAN THOLABAL MAULANA BIGHOIRI NAFSIHI 
FAQOD DHOLA DHOLALAN BA’IDA
(Jeng Saha-saha jalma 
anu neangan Panggeran (Allah) 
kaluar tina dirina sorangan mangka satemen-temenna eta jalma geus kasasar.) 

Dina hal ieu 
nembe kuurang tos tiasa kasawang jeung kalenyeupan 
yen hakekatna Panggeran sabenerna teu jauh jeung diri urang sorangan, malahan justru leuwih moncongok Manten-Na tibatan diri urang sorangan “Nahnu Aqrabun Illaihi Min Hablil Warid”
(Kami leuwih deukeut kamaraneh tibatan urat beheungna sorangan 
Q.S Qaaf Ayat 16 ) 

“Wahuwa Ma’akum 
Ainama Kuntum” 
(Jeung kami marengan kamaraneh sakabeh ( Dimana anjeun aya 
nya didinya kami aya)
Q.S Al-Hadid Ayat 4).

“Ru’yatullahi Ta’ala fidunya bianil Qolbi” 
(Ningalina Allah didunya kupanon (mata hati) 
tapi teu kalawan kafiat sabab teu adu hareupan, kusabab geus ngahiji sagulung sagalang 
lir upama 
sagara jeung ombakna, seneu jeung panasna, 
cai jeung tiisna, 
kembang jeung sengitna, gula jeung amisna, 
kopi jeung paitna, 
uyah jeung asinna. 

Kapan ceuk dalilna oge “ Innalloha Ala Kulli Sai’in Muhit”
(Saenyana Allah Ta’ala ngaangliputi kasakabehna 
lir ibarat cahaya 
kaangliputi ku caangna, seneu kaangliputi 
ku panasna).
[10/3 15:00] Aing: IMAN – 
TAUHID – 
MA’RIFAT – 
ISLAM

IMAN : 
Percaya kalawan yakinna

TAUHID : 
Teuteup – ajeug – Jeujeug

MA’RIFAT : 
Nyaho – Nyata – Teu samara

ISLAM : 
Suci – Sumerah – Salamet

Haqul Aen : 
Kakara deudeukeutan atawa reureujeungan

Haqul Yakin : 
Geus deukeut / geus reureujeungan

Ma’rifatul Aen 
Nyaeta kakara basa jeung carita.

Ma’rifatul Haq 
Nyaeta geus nyata, tetela karasana

NU KA ASUP 
KUMAWULA KA GUSTI TEH NU ASIH KA PAPADA MAKHLUKNA
Hartina : 
Jalma anu geus nyaho hartina bener, 
tara gampang nyalahkeun nu lian.

Jalma anu geus uninga 
ka Gusti, 
tangtu welas asih 
ka abdi abdina. 

Anu welas asih 
ka abdi abdina, 
saolah-olah ngabakti anjeunanana. 

Ulah waka ngaku 
tunggal jeung gusti, 
upama can welas asih 
ka makhlukna.

AGAMA teh 
pituduh jeung katerangan 
ti Alloh Ta’ala. 

Filsafat 
hasilna tina pikiran manusa.

Iman teu jeung ikhtiar, 
Elmu teu jeung amal 
sarua jeung kosong. 

Saksi nu nomer hiji 
nu baris 
nyalahkeun jeung ngabenerkeun teh 
hate. 

Najan pinter bisa nyarita ngareka reka basa, 
najan unggul dina catur, 
hate mah tetep nyaksian ( nu salah bakal cilaka, 
nu bener bakal salamet).

◙ LENYEPANEUN

Akal jeung pikiran dikamudikeu ku tekad, 

tekad 
dikamudi ku Tekad 
anu lempeng bener, 
teu cukup ku elmu nu luhur, teu cekap ku paham 
nu tabah, 
anging ku 
“ KODRAT IRADAT 
NU MAHA SUCI ”. 
(Nyeka raga, 
Mersihan diri, 
Nyucikeun ati 
‘ TATAPA NEDA LAKSANA’
Dina Al-Qur’an : 
“WA’ ASMAIHI TA’ALLOH ABADAN BI KUFRO”
Hartina : 
Sing saha 
nu ngaji Asmana bae, 
tetep kafir 
lamun teu timu barangna.

Barang dina wujud 
ngan aya 4 (opat) perkara :

1. SAREAT
    Sareat, lakuna badan.  
    letakna dina sungut 
    (Pangucap)

2. TAREKAT
    Tarekat lakuna ati 
     nu letakna dina irung 
     (Pangambung)

3. HAKEKAT
    Hakekat lakuna nyawa,   
    letakna di ceuli. 
    (Pangdangu)

4. MA’RIFAT
    Ma’rifat lakuna rahsa,    
    letakna di mata 
    (Paninggal)

Sholat Subuh : 
Nabi Adam 
ayana dina Wujud

Sholat Lohor : 
Nabi Enoh 
ayana dina Pangdangu

Sholat Asar : 
Nabi Ibrahim 
ayana dina Paninggal

Sholat Maghrib : 
Nabi Musa 
ayana dina Pangucap

Sholat Isa : 
Nabi Isa 
ayana dina Pangangseu

Sholat Minal Witir : 
Nabi Muhammad 
ayana dina Rasa Jasmani

Allah Muhammad Adam
Hirup Rasa Adeg

HIRUP = Kanyataan ayana 
                Gusti
RASA = Kanyataan ayana 
              Muhammad
ADEG = Kanyataan ayana 
              Adam
[10/3 15:07] Aing: Malaikat Jibril mepelingan ka kanjeung Nabi Adam “ 

Kudu tobat, 
ari anu di ucapkeun 
ku Nabi Adam 
dina dalil Qur’an 
nyaeta :
ROBBANA DOLLAMNA ANFUSSANA 
WA ILAM TAGHFIRLANA WATARHAMNA 
LANA KUNNANA 
MINAL KHOSIRIN

ARI ASMA MUHAMMAD ETA AYA 4 (OPAT) PERKARA :

1. MUHAMMAD HAQ 
    (ANU SAJATI)
    Nyatana Dhat Sifat =    
    rupina caang dumeling 
    anu ngarupakeun 
    sagara hirup 
    nyaeta bibit buitna nyawa 
    sakabeh.

2. MUHAMMAD HAKEKI
    Sorotna tina Dhat Sifat 
    anu ngaluarkeun / 
    ngabijilkeun 
    cahaya opat warna:
    Asal tina 4 (opat) 
    unsur Alam :
1. Seneu (Na’run / ﻧـﺮﻮﻥ )
2. Angin (Hawa’un / ﺤـﻮﻋـﻮﻥ )
3. Cai (Ma’un / ﻤـﺎﻋـﻮﻥ )
4. Taneh ( Turabun / ﻄﺮﺍﺒـﻮﻥ )

Asal tina 4 (opat) 
unsur Cahaya :
1. Cahaya Beureum 
    (Nurul Ahmar)
2. Cahaya Koneng 
    (Nurul Ashfar)
3. Cahaya Bodas 
    (Nurul Abyad)
4. Cahaya Hideung 
    (Nurul Aswad)

3. MUHAMMAD HARID
    Nyaeta Rasa pribadi atawa 
    Rasa Jasmani urang

4. MUHAMMAD MAJAJI
    Anu ngarupakeun 
    Rupa Jasmani
    Suku Cangkeng/udel 
    Badan/Tangan Kepala
ﻣ ﺣ ﻣ ﺩ
WA’BUDU ROBBAKA 
HATTA, YA TIYAKAL YAKIN (Q.S. AL-HIJIR : 99)
Hartina : 
Sembah Panggeran Anjeun sing nepi ka datangna kayakinan 
( kudu aenal yakin, 
sing sidik ka Maha Agung, ulah dikira kira, 
di judi judi ku ati 
yen Alloh teh ayana 
di luhureun arasy).

Anu Aqrob jeung kakawasaan anu Agung, hirup urang, 
eta kakawasaan Gusti Nyaeta 
hakekat Muhammad tea.

HAQULLOH = 
Hak Allah = 
hirup urang 

haqqul Adam = 
rasa jeung nafsu = 
Nyawa. 

Ari nyawa 
sifatna geutih 
ari geutih 
nyatana Nafsu.

Sifatna Hirup = 
Sifatna caang = 
Roh Suci.

Manusa kudu wajib percaya kana barang ghoib, 
kapan ceuk dalilna oge :
HUDAN LIL MUTTAQIENNA, ALLADZINA YU’MINUNA BIL GHAIBI 
(Q.S. Al-Baqoroh : 3)
Hartina : 
Nyaeta sakabeh jalma 
anu iman nekadkeun, ngabenerkeun, 
sarta ngaku 
kana perkara ghaib.

WA ALLOHU GHOIBUN 
AL INSANU GHOIBUN
Hartina : 
Jeung Alloh teh Ghoib manusa oge Ghoib.

ASMA’UL HUSNA 
(Asma Gunti Alloh ) sadayana aya 99. 
Diringkeus jadi aya 5, diantarana bae :
1. ASMAUL DHAT
2. ASMAUL SIFAT
3. ASMAUL ASMA
4. ASMAUL AF’AL
5. ASMAUL JINSI
[10/3 15:15] Aing: IMAN AYA 3 PANTA :
1. IMAN TAKLID : 
    Iman tina beja batur
2. IMAN IDLAL : 
    Naek tinu ka hiji
3. IMAN TAHKIK : 
    Geus gembleng, 
    geus yakin kana 
    Dhat, 
    Sifat, 
    Asma jeung 
    Af’alna Alloh Ta’ala

BEDANA 
RIJALUL ALAM JEUNG RIJALULLAH

Duanana oge sapangkat, nyaeta pangkat Senapati. 

Rijalul Alam : 
Nyaeta 
senapati Alloh 
anu ngagelarkeun 
Elmu Dohir 
nyatana elmu kadewaan. 
Ari asalna ti kanjeung Sayidina Anwar (Istijrad) .

Ari Rijalullah : 
Nyaeta 
senapati Alloh 
anu ngagelarkeun 
Elmu Agama, 
anu asalna ti 
kanjeung Syaidina Anwas (Mujizat). 

Duanana oge 
putra Nabi Sit A.S. 
incu ti kanjeung Nabi Adam sareng Babu Hawa .

BEDANA 
ELMU ISTIJRAD JEUNG MUJIZAT

Ari elmu istijrad mah 
teu sesah napaan, 
asal percaya oge 
geus cukup. 

Sedeng ari 
elmu mujizat mah 
kedah di galeuh 
ku ngirangan tuang leueut (Tirakat).

SING TALITI – 
SING SIDIK

NUR MUHAMMAD = 
ADAM HAKEKI = BABAKALNA ALAM DUNYA

CAHAYA BEUREUM = NARUN = 
SENEU

CAHAYA KONENG = HAWAUN = 
ANGIN

CAHAYA BODAS = 
MAUN = 
CAI

CAHAYA HIDEUNG = TURABUN = 
TANEUH / BUMI

KALIMA CAANGNA 
ALIP – 
LAM – 
LAM – 
HE = 
ALLOH ( ﺍﷲ )

DHAT – 
SIFAT – 
ASMA

1. NABI ADAM, 
    PANGKATNA :  
    HALIFATULLAHU

2. NABI ENUH, 
    PANGKATNA : 
    HABIBULLAHU

 3. NABI IBRAHIM, 
     PANGKATNA : 
     HALILULLAHU

4. NABI MUSA, 
    PANGKATNA : 
    KALAMULLAHU

   5. NABI ISA, 
       PANGKATNA : 
       ROHULLAHU

6. NABI MUHAMMAD, S.A.W. 
    PANGKATNA : 
    RASULULLAHU

Para Nabi kasebut diluhur parantos parupus, 

Para “ Rasul” mah 
teuteup teu robah 
nepi ka kiamat oge, 
kumargi kitu 
urang keudah : 
SING APIK – 
SING TELIK

CATETAN TINA 
BAGIAN HAK :

RASULULLAH = 
RASA ALLAH

RASA MANUSA = 
RASA SEJATI GHAIB

RASA JASMANI = 
RASA PRIBADI

Naon hartina 
DALIL – 
HADITS – 
IJMA – 
QIYAS

DALIL = 
Pangandika Allah SWT

HADITS = 
Pangandika Rasul

IJMA = 
Pangandika para Wali jeung para muslimin /ulama

QIYAS = 
Sategesna Akal.
[10/3 16:12] Aing: NAON ARI “ KAFIR “ ?
KAFIR teh 
sategesna lain 
si itu, si eta, 
tapi nyaeta 
jalma anu jahat atina, disagala bangsa oge 
aya tangtuna.

DHAT – SIFAT ALLOH TEH = HAKEKATNA- MUHAMMAD 

SAJATINING SAHADAT = JOHAR AWAL = 
SAGARA HIRUP = 
BIBIT NYAWA SADAYANA.

Tarekatna ngelmu teh = ngagunakeun akal 
sangkan Aenal Yakin.

NAON BEDANA 
HIRUP JEUNG NYAWA

Gusti Allah 
maparin Nyawa ka manusa teh 
dina urang mimiti ngabogaan 
rasa, 
nafsu, jeung 
kahayang. 

Nafsu anu 4 perkara 
nyaeta : 
Nafsu Amarah, 
Loamah, 
Sawiyah, 
Mutmainah. 

Barang mimiti gubrag 
ka alam dunya. 

Sedeng ari Hirup mah 
geus ti beh ditu, 
dijero beuteung indung oge geus bisa usik (hirup suci).
Ceuk Hadits :
“ MAN SOLA 
BILA MA’RIFATIN 
LAA TASINU SOLATUHU”
Hartina : 
Singsaha jalma anu solat bari teu kalawan Ma’rifat, maka teu sah solatna.

Sabda 
Nabi Muhammad SAW (Imam Gojali)
ﺍﻮﻠـﻮﺪ ﻴﻦ ﻤـﻌـﺮﻓــﺔ ﺍﷲ ﺗـﻌـﻼ
AWALUDINI MA’RIFATULLAHI TA’ALA
Hartina : 
Awal-awalna agama 
ku Ma’rifat heula ka 
Allah Ta’ala.
Dawuhan Allah Ta’ala dina Qur’an Surat Al Hijir ayat 99 :
WA BUDU ROBBAKA 
HATTA YA’TIYAKAL YAQINU
Hartina : 
Kudu nyembah maneh 
ka Panggeran maneh 
teupi ka Yakin.

Anu Ghoib 
diwujud manusa teh 
nyaeta :
DHAT – 
SIFAT – 
ASMA ALLAH.

Jadi hartina Ghoib teh 
sifat sifatna Hakekat.
DHAT = HAKEKATNA ALLAH
SIFAT = HAKEKATNA 
              MUHAMMAD
ASMA = HAKEKATNA ADAM
AF’ALULLOH = Amanat Gusti Alloh, nyaeta 
suci atina, 
suci ucapna, 
suci lakuna. 

Samemeh urang 
ngawincik Gusti 
ngudag kanyataan Panggeran teh, 
perlu di kanyahokeun pertanyaan-pertanyaan dihandap ieu
1. Naon hartina Agama ?
2. Naon hartina Gama ?
3. Naon hartina Hirup ?, 
    Hirup ku Hirupna – 
    Hirup kunu Hurip.
4. Saha nu Hirupna ?
5. Saha nu Hurip ?
6. Naon hartina Qudrat ?
7. Naon hartina Iradat ?
8. Naon hartina nu 
    Maha Suci ?
9. Naon hartina Elmu ?
0. Naon hartina diri Gama ?

1. Manusa teh makhluk 
   nu pang unggul-unggulna. 
   ti saantara makhluk. 
   Naon unggulna manusa 
   ti makhluk nu sejenna ?

2. Naon bedana hirup 
    urang jeung salian hirup ti. 
    urang ?
3. Naon ari tetengger Agama 
    Islam ?
4. Sajaba Rukun Islam jeung
    Rukun Iman, rukun naon.    
    deui anu di kanyahokeun
    deui ku urang ?
5. Naon ari Rukun Agama 
    Islam ?
6. Naon ari Fardhuna Agama 
    Islam ?
7. Naon ari Saratna Islam ?
8. Naon ari batalna Islam ?
9. Dina kitab naon pepekna.  
    caritaan jeung 
    prak-prakannana anu di
    parentahkeun ku hukum 
    sara ?
[10/3 18:37] Aing: Saparantos ka jawab pertarosan-pertarosan diluhur 
perlu oge di emutkeun, margina aya perlu 
kanggo bahan kapayun nyaeta :
1. Para Nabi = Mu’jizat
2. Para Wali = Karamat
3. Para Mu’min = Syafa’at
4. Ahli Bid’ah = Ihana
5. Bangsa Kafir = Mujajilah

Rek “Iman” ka Gusti Alloh ?, Aos engke dina bagbagan “ Ngawincik Gusti “ 
ngudag 
kanyataan Panggeran.

Alam Anu Tujuh :
1. Alam Ahadiyat
2. Alam Wahdat
3. Alam Wahidiyat
4. Alam Arwah
5. Alam Mitsal
6. Alam Ajsam
7. Alam Insan Kamil

DEMI PUJI AYA 4 HARKAT :

1. PUJI : 
    “KODIM ALAL KODIM”
     DALILANA : 
    “LAILLAHA ILLA ANA”
     HARTOSNA : 
     “EUWEH DEUI 
      ALLAH LIAN TI KULA”

2. PUJI : 
    “KODIM ALAL HADITS”
     DALILANA : 
     “NI’MAL ABDU INNAHU.   
      AWWABBUN”
      HARTOSNA : 
     “PANG ALUSNA JALMA.  
      TEH ANU SABAR” 
      GUSTI ALLAH 
      MUJI KA ABDINA

3. PUJI : 
    “HADITS ALAL KODIM”
      DALILANA : 
      “LAILLAHA ILALLAH”
       HARTOSNA : 
       “EUWEH DEUI.  
        PANGGERAN ANU 
        WAJIB DI SEMBAH.  
        ANGING GUSTI ALLAH ” 
        TI ABDI MUJI 
        KA GUSTINA

4. PUJI : 
    “HADITS ALAL HADITS”
      DALILANA : 
      “JAEDUN KARIMUN”
       HARTOSNA : 
      “JALMA MUJI 
        KA JALMA DEUI”
[10/3 18:49] Aing: NGAWINCIK GUSTI 

Ngawincik Gusti 
ngudag 
kanyataan Panggeran teh, 
ku pirang-pirang hadits 
ku pirang-pirang dalil. 

Hadits teh saringeun deui, jeung 
dalil teh intipeun deui, 

diintip ciri-cirina, 
disaring sari-sarina, 
mun geus ka intip cirina sarta geus kasaring sarina, 

ciri teh jadi ciciren diri, 
sari teh jadi sarining budhi, budhi basa kanyataan, ciciren diri sajati.

Ngawincik Gusti 
ngudag 
kanyataan Panggeran teh, lain pagawean anu gampang-gampang, 
lamun ku jelema 
anu nganggap bangga, 

sabalikna 
henteu gampang-gampang acan lamun ku jelema kakotektak jalan jalanna.

Ngawincik Gusti 
ngudag 
kanyataan Panggeran teh, moal ka udag 
ku jalan apal-apalan jeung galur do’a-do’aan, 

henteu cukup 
ku kuru cileuh kentel peujit bae, 
tapi kudu kalawan dibarengan ku jalan
“Kautamaan” 
nyaeta 
kautamaan lahir jeung batin.

Ngawincik Gusti 
ngudag 
kanyataan Panggeran teh, kudu sing puguh galurna, sing nincak kana tapakna, nyaeta 
galur anu nuntun kana kujur, tapak anu nuduhkeun 
kana jalan, 
jalan cukang kautamaan, nungtun kana karahayuan, geusan 
kasalametan lahir batinna.

Naon ari Gusti Alloh teh ?
Naon ari Panggeran teh ?

Anu bisa ngajawab 
ieu pertanyaan, 
ngan jalma 
anu geus nyaho 
kana hartina 
IMAN – 
TAUHID – 
MA’RIFAT – 
ISLAM 

(Islam teh 
Rukun Agama Islam )

IMAN : 
Percaya kalawan yakinna

TAUHID : 
Teuteup – ajeug – Jeujeug

MA’RIFAT : 
Nyaho – Nyata – Teu samara

ISLAM : 
Suci – Sumerah – Salamet

Jalma anu percaya, 
anu geus tetep, 
anu geus nyaho jeung 
anu geus suci, 
tangtu nyata 
ka Panggeranana, 
tekadna jeung lampahna saimbang jeung iradatna anu kawasa, 
satuju jeung gusti Allah 
anu Maha Murah jeung Maha Asih.

Uapama 
urang hayang nyaho 
kumaha Qudrat Iradatna Gusti anu Maha Murah jeung Maha Asih, 
urang kudu mapay heula tina bag-bagan 
“ ELMU TAUHID” . 
Demi “Elmu Tauhid” teh nyokot patokanana tina 
kitab “USHULLUDIN”. 
Kitab Ushulludin teh, 
nyaeta 
anu medarkeun hal ihwal Agama Islam, 
ngadadarkeun kana kaayaan Panggeran, 
Gusti diwincik 
ku wiwitanana, 
Panggeran dipedarkeun 
dugi kawekasanana, 
ku perantara bagbagan “SIFAT 20 ALLOH” .
PANYELANG
[11/3 01:35] Aing: PATOKAN ELMU SAREAT
1. Kudu nurut kana  
     parentahna Gusti Alloh.
2. Ulah saomong-omongna.
3. Ulah satenjo-tenjona.
4. Ulah sok.  
    sadenge-dengena
5. Ulah sacokot-cokotna.

PATOKAN ELMU TAREKAT
1. Kudu nganyahokeun   
    dawuhannana Gusti Alloh.
2. Kudu nyaho nu perlu 
    jeung nu teu perlu di 
    omongkeun.
3. Kudu nyaho nu perlu 
    jeung nu teu perlu di tenjo.
4. Kudu nyaho nu perlu 
    jeung nu teu perlu di 
    denge.
5. Kudu nyaho nu perlu 
    jeung nu teu perlu di 
    cokot.

PATOKAN ELMU HAKEKAT
1. Kudu nyaho bener ka  
    Gusti Alloh.
2. Kudu ngomong anu bener.
3. Kudu nenjo anu bener.
4. Kudu ngadenge anu 
    bener.
5. Kudu nyokot anu bener.

PATOKAN ELMU MA’RIFAT
1. Kudu sing nyaho bener 
    tunggalna Kawula Gusti.
2. Kudu sing nyaho bener 
    bedana anu hade jeung 
    anu goreng.
3. Kudu sing welas jeung 
    asih kapapada 
    makhlukna.
4. Kudu panjang ingetan, 
    kudu boga wiwaka 
    pamilih.
5. Kudu campleng wawanen, 
    pengkuh ngukuhan 
    kanyataan.

MA’RIFATNA IMAN 
AYA 5 (LIMA) RUPA
1. IMAN TAKLID = 
    Nyaeta iman anu masih 
    ula ilu (tuturut munding)
2. IMAN ELMU = 
    Nyaeta iman anu hasil tina 
    pangaweuruh / Guguru.
3. IMAN AYAN = 
    Nyaeta iman anu geus teu 
    samara-samar deui 
    ( Ma’rifatul Aen)
4. IMAN YAKIN = 
    Nyaeta iman anu geus 
    yakin kana 
    Dhat, Sifat, Asma, Af’al-na
    Gusti Alloh Ta’ala 
    (Ma’rifatul Yakin).
5. IMAN HAK = 
    Nyaeta iman anu geus 
    murakabah, 
    nyaeta anu geus bisa 
    netepkeun kana sajatina 
    Niat, 
    nyatana :
BILLAHI, 
FILLAHI, 
LILLAHI, 
MINALLAHI, 
ILALLAHI.

NGEUNAAN ROH 
AYA 7 (TUJUH) RUPA
1. ROH NABATI
2. ROH HEWANI
3. ROH RABBANI
4. ROH RAHMANI
5. ROH IDLOFI
6. ROH JASMANI
7. ROH ROHANI

BAB SHOLAT
SHOLAT TEH AYA 
2 (DUA) BAGIAN :
1. SOLAT ISTILAH
2. SOLAT LOGAWI

SOLAT ISTILAH
Demi solat istilah, 
nyaeta solatna badan anus ok biasa dipigawe sapoe sapeuting 5 waktu tea nyaeta : Subuh, Lohor, Asar, Maghrib, Isa.
Kapan dina dalilna oge :
“ AQWALUN WA AF’ALUN MUFTAHATUN BI TAKBIRI MUFTAHATUN BI TASLIMI”
Anu hartosna : 
Solat anu dimimitian 
ku takbiratul ikhram, jeung ditungtungan ku 
aweh salam.
[11/3 01:37] Aing: Syarat-syaratna Solat Istilah eta aya 15 perkara :
1. Islam
2. Pinter
3. Manjing waktuna (Baleg)
4. Nyaho kana fardhu jeung 
    kipayahna.
5. Ulah nyunatkeun nu perlu 
    jeung sabalikna.
6. Suci badanna
7. Suci prakprakanana.
8. Buni oratna.
9. Madep ka Kiblat.
0. Ulah ngomong salian 
    ti anu dibaca
1. Ulah aya gawe anu sejen
2. Ulah baranghakan
3. Ulah mangmang hate.
4. Ulah megatkeun solat
5. Ulah batal solat.

Ari Fardhuna Solat 
aya 5 Perkara :
1. Takbiratul Ikhram
2. Fatihah
3. Atahiyat
4. Salawat
5. Salam

Ari Mukaranahna Solat 
aya 4 Perkara :
1. IHRAM = 
    Ngaleungitkeun guruhna. 
    dunya
2. MI’RAJ = 
    Dumeheus teu karana 
    lengkah
3. MUNAJAT = 
    Unjukan teu karana ucap
4. TUBADIL = 
    Cul pagawean nu sejen, 
    tetep solat kari solat.
[11/3 01:44] Aing: Lantaran sagala dicokot ringkesna, 
babacaanana jeung prakprakanana solat Istilah didieu teu dicaritakeun. 

Pangna urang wajib solat anu lima waktu teh nurutkeun 
“Hukum Sara” mah kieu : TUMARIMA 
URANG DIGELARKEUN 
KA ALAM DUNYA 
KU NU MAHA SUCI TEH, KUDU AYA TANDANA, 
DEMI TANDANA 
NYAETA KU RUPA SOLAT ANU LIMA WAKTU TEA.

Ari hartina solat istilah teh : Pangabakti ka Gusti 
Nu Maha Suci 
ngemban dawuhan Panggeran. 

Pangna diayakeun 
sapoe sapeuting 5 waktu teh nyokot tina tangtungan 
wet anu di ayakeun ku “Hukum Islam”, 
nyaeta rukun anu lima tea.

Nurutken paham mah 
solat istilah teh 
ngandung harti anu kacida pisan pentingna, 
penting kana bagian lahir, oge penting kana bagian batin. 
Jadi solat anu lima waktu teh, 
bisa dibagi kana dua bagian nyaeta : 
WET LAHIR jeung 
WET BATIN.

WET LAHIR
Wajib sakabeh umat 
kudu berseka, 
berseka leungeun, 
sungut, 
irung, 
ceuli, 
suku, 

berseka badan khususna, sabab 
samangsa-mangsa 
sehat pikiranana tangtu sehat uteukna jeung saterusna.

Wudhu teh 
nyaeta 
saolah-olah pangajaran nitah urang supaya mindeng ngumbah leungeun, mindeung kekemu, mindeung ngumbah irung, mindeung ngumbah beungeut, 
mindeung ngumbah ceuli, mindeung ngumbah suku, malah alusna pisan mah sing getol mandi 
bari ngaruruan daki.

Oge lain arek solat bae 
wajib ngumbah leungeun teh, 
tapi arek dahar oge 
wajib ngumbah leungeun the ; 
lain arek solat bae 
wajib kekemu teh, 
tapi entas dahar oge 
wajib kekemu ; 
lain arek solat wae 
ngumbah irung teh, 
tapi ari aya kokotor mah wajib disusut.; 
lain arek solat wae 
wajib ngumbah ceuli teh, tapi ari aya kokotor mah wajib dibersihkeun; 
lain arek solat bae 
wajib ngumbah suku teh, tapi lamun asup ka imah oge teu aya halanganana ngumbah suku ; 
lain arek solat wae 
wajib kekebut teh, 
tapi arek sare oge 
wajib kekebut jeung saterusna. 
Kujalan kitu, 
badan rawuh paparabotanana bisa sehat salilana, 
sarta upama bener diturut anu kasebat di luhur, 
tangtu barudak pasantren atawa budak anu sejenna ditanggung moal aya anu barudug (baca saratna solat ti nomer 1 nepi ka nomer 9).
[11/3 01:48] Aing: WET BATHIN
Wajib sakabeh umat teh kudu ngaraksa jeung ngariksa, 
Nyaeta 
ngaraksa leungeun 
bisi barang cokot lain cokoteunana; 
kudu ngaraksa sungut 
tina ucap, 
bisi ngucapkeun lain ucapeunana; 
kudu ngaraksa irung 
tina ambeuan bisi nu 
di ambeu eta 
lain ambeueunana; 
kudu ngaraksa ceuli tina dedengean, bisi nu didenge teh lain dengeeunana; 
kudu ngaraksa suku 
tina lengkah, bisi anu dilengkahkeun eta lain lengkaheunana; jeung saterusna. 

Kujalan kitu tangtu pikiranana, 
bisa solat salilana, samangsa-mangsa sehat pikiranana, 
tangtu sekeut uteukna, 
sarta upama bener diturut sakumaha anu kasebat diluhur, tangtu barudak pasantren atawa budak sejenna moal aya anu parasea, sumawona nepi ka maseaan Indung Bapa mah. (Baca saratna solat tina nomer 10 nepi ka nomer 15).

SHOLAT LOGAWI
Demi solat “LOGAWI” teh nyaeta 
solatna Hakekat 
anu teu digeret ku waktu, 
teu di wates wangeunan 
ku jaman.

Kapan saur dalilna oge :
LAWAKTAN 
WALA HADDAN 
WALA JIHATAN 
WALA BIJAMANIN 
WALA BIRUKUN 
WALA BIJUDIN KOALBAHRI
Hartosna :
(Solat) teu aya waktuna, 
teu di wates wangeunan, 
teu aya tempatna, 
teu aya jamanna, 
teu aya rukuna, 
teu aya sujudna, 
ngemplang saperti 
sagara dina lautan.
[11/3 01:54] Aing: KABEH SOLAT LOGAWI TEH AYA 4 (OPAT) :

1. SHOLAT WUSTO
2. SHOLAT DAIM
3. SHOLAT HAJI
4. SHOLAT ISMU ADAM

Hartosna SHOLAT WUSTO
Nyaeta 
ngabaktina solat 
ka Gusti Alloh teh 
saban kaluar kajerona “Napas”, 
kaluar inget “Nafi” 
kajero inget “Isbat” 
nyaeta nyumponan lapad “ LAILAHA ILALLOH ”. 
Dina saringkak sarigig, 
diuk nangtung leumpang ngadeg teh 
teu aya deui anu dipieling anging Gusti Alloh, 
sarta eta ngagunakeun elingna kalawan yakin, 
Yen teu aya deui 
anu wajib disembah 
anging Gusti Alloh.

Hartina SHOLAT DAIM
Nyaeta 
ngabaktina ka Gusti Alloh teh saban usikna “Hate” sausik malikna ati 
teu aya deui anu di pieling, anging Gusti Alloh, saucapna, 
satekadna, 
salampahna, 
dibarengan ku tumarima kana kamurahanana jeung pangasihna Gusti Alloh. Dina sajero ngabakti nyumponan dalil : “FA’BUDHU WATAWAKKAL ALAIHI” , 
nyaeta 
ngabaktina teh ka anjeuNa, jeung sumerah diri oge 
ka anjeuNa.

Hartina SHOLAT HAJI
Nyaeta 
ngabaktina ka Gusti Alloh teh 
saban usikna “Ati” 
obahna “Manah” 
sarengkak saparipolah 
teu aya deui anu di pieling anging Gusti alloh, sarengkak, 
sarigigna, 
saucapna, 
satenjona, 
sadengena, 
saambeuna, 
satekadna, 
salampahna, 
teu tinggal ti Alloh. 
Nu katenjo, 
nu kadenge, 
nu di ucapkeun, 
anu dilampahkeun teh anging Alloh, 
nyumponan kana dalil :
“ U’BUDILLOH KAANAKATARAHU FAIN LAMTAKUN TARUHU FAINAHU YAROKA”
Nyaeta : 
ngabaktina ka Gusti Alloh teh 
saperti 
ningali ka AnjeunNana, 
anjeunNa ningali 
ka maranehanana.

Gawena welas asih ka sakur dadamelanana Gusti Alloh, nyaah ka sasama kaula, sabab 
netepkeun Tunggalna 
nu katingal jeung nu ningal.
[11/3 01:58] Aing: Hartina ISMU ADAM
Nyaeta 
ngabaktina ka Gusti Alloh teh, 
lain bae ngan saukur 
sausik malikna “Ati” saobahna “Manah” bae, 
tapi 
salirikna “Sir”, 
sagedagna “Rasa”, 
Sir ngabakti 
ka Nu Maha Suci, 
Rasa kumawula 
ka Gusti anu Kawasa, 
Roh madep maring Dhat 
anu Kawasa, 
Sukma madep maring Dhat kang Maha Suci, 
sir nu asih 
karep nu langgeng, 
wis teguh mulaning teguh, teguh anu matak hayu, 
hayu kuciptaning teguh, nyumponan kana dalil :
“ AL ISANU SIRI 
WA ANNA SIRRUHU”

Hartosna : 
Manusa teh rusiahna Panggeran, 
Panggeran teh rusiahna manusa, 
nu salilana jadi abdi, 
moal nyaho rusiahna Gusti, nu hayang nyaho rusiahna Gusti kudu sakola heula “ Karaton ka Gustian” . 
Sabab 
ngan Gusti pribadi 
anu uninga 
kana rusiahna Gusti.
Kapan ceuk dalilna oge :
“ FAMAN KANA YARJU LIQOOA ROBBIHI FALYA’MAL A’MALAN SYALIHAN WALA YUSRIK BI IBADATIHI ROBBIHI AHADAN”.
Hartosna : 
Saha-saha anu percaya, manehna bakal papanggih jeung panggeranana, manehna kudu ngalampahkeun amal 
anu hade sarta 
ulah nyaruakeun naon-naon ka Panggeranana 
tina ngalampahkeun parentahanana.
[11/3 02:06] Aing: LENYEPANEN

Solat ISTILAH teh 
solatna badan, 
ngemban 
dawuhan Panggeran nepungkeun 
ti abdi 
ka Gustina.

Solat LOGAWI teh 
solatna batin, 
ngemban 
dawuhan Panggeran nunggalkeun 
kawula jeung Gustina.

Kumpulna 
solat ISTILAH jeung 
LOGAWI teh, 
saolah-olah 
kumpulna ibadah 
Alamul Asghor jeung 
Alamul Akbar, 
nyaeta 
kumpulna ibadah 
kasakur anu kumelip 
di dunya kabir jeung 
dunya sogir.
Hartina :
Manusa 
anu kasebut “Alam Sogir” teh, 
anu baris nyubadanan ibadahna sakabeh makhluk, kayaning : Bumi, bentang, srangenge, sawarga, naraka, arasy, kursi, bumi ka 7, jeung langit ka 7. 
pangna nyubadanan 
kana sakabeh makhluk, sabab 
manusa anu kasebut 
“Alam Asghor” teh 
kumpul kabeh pepekna 
kana kaayaan Alamul Akbar aya dibadan manusa saperti : 
7 lapis bumi, 
7 lapis langit, 
bulan, bentang, srangenge, tatangkalan, sasatoan, sawarga, naraka, arasy kursi . 
Jeung saterusna.

RINGKESNA
Sareatna solat teh : Nyanggakeun sembah 
ti kawula ka Gustina 
nyaeta anu sapoe sapeuting 5 waktu tea.

Tarekatna solat teh : Dumeuheus 
ti kawula ka Gustina, 
nyaeta 
nepangkeun abdi 
ka Gustina.

Hakekatna solat teh : Nunggalkeun 
ti kawula ka Gustina, 
nyaeta rep sidakep sinuku tunggal.

Ma’rifatna solat teh : Tunggalna 
kawula jeung Gustina, nyaeta 
amateni “ Panca Indera” nutupi babahan hawa sanga, sirna rasana, 
bungah manahna.

SOLAT SAREAT 
Nyumponan pangajaran
IHRAM

SOLAT TAREKAT Nyumponan pangajaran
MI’RAJ

SOLAT HAKEKAT Nyumponan pangajaran
MUNAJAT

SOLAT MA’RIFAT Nyumponan pangajaran
TUBADIL

Dina hiji ibadah 
kudu aya bae fanana, 
fanana dina hiji-hiji pangajaran 
nurutkeun kumaha tahapanana pangajaran 
anu keur dipaju.

Demi martabatna fana bisa dibagi kana 4 (opat) bagian :
1. FANA FIL AF’AL
2. FANA FIL AS’MA
3. FANA FIL SIFAT
4. FANA FIL DHAT

Pangajaran IHRAM 
kaasup kana bagian 
FANA FIL AF’AL

Pangajaran MI’RAJ 
kaasup kana bagian
FANA FIL ASMA

Pangajaran MUNAJAT kaasup kana bagian
FANA FIL SIFAT

Pangajaran TUBADIL 
kaasup kana bagian
FANA FIL DHAT

Nu FANA FIL AF’AL 
ngarasa kahutangan 
lamun heunteu SOLAT.

Nu FANA FIL ASMA 
ngarasa kahutangan 
lamun heunteu KHUSYU.

Nu FANA FIL SIFAT 
ngarasa kahutangan 
lamun heunteu KHUSYUSIL KHUSYU.

Nu FANA FIL DHAT 
ngarasa kahutangan 
lamun heunteu MA’RIFAT.

Dalilna Nu FANA FIL AF’AL : “LA FAILA ILALLAH” 
(Hartosna : 
Henteu aya anu ngadamel anging Gusti Alloh.

Dalilna Nu FANA FIL ASMA : “LA MATLUBU ILALLAH” 
(Hartosna : 
Henteu aya deui 
anu dipikaresep 
anging Gusti Alloh.
[11/3 02:07] Aing: Dalilna Nu FANA FIL SIFAT : “LA MABUDHU ILALLAH” 
(Hartosna : 
Henteu aya deui 
wajib disembah 
anging Gusti Alloh.

Dalilna Nu FANA FIL DHAT : “LA MAWJUDA ILALLAH” 
(Hartosna : 
Henteu aya deui anu maujud anging Gusti Alloh.
[11/3 14:28] Aing: BAB PUASA

Dina sataun sakali, 
nyaeta dina bulan romadhon sakur kaum islam diwajibkeun puasa. 
Ari martabatna puasa 
eta aya 3 (tilu) perkara :
1. PUASA UMUM = 
    Puasa anu biasa saban 
    bulan Ramadhan
2. PUASA KHUSUS = 
    Puasana jalma pilihan.
3. PUASA KHUSUSIL.  
    KHUSUS = 
    Puasa sapapanjangna.

HARTINA PUASA UMUM
Demi anu dingaranan 
puasa umum teh nyaeta : Puasa anu di parentah keun ku “Hukum Syara” 
dina sataun sakali, saban-saban dina 
bulan Ramadhan. 
Syaratna puasa teh 
nyaeta 
nyegah dahar, 
nyegah nginum, 
nyegah nyapek raheum jeung sajabana. 

Wajib puasa jeung sunatna puasa umum teh lengkep diterangkeun dina 
Kitab Fikih, 
sangkan dianggap sah puasana, 
kudu di niatan anu bener.

HARTINA PUASA KHUSUS
Demi anu dingaranan 
puasa khusus teh nyaeta : Jaba ti nyegah dahar, nyegah udud, nyegah nginum jeung capek rahem teh, 
nyegah pangajakna leungeun, 
tina ngucap jeung ngomong nu teu aya perluna, 
nyegah tina pangajakna pangrungu anu sakira-kira teu aya manfaatna, 
nyegah tina pangajakna panenjo mata anu sakira teu aya hasilna, 
nyegah tina pangajakna suku anu sakira-kira matak mawa ma’siat kana kalakuan.

HARTINA PUASA 
KHUSUSIL KHUSUS
Demi anu dingaranan 
puasa khusus teh nyaeta : Jaba ti nyegah 
pangajakna panca indera anu lima, 
oge nyegah tina sagala kamaksiatan batin, 
saperti : Syirik, pidik, jail, kaniaya, aral subha, munafek, ngunek-ngunek, ujub, ria, takabur, gumede, tara ngalamun teu puguh, tara berewit, delet, sulit ati, belang bayah, tara ngumandeuar, rumahuh, miara kasusah .

Lamun ieu nu 3 bagian puasa teh ku urang diringkeuskeun, 
bisa dibagi 2 bagian, 
nyaeta :
1. PUASA LAHIR
2. PUASA BATHIN
Nu kaasup kana 
puasa “Lahir” 
nyaeta 
puasa umum jeung 
puasa khusus. 

Sedengkeun anu kaasup kana puasa “Bathin” 
nyaeta puasa 
khususil khusus.

SAMPURNANA PUASA LAHIR AYA 5 PERKARA :
1. Ngaraksa sungut 
    tina ambeuk, 
    ngupat, pasea, 
    ngageuhgeuykeun jeung 
    ngomong anu jorang.
2. Ngaraksa panon 
    tina pangdeuleu nu 
    dicegah ku Sara, 
    babakuna nenjo barang 
    anu lain hakna.
3. Ngaraksa ceuli 
    tina pangdenge, 
    ngadengekeun anu 
    ngupat simuat, 
    nu parasea, pendek 
    ngaraksa tina sagala rupa 
    dedengean nu matak ria.
4. Ngaraksa panyipta, 
    dina sajeroning keur 
    puasa teh ulah 
    nyipta-nyipta pibukaeun, 
   sumawona bari jeung 
   ngumpul-ngumpulkeun 
   dahareunmah, dina bukana 
   kudu saaya-aya bae, ulah 
   makmak mekmek sapedah 
   tas kosong.
5. Puasa kalawan ikhlas, 
    sarta kudu nyaho kana 
    paedahna puasa.
[11/3 14:30] Aing: SAMPURNANA 
PUASA BATHIN 
AYA 20 PERKARA :
1. Ulah ngalajur nafsu
2. Ulah gede ambeuk
3. Ulah ngomongkeun batur
4. Ulah nyieun teu ngeunah 
    ka batur
5. Ulah nyieun susah 
    ka batur
6. Ulah sirik kana kaayaan 
    batur
7. Ulah ujub ria takabur
8. Ulah cawadan
9. Ulah teu payaan
0. Ulah aral subha
1. Ulah miara kasusah
2. Ulah nguluwut kabingung
3. Ulah embung dihina
4. Ulah umanggul hayang 
    kapuji
5. Ulah hawek
6. Ulah ngalamun teu puguh
7. Ulah eraan leuwih ti misti
8. Ulah pahereng parasea 
    jeung batur
9. Ulah kebluk beuki sare
0. Ulah gembul kalahkah 
    baranghakan
[11/3 14:35] Aing: 20 hal eta ngarujuk 
kana Dalil :
“ LATAHAROKUL JASADU ILLA BI IDZNILLAH, 
WA LATAHAROKUL ROHU ILLA BI IDZNILLAH”.
Hartosna :

Obah usikna jasad ku Roh, jeung 
obah usikna Roh 
ku Gusti Alloh.
“ WATTAQULLOHA WAYU’ALIMUKUMULLOHU”
Hartosna :
Jeung kudu takwa maraneh (ngabersihkeun kokotor 
lahir batin) 
engke maraneh dipaparin elmu ku Alloh.
“ AM KAEFA ILLALLOHU WAHUWA MUKBALUN BISAHWATIHI”
Hartosna :
Kumaha rek bisana lumampah nepungan Panggeranna, 
sedeng maranehna oge diringkus ku hawa nafsuna.

JADI INTI TINA 
HAKEKAT PUASA
Lamun lirapkeun kana sejatina puasa, 
hakekat puasa 
aya 2 larapan :
1. Puasa lamun dilarapkeun 
    kana unsur diri 
   dibagi kana 7 bagian, 
   nyatana :
1. Puasana Badan 
    nyaeta kudu handap 
    asor / depe-depe.
2. Puasana Hate 
    nyaeta mengkek sagala 
    kahayang
3. Puasana Nafsu 
    nyaeta nyabarkeun diri
4. Puasana Nyawa 
    nyaeta temen / syuhud
5. Puasana Rasa 
    nyaeta bertindak utama
6. Puasana Nur 
    nyaeta susuci
7. Puasana Atma 
    nyaeta awas lan waspada

2. Puasa lamun dilarapkeun kana unsur wujud 
dibagi kana 7 bagian, nyatana :
1. Puasana Panon 
    nyaeta kudu melek 
    (ngurangan sare).
2. Puasana Ceupil 
    nyaeta nyegahan nafsu
3. Puasana Irung 
    nyaeta ngurangan nginum
4. Puasana Baham 
    nyaeta ngurangan dahar
5. Puasana Parji 
     nyaeta nyegahan syahwat
6. Puasana Leungen 
    nyaeta nyegahan tunggal 
    teunggeul, cocorokot anu 
    lain hakna
7. Puasana Suku 
    nyaeta tunda langkah 
    kana laku goreng
[11/3 14:42] Aing: SYARAT – SYARAT 
NGA IKHWANKEUN
ﺒﺴـــﻤ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ
ﻄﻠﺐ ﺍﻠﻌﻠﻢ ﻓﺮﻴـﻀـﺔ ﻋـﻠﻰ ﻜﻞ ﻤﺴﻠﻤ ﻮﻤﺴﻠﻤﺔ ﻤﻦﺍﻠﻤﻬـﺪﺍﻠﻰﺍﻠﻠﺤﺪ
Thalabul Ilmi Fharidatun 
A’la Kulli Muslimin 
wal Muslimat 
Minal Mahdi I’lallahi
“Nyiar Elmu teh 
eta wajib ka satiap 
jalma Islam lalaki jeung Islam awewe 
ti mimiti aya dina aisan 
nepi ka sedong kubur (maot)
(H. Riwayat Bukhari wal Jama’ah)

Saur Pangandika 
Rasulullah SAW
ﺒﺴـــﻤ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ
ﺍﻠﻌـﻠﻢﻋـﻠﻤﺎﻦ؛ ﻋـﻠﻢ ﻓﻰﺍﻠـﻘـﻠﺐ ﻓـﺰﺍﻚﺍﻠـﻌـﻠﻢﺍﻠﻧﺎﻓـﻊ، ﻮﻋـﻠﻢﻋﻠﻰﺍﻠﻠﺴـﺎﻦ ﻓـﺯﺍﻚ ﺤـﺠـﺔ ﻋـﻠﻰ ﺍﺒـﻦ ﺍﺪ ﻢ
Al-Ilmu Aliman : 
Ilmun Fii Qalbi 
Fazaaka Ilmunnaafi, 
Wa Ilmun Alal’lisaani Fazaaka Hujjattun 
A’la Abni Adam
Anu hartosna : 
“Ari elmu teh aya dua rupa :
1). Elmu dijero ati, 
      saestuna eta teh 
      elmu-elmu anu berguna.
2) Jeung elmu anu ayana 
     dina ucapan, 
     tapi eta mah ngan saukur 
     jadi hujah pikeun turunan 
     bangsa Adam 
    (ngan sakadar 
     ngaramekeun dunya 
     wungkul).
Sabda Rasulullah SAW
ﺒﺴـــﻤ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻢ
ﻠـﻠـﻌﺎ ﻟﻢ ﺜـﻼ ﺜـﺔﻋـﻟـﻮﻢﻋﻠﻢ ﻇﺎﻫـﺮﻴـﺒـﺬ ﻠﻪﻻﺀﻫﻞﺍﻠﻇﺎﻫـﺮﻭﻋـﻠﻢ ﺒـﺎﻄﻦﻻﻴـﻧﺒﻐﻰﺍﻆﻬﺎﺮﻩﺍﻻﻻﻫـﻠﻪ ﻭﻋـﻠﻢ ﺒـﻴـﻧﻪ ﻭﺒـﻴـﻦ ﺍﷲﻻ ﻴـﻇﻬـﺮﻩﻻﺀ ﺤﺪ
LIL ALMI SALASATU ULUUMIN ILMUN DHOHIRUN 
YUBDILUHU LI AHLI DHOHIRI WA ILMU BATHIN LAYAN BAGI I’DHARUHU ILLA LI A’HLIHI WA ILMUN BAINAHU WABAYINALLAHI LAYUDHIRUHU LI A’HADIN
“Ilmu terbagi pada 
3 (tiga) macam :
1. Ilmu Lahir 
    Satemenna eta ilmu teh 
   disampaikeun ka balarea 
   secara umum. 
   (Ilmu Umum)
2. Ilmu Bathin 
    Nyaeta elmu nu teu 
    sakuduna disampaikeun 
    secara luas kecuali 
    ka ahlina 
   (nu boga minat pikeun 
    mempelajarina) 
    (Ilmu Khusus)
3. Ilmu Antarana 
   Jeung Allah 
   Nyaeta elmu nu teu 
   salayakna disampaikeun 
   ka sing saha wae oge. 

(Ilmu Khusus bil Khusus pikeun dirina sorangan) Maksudna : 
Sagala hal anu nyangkut peristiwa/kajadian 
anu di alaman 
nyaeta kaayaan nu bersifat pribadi /individual 
nu dikehendaki ku Allah, berfungsi sebagai suatu “Rahasiah tersembunyi” mung ukur dikanyahokeun antara Sipelaku (Diri Pribadi) sareng Allah Swt. 

terus lamun urang nyebarkan 
elmu rahasiah ketuhanan eta, 
pikeun disampaikan secara meluas ka umum, 
loba kamungkinan bakal ngadatangkeun fitnah, tuduhan-tuduhan negatif, atau bisa nimbulkan parasaan `Ujub 
(ngarasa hebat sorangan) 
nu akibatna bisa ngancurkeun kana nilai-nilai elmu pamanggihna.
[11/3 14:46] Aing: Jadi nurutkeun hal eta diluhur, hal ieu didasarkeun kana Hadist Rasulullah 
anu unggeulna 
“ ALA QADRI UQULLIHIM” 
(Sapanjang ukuran akal maranehna anu nuntut).

Anu dimaksud tina kalimah diluhur eta, 
nyaeta 
nu geus nyampai kana syarat-syarat tertentu :
1. Geus mapan tina 
    Syariat jeung Thoriqatna.
2. Kudu geus manjing umur 
    antawis umur 40 Tahun 
    ka luhur, karna usia eta 
    tos dianggap stabil
3. Teu terlalu terikat jeung 
     urusan dunia.

Dengan tiga syarat ini 
akan lebih mencapai tujuan. Adapun pendapat lain bahwa pengertian 
“ Ala Qadri ‘Uqulihim” itu ialah
a) ada minat yang kuat 
    untuk menuntut,
b) sudah memahami secara 
     keseluruhan pokok-pokok 
     ajaran islam/iman, dan
c) usia dewasa dan memiliki 
     kecerdasan yang 
     memadai untuk 
     memahami hal-hal yang 
     ghaib.

Bila seseorang yang hendak menuntut, memiliki minat/keinginan yang kuat yang bukan ikut-ikutan orang, bukan dibuat-buat, kegairahan yang tinggi, maka hal tersebut sudah merupakan 
NUR (Hidayah) 
dari Allah SWT. 

Syarat yang kedua, 
sebagai seorang yang 
sudah dewasa tentu mengerti dan melaksanakan shalat, puasa, 
ada pengertian tentang 
sifat dua puluh 
meskipun tidak rinci. 

Penyampaian ilmu 
tidak kepada anak-anak dibawah umur atau 
orang yang nyata-nyata memiliki ciri-ciri kebebalan. 

Mereka yang berusia dewasa, 
secara umum dapat diperkirakan mampu untuk memahami segala uraian yang diajarkan. 

Dengan tiga syarat tersebut, maka inilah yang dimaksudkan 
“Ahlinya”. 

Pendapat inilah umumnya yang berlaku dikalangan pengajian Tasawuf,
mungkin itu saja keterangan wassalam…
[12/3 14:40] Aing: Jadi nurutkeun hal eta diluhur, hal ieu didasarkeun kana Hadist Rasulullah 
anu unggeulna 
“ ALA QADRI UQULLIHIM” 
(Sapanjang ukuran 
akal maranehna anu nuntut).

Anu dimaksud tina kalimah diluhur eta, 
nyaeta nu geus nyampai kana syarat-syarat tertentu :
1. Geus mapan tina 
    Syariat jeung Thoriqatna.
2. Kudu geus manjing umur 
    antawis umur 40 Tahun 
    ka luhur, karna usia eta 
    tos dianggap stabil
3. Teu terlalu terikat ejeung 
     urusan dunia.

Dengan tiga syarat ini 
akan lebih mencapai tujuan. Adapun pendapat lain bahwa pengertian 
“ Ala Qadri ‘Uqulihim” 
itu ialah
a) ada minat yang kuat 
    untuk menuntut,
b) sudah memahami secara 
    keseluruhan pokok-pokok 
    ajaran islam/iman, dan
c) usia dewasa dan memiliki 
    kecerdasan yang 
    memadai untuk 
    memahami hal-hal yang 
    ghaib.

Bila seseorang yang hendak menuntut, memiliki minat/keinginan yang kuat yang bukan ikut-ikutan orang, bukan dibuat-buat, kegairahan yang tinggi, maka hal tersebut sudah merupakan NUR (Hidayah) dari Allah SWT. 

Syarat yang kedua, 
sebagai seorang yang sudah dewasa tentu mengerti dan melaksanakan shalat, puasa, ada pengertian tentang 
sifat dua puluh 
meskipun tidak rinci. 

Penyampaian ilmu tidak kepada anak-anak dibawah umur atau orang yang nyata-nyata memiliki ciri-ciri kebebalan. 
Mereka yang berusia dewasa, secara umum dapat diperkirakan mampu untuk memahami segala uraian yang diajarkan. 

Dengan tiga syarat tersebut, maka inilah yang dimaksudkan “Ahlinya”. 

Pendapat inilah umumnya yang berlaku dikalangan pengajian Tasawuf,mungkin itu saja keterangan dari saya haryawanto kurang lebihnya mohon maaf wassalam…