Sehabis tarlaksana tarawihan,aku keluar seperti biasa,dengan mengenakan pakaian hitam sundaku aku menuju kursi duduk,dan ada anak sulung ku yg putri yg sedang di hadapkan dgn ujian rumah tangganya,dan ku sapa.....
Namun ibunya yang tidak ku sapa lantaran sebelum buka puasa ia ku sapa tapi ia bermuka asam serta tidak mau menjawab.
Lalu aku keluar rumah karena ada saudaraku yang sudah duduk di pos ngariung lebih dulu....
Namun tiada berapa lama kudengar pintu kamar dibanting ibunya anak anakku dengan keras.
Tidak lama HP ku ada masuk sms di WA dari ia istriku," enggeusan sia Jeung aing "BAGONG!"
Seperti Sambaran petir di siang hari,begitu halus dan sopannya ia sebagai istriku selama ini.....
Terima kasih atas sanjungannya wahai istriku yang mulia.
Terimakasih!
Senin, 19 Juni 2017
Minggu,18 Juni 2017
Kamis, 15 Juni 2017
Senin, 12 Juni 2017
SENIN,12 JUNI 2917 ( 17 RAMADHAN 1438 H )
Kang Haji Ate bin Dahromi sonten tabuh 21.53 WIB tos mulih ka Jati mulang ka asal.......
Innalilahi wainnailaihi rojiuun.
Rabu, 15 Maret 2017
Senin, 13 Maret 2017
MINGGU,12 MARET 2017 ( KENYATAAN YANG DITUKAR )
Ia hari ini berangkat bersama Tujuh orang teman nya ke gunung Padang di Cempaka Cianjur.
Namun sebelum berangkat,ia berkumpul di rumah Anang menunggu saat untuk pergi,tiba tiba istri Ia menelepon,mengkhabarkan bahwa bapaknya Ia sakit.
Sedangkan anak anak Ia dari yang bungsu dan kakaknya yang lelaki pergi menjenguk kakeknya.
Namun kenyataan nya adalah adik adiknya Ia mendamprat anak bungsu dan anak lelakinya ia,menuding akibat sakitnya bapak ia adalah karena ia.
Dan setelah Ia kembali dari gunung Padang,jam 20.00 WIB,adik nya Ia bernama si Nyimas, si Habib,si Iceu, juga si Euis sepakat memutus hubungan kebaikan dan kekerabatan dengan alasan Ia telah berbuat dan berbicara takabur kepada bapaknya.
Padahal kenyataan di malam Sabtu kemarin ibunya ia lah yang menjadi saksinya.
Jumat, 10 Maret 2017
JUMAT,10 MARET 2017 ( SUNGGUH ANEH )
Hari ini semua tanggung jawab ia sebagai anak tertua dari keluarga yang menyewakan tanah seluas 320 M2 ke satu perusahaan ritel ternama.
Semenjak dari awal ia harus bekerja cepat mulai dari melengkapi semua persyaratan yang di butuhkan hingga membantu kontraktor yang harus membangun gedung toko dari segala kemungkinan yang bisa menghambat kelancaran pembangunan serta kenyamanan dan keamanan para pekerja itu.
Ia bekerja tanpa harus di upah oleh perusahaan tersebut apalagi harus di bayar oleh orang tuanya yang tanahnya di sewa oleh perusahaan ritel ternama tersebut.
Namun buat ia bukan mendapatkan keuntungan baik materi dan juga rasa terima kasih dari orang tuanya,malah kenyataannya dari uang yang sesungguhnya ia tidak punya harus rugi,mulai dari penebangan pohon di lokasi untuk membangun gedung ritel tersebut,ia harus membayar karena orang tuanya merasa bahwa pohon yang seharusnya bisa di tebang malah dilarang dan memarahi pembeli kayu.
Akhirnya ia harus menengahi dan membayar pohon milik orang tuanya sendiri dan kayunya di berikan kepada pembeli.
Sementara ia di marahi oleh orang tuanya sendiri tanpa ada alasan.
Namun buat ia tak jadi soal,yang terpenting orang tuanya senang dan tidak mengganggu pikirannya.
Padahal jika pohon pohon kayu tersebut tidak ditebang sejak awal yang bakal repot adalah orang tuanya ia dan pastinya ia pula yang akan kena dampaknya,pasti.
Dan di hari ini bersamaan pembukaan perusahaan ritel tersebut,ia merasa tak mengerti sekali dan heran dengan sikap orang tuanya.
Tepatnya sekitar jam 20.00 WIB , ia menemui orang tua nya untuk memberikan SPPT tanah milik orang tuanya yang berasal dari warisan .
Dan SPPT tanah milik orang tuanya ia tersebut yang mengurus surat keterangan waris serta yang mengurus penerbitan SPPT nya adalah ia,karena ia merasa hal ini adalah penting,walaupun sebenarnya orang tua ia tidak peduli dengan fungsi dan gunanya surat surat keterangan tanah tersebut.
Dan sesungguhnya pajak tanah tersebut semenjak dua tahun yang lalu tidak dibayar entah apa alasannya.
Namun setelah terjadi kesepakatan dengan perusahaan ritel ternama itu,pajak tanah tersebut dibayar di tahun ini saja,dan ia lah yang mengurus nya pula,ini karena ia adalah seorang anak yang harus bekerja walau ujungnya hanya dampratan dan kemarahan orang tua yang harus di terima sebagai balasannya.
Dan malam ini ia begitu merasa heran dan aneh dengan sikap orang tuanya,padahal ia datang hanya untuk menyampaikan bahwa SPPT yang sesuai dengan surat keterangan waris,sesuai dengan isi perjanjian sewa dengan perusahaan ritel adalah yang ini ia berikan dari petugas pajak.
Namun orang tua ia malah marah sekali,dua kali telunjuknya hampir mencolok mata ia,kata katanya begitu kasar,serta menuding ia sebagai seorang manusia yang jahat,bukan lagi seorang anak,ia dianggap penjahat yang selalu merugikan ibunya sendiri,dan dianggap seorang anak durhaka yang selalu memohonkan serta menghujat bapaknya sendiri.
Ia merasa aneh dan heran,sampai kerongkongan terasa kering,lutut lemas tak bertenaga,sungguh heran dan aneh.
Ia terus teringat dengan dampratan orang tuanya," Kepala Desa yang saat ini serta semua petugas desa di tuding mempermainkan nya.....".
Ia bukan membela para petugas Desa,tapi kurang bijaksana jika orang tua ia harus menuding para petugas desa dengan kata kata kasar walaupun di hadapan anak sendiri yang bukan petugas Desa.
Dan dampratan terakhir sebelum ia pamit mundur diri adalah," Hai...Apakah Kubakar saja ini SPPT?"
Ia dengan pikiran heran menjawab," terserah itu milik bapak....". Dan dalam pikiran ia, heran dengan bapak,emang SPPT hasil cetakan sendiri.
Sedih,sakit,heran serta aneh....
.....
Minggu, 29 Januari 2017
AHAD,29 JANUARI 2017
Kisah nyata yang terjadi ini adalah sebuah pelajaran yang perlu di tafakkuri khususnya bagi Aji Rasha yang langsung menyaksikan dan bagi yang membaca khususnya.
Keluarga dari seorang kakek tua berumur 80 tahunan saat itu sedang mendapat anugrah dari Yang Maha Kuasa dimana dari tanah miliknya yang masih di isi pepohonan di kontrak oleh sebuah perusahan ritel.
Sebelum di bangun oleh perusahaan ritel pepohonannya harus di tebang oleh kakek tua dengan cara di jual kepada pengusaha kayu.
Dan dibelilah oleh seseorang pengusaha kayu teman lama salah seorang anak kakek tua tersebut.
Setelah Tiga hari ditebang dan akan menebang pohon yang masih berdiri dan di tandai,kakek tua itu melarang ditebang dengan alasan dua pohon tersebut tidak di jual.
Sang pengusaha kayu menjadi bingung lalu mengadu kepada anak kakek tua.
Anak kakek tua pun menjadi bingung,dan ia pun ingat dimana saat ijab kabulnya kemarin kakek tua dan pengusaha telah sepakat,tapi sekarang berubah.
Lalu anak kakek tua itupun menengahi agar sang kakek tua tidak salah paham dan sang pengusaha kayu tidak merasa tertipu.
Dimana anak sang kakek tua membantu membayar Tiga pohon kayu yang menurut kakek tua tidak terjual,padahal ada tanda terjual.
Akhirnya sepakat,namun yang jadi permasalahan adalah kenapa kesepakatan ijab kabul itu bisa berubah untuk seorang kakek tua yang mana kesehariannya selalu membaca kitab fiqih.
Jika seorang kakek tua adalah seorang awam dan penipu boleh jadi,atau karena usia tua ?
Bingung untuk Aji Rasha dengan kejadian ini dan hanya Alloh lah yang kuasa memberi jawaban ini atau pendapat dari para pembaca...